Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) resmi menunjuk John Herdman sebagai pelatih baru Tim Nasional Indonesia pada Sabtu, 3 Januari 2026. Penunjukan ini menandai babak baru arah pembangunan sepak bola nasional, bukan semata pergantian figur di kursi pelatih, melainkan pergeseran paradigma tentang bagaimana prestasi dibangun.
Bagi PSSI, Herdman bukan hanya pelatih dengan portofolio internasional. Ia dipilih karena latar hidup dan pendekatan kepemimpinannya yang mencerminkan daya tahan, kerja sistematis, serta kemampuan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, sebagai sebuah kualitas yang relevan dengan realitas sepak bola Indonesia.
Herdman tumbuh di Consett, kawasan industri di timur laut Inggris, dalam keluarga pekerja pabrik baja. Lingkungan keras itu membentuk pandangannya tentang disiplin, solidaritas, dan kepercayaan pada proses. Nilai-nilai tersebut kelak menjadi fondasi filosofi kepelatihannya: membangun tim bukan dari nama besar, tetapi dari kepercayaan dan kerja kolektif.
Kariernya pun dimulai jauh dari sorotan. Ia mengajar paruh waktu sambil melatih tim usia muda sebelum mengambil keputusan besar pada 2001: meninggalkan Inggris dan memulai hidup baru di Selandia Baru bersama istrinya, Clare. Dukungan keluarga, termasuk dua anak mereka, menjadi penopang dalam perjalanan panjang yang penuh risiko, namun sarat pembelajaran.
Dari jalur yang tak lazim itu, Herdman mencatatkan sejarah. Ia menjadi satu-satunya pelatih yang mampu membawa tim nasional putra dan putri dari satu negara tampil di Piala Dunia. Bersama Kanada, ia tidak hanya mengejar hasil instan, tetapi membangun ekosistem sepak bola yang berkelanjutan, melahirkan generasi baru pemain, termasuk Alphonso Davies.
Keputusan Herdman menerima tawaran Indonesia dinilai sebagai langkah berani. Di tengah minat dari sejumlah negara lain, ia justru memilih tantangan di Asia Tenggara, wilayah dengan gairah sepak bola tinggi, tetapi juga kompleksitas struktural yang besar. Bagi Herdman, Indonesia bukan sekadar proyek kompetitif, melainkan ruang transformasi.
Ia melihat sepak bola Indonesia sebagai kekuatan sosial dan kultural yang belum sepenuhnya diolah. Antusiasme publik, basis pemain muda yang luas, serta kerinduan panjang akan prestasi internasional menjadi modal utama yang, menurutnya, membutuhkan arah dan konsistensi.
Sebagai pelatih, Herdman dikenal dengan pendekatan “One Team”, sebuah konsep yang menyatukan pengembangan pemain dari level akar rumput hingga tim nasional. Pendekatan ini menekankan kesinambungan sistem, kesamaan nilai, dan rasa kepemilikan bersama, sebagai sebuah konsep yang dinilai selaras dengan keragaman latar belakang pemain Indonesia.
Ia juga menegaskan komitmennya pada identitas lokal. Herdman menyatakan tidak datang untuk membawa cetak biru asing, melainkan untuk menggali karakter sepak bola Indonesia dan menguatkannya. Dalam visinya, seluruh pemain, baik lokal maupun naturalisasi, harus merasa setara, dihargai, dan terikat pada tujuan bersama.
Dengan Herdman, PSSI tampaknya tidak hanya berharap pada kemenangan jangka pendek, tetapi pada terbentuknya fondasi yang lebih kokoh. Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Namun, pilihan ini mengirimkan pesan jelas: sepak bola Indonesia sedang mencoba tumbuh melalui proses, bukan sekadar hasil. (Red)