Persib Hattrick Juara, Borneo FC Menggugat: Polemik Regulasi Super League Indonesia

Di tengah gegap gempita ribuan bobotoh yang memenuhi jalanan Bandung merayakan keberhasilan Persib...

Persib Hattrick Juara, Borneo FC Menggugat: Polemik Regulasi Super League Indonesia

Sports
24 Mei 2026
1243 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Persib Hattrick Juara, Borneo FC Menggugat: Polemik Regulasi Super League Indonesia

Di tengah gegap gempita ribuan bobotoh yang memenuhi jalanan Bandung merayakan keberhasilan Persib Bandung meraih hattrick juara Super League 2025/2026, perdebatan kembali muncul dari luar arena perayaan. Suasana pasca-laga imbang 0-0 melawan Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) seolah mengukuhkan dominasi tim Pangeran Biru di puncak sepak bola nasional selama tiga musim berturut-turut. Namun, di balik riuhnya kembang api dan konvoi kendaraan yang putih membiru, atmosfer kompetisi menyisakan riak yang tak sepenuhnya tenang. Sebagian pengamat dan pendukung Borneo FC Samarinda menilai tim berjuluk Pesut Etam lebih layak menjadi juara karena memiliki produktivitas gol yang lebih tinggi sepanjang musim.

Jika menilik papan klasemen akhir musim, Borneo FC memang tampil luar biasa agresif dengan melesakkan 74 gol dan surplus perbedaan gol mencapai +43, berbanding terbalik dengan Persib yang mengemas 59 gol dengan surplus +37. Kedalaman lini serang Pesut Etam yang begitu cair menjadi momok menakutkan bagi hampir seluruh kontestan liga. Tetapi hukum tertulis di lapangan hijau memiliki jalurnya sendiri. Regulasi kompetisi menempatkan Persib di puncak klasemen karena unggul head to head atas Borneo FC. Keunggulan mutlak itu diraih berkat kemenangan krusial Pangeran Biru 3-1 di Bandung pada putaran pertama, serta keberhasilan menahan imbang Borneo FC 1-1 saat melawat ke Stadion Batakan pada putaran kedua. Ketika drama panjang 34 pertandingan berakhir dengan poin yang persis sama, yakni 79 poin, benturan dua mazhab penilaian kembali mengemuka. Polemik kembali memantik diskusi lama atas sistem penentuan juara Liga Indonesia apakah sudah benar-benar mencerminkan keadilan kompetisi.

Bagi sebagian pendukung Persib, kritik tersebut terasa seperti gangguan di tengah pesta kemenangan. Mereka memandang bahwa piala yang kini bersemayam di Bandung bukan diraih lewat belas kasihan panitia, melainkan lewat darah, keringat, dan ketabahan mental yang diuji hingga detik terakhir. Keberhasilan ini juga melahirkan cerita emosional yang mendalam di internal tim. Sang kapten, Marc Klok, sempat memberikan pidato membakar semangat di ruang ganti yang mendedikasikan perjuangan mereka untuk pelatih Bojan Hodak yang tetap mendampingi tim secara profesional meski ibunya sedang sakit, sekaligus demi 50 juta masyarakat Jawa Barat yang menggantungkan harapan pada pundak mereka. Setelah menjalani musim panjang dengan tekanan tinggi, keberhasilan mempertahankan gelar dianggap sebagai buah konsistensi, bukan sekadar keberuntungan regulasi. Terlebih, aturan head to head bukan keputusan mendadak, melainkan telah ditetapkan sejak awal kompetisi dimulai. Semua klub telah membubuhkan tanda tangan persetujuan jauh sebelum sepak mula pertama ditiupkan.

Oleh karena itu, argumen yang menyebut adanya aspek "kebetulan" dalam kemenangan ini secara matematis runtuh oleh ketetapan legal formal. Dalam regulasi Super League, jika dua tim memiliki poin yang sama, maka penentuan posisi klasemen lebih dahulu melihat hasil pertemuan langsung atau head to head. Selisih gol baru digunakan apabila catatan pertemuan kedua tim masih seimbang. Sistem ini berbeda dengan beberapa liga lain yang langsung menggunakan produktivitas atau selisih gol sebagai penentu utama. Di Indonesia, rantai hierarki regulasi ini sengaja disusun sedemikian rupa untuk menciptakan indikator keadilan yang dianggap paling adekuat dalam iklim sepak bola domestik.

Pendukung sistem head to head menilai aturan tersebut lebih menekankan kualitas duel langsung antartim. Logikanya sederhana, jika tim ingin mengklaim diri sebagai yang terbaik harus mampu menundukkan rival terdekatnya dalam pertempuran taktis yang setara, bukan sekadar mengandalkan tabungan gol dari tim-tim bawah. Dalam konteks sepak bola Indonesia yang masih terus berbenah, pendekatan ini dianggap mampu meminimalkan potensi praktik sepakbola gajah atau cara “memburu gol besar” ke gawang tim lemah demi memperbaiki klasemen. Pendekatan sosiologis dan historis kompetisi kita menunjukkan bahwa margin skor yang terlalu mencolok di akhir-akhir musim sering mengundang kecurigaan publik terkait integritas pertandingan.

Pengamat sepak bola Indonesia, misalnya, menilai bahwa head to head memberi tekanan agar tim tampil maksimal saat menghadapi rival terdekatnya, bukan hanya agresif ketika bertemu tim papan bawah. Hal ini memaksa para pelatih untuk memperlakukan laga big match sebagai partai hidup mati yang sangat menentukan. Dalam beberapa kesempatan diskusi sepak bola nasional, pandangan ini kerap muncul sebagai bentuk upaya menjaga sportivitas kompetisi. Melalui aturan ini, tensi pertandingan papan atas tetap terjaga tinggi, dan nilai jual kompetisi di mata pemegang hak siar serta sponsor pun meningkat karena setiap detail gol dalam laga head-to-head memiliki bobot yang teramat masif.

“Kalau hanya mengandalkan selisih gol, ada risiko tim berlomba mencetak gol sebanyak mungkin ke tim yang kualitasnya jauh di bawah. Itu bisa menciptakan ketimpangan kompetisi,” ujar salah satu analis sepak bola nasional dalam forum diskusi Liga Indonesia beberapa waktu lalu. Lebih jauh lagi, ketergantungan pada aspek selisih gol dikhawatirkan dapat memicu degradasi motivasi bagi tim-tim papan bawah yang sudah dipastikan terdegradasi, membuat mereka rentan menjadi lumbung gol di sisa musim kompetisi.

Namun di sisi lain, kelompok yang mengkritik aturan tersebut juga memiliki argumen kuat. Mereka melihat sepak bola sebagai sebuah maraton sepanjang 34 pekan, di mana konsistensi mencetak gol di setiap stadion, dalam cuaca apa pun, dan melawan taktik bertahan serapat apa pun, adalah bentuk supremasi yang sesungguhnya. Mereka menilai produktivitas gol selama satu musim mencerminkan performa tim secara menyeluruh, bukan hanya hasil dua pertandingan. Borneo FC, misalnya, dianggap tampil lebih agresif dan konsisten dalam membangun serangan sepanjang musim. Kegagalan mengeksekusi poin penuh dalam dua laga melawan Persib dianggap tidak seharusnya menegasikan dominasi luar biasa yang ditunjukkan Pesut Etam di 32 pertandingan lainnya.

Sentimen kekecewaan ini tentu sangat dipahami, mengingat kerja keras kolektif yang telah dipertontonkan anak-asuh Pieter Huistra sepanjang tahun. Sebagian pendukung Pesut Etam bahkan menyebut sistem selisih gol lebih adil karena menghargai performa kolektif selama kompetisi berlangsung. Mereka beranggapan bahwa dominasi permainan seharusnya tercermin dari jumlah gol yang berhasil dicetak dan efektivitas tim sepanjang musim. Bagi mereka, sebuah tim yang mampu menang dengan skor mencolok berulang kali menunjukkan tingkat kebugaran, kedalaman skuad, dan ketajaman strategi yang jauh lebih matang secara keseluruhan.

Perdebatan semacam ini sebenarnya bukan hal baru dalam sepak bola dunia. Dunia internasional pun terbelah dalam mengadopsi standar penentuan ini, membuktikan bahwa sains sepak bola tidak pernah tunggal. Beberapa liga top Eropa memang menggunakan sistem head to head sebagai penentu utama jika poin sama, seperti La Liga di Spanyol, Serie A di Italia, dan Primeira Liga di Portugal. Sementara itu, Premier League mengutamakan selisih gol sebelum head to head. Di Inggris, agresivitas gol dipandang sebagai hiburan tertinggi bagi penonton, sedangkan di Spanyol dan Italia, aspek taktis dan hasil duel langsung dianggap sebagai cerminan tertinggi dari mentalitas juara.

Artinya, tidak ada satu sistem yang benar-benar dianggap paling sempurna. Setiap otoritas liga di berbagai belahan dunia memiliki falsafah dan latar belakang tersendiri dalam merumuskan pasal demi pasal di buku regulasi mereka. Setiap liga memilih regulasi berdasarkan karakter kompetisi, kultur sepak bola, hingga tingkat kematangan ekosistemnya.

Dalam konteks Indonesia, penerapan head to head bisa dipahami sebagai upaya membangun kompetisi yang lebih sehat dan kompetitif. Faktor geografis yang luas, kelelahan perjalanan, hingga disparitas infrastruktur antar-stadion menjadi variabel unik yang tidak dimiliki oleh liga-liga di Eropa. Liga Indonesia selama bertahun-tahun masih menghadapi persoalan disparitas kualitas tim, kestabilan finansial klub, hingga isu integritas pertandingan. Karena itu, regulasi yang mengurangi peluang manipulasi selisih gol dianggap lebih aman diterapkan. Otoritas liga tampaknya memilih jalan yang paling minim risiko demi menjaga marwah kompetisi agar terhindar dari isu-isu non-teknis yang dapat merusak citra sepak bola nasional di mata internasional.

Meski demikian, polemik Persib dan Borneo menunjukkan bahwa sepak bola tidak pernah hanya bicara soal aturan. Di balik angka-angka statistik, skema taktis, dan lembaran regulasi hitam di atas putih, terdapat denyut nadi kemanusiaan yang tak bisa diabaikan. Di dalamnya ada emosi, loyalitas, dan rasa memiliki yang membuat setiap keputusan selalu menyisakan ruang perdebatan. Tragedi, air mata, tawa, dan rasa ketidakadilan adalah bumbu yang justru membuat olahraga ini begitu dicintai sekaligus dibenci di saat yang bersamaan.

Sepak bola memang seringkali memperlihatkan satu kenyataan sederhana bahwa kemenangan tidak selalu memuaskan semua pihak. Lapangan hijau adalah cermin kehidupan yang jujur sekaligus kejam, di mana keadilan sering didefinisikan secara berbeda tergantung dari sudut tribun mana kita berdiri. Ada yang melihat juara dari jumlah gol, ada yang menilainya dari duel langsung, dan ada pula yang percaya bahwa juara sejati adalah tim yang mampu bertahan menghadapi tekanan sepanjang musim.

Persib sudah tercatat sebagai juara dalam dokumen resmi kompetisi. Trofi emas ketiga secara beruntun itu kini telah sah berada di lemari piala mereka di Bandung. Namun perdebatan tentang siapa yang paling layak mungkin akan terus hidup di tribun, warung kopi, dan media sosial. Di situlah sepak bola menemukan denyutnya, yang bukan sekadar tentang angka di klasemen, melainkan tentang cara manusia memaknai kemenangan, keadilan, dan kebanggaan. Melalui benturan gagasan inilah kita disadarkan bahwa keindahan sepak bola tidak berhenti saat peluit panjang ditiupkan, melainkan terus mengalir dalam narasi dan ingatan kolektif yang kita rawat bersama. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll