Jumlah korban meninggal dunia akibat dua gempa bumi yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026 terus bertambah. Hingga Jumat (3/7/2026), pemerintah melaporkan sedikitnya 2.645 orang tewas, 12.666 orang terluka, ribuan lainnya berhasil diselamatkan, sementara puluhan ribu keluarga masih bergantung pada bantuan kemanusiaan. Di tengah operasi penyelamatan yang masih berlangsung, respons pemerintah juga menjadi perdebatan karena dinilai sebagian pihak terlalu lambat, meski pemerintah menegaskan telah mengerahkan sumber daya secara maksimal.
Berdasarkan pembaruan yang disampaikan Presiden Majelis Nasional Venezuela, Jorge RodrÃguez, yang juga memimpin pusat komando pengungsian sementara, sebanyak 6.462 orang berhasil dievakuasi, sedangkan 86.117 keluarga telah menerima bantuan darurat berupa makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan kebutuhan pokok lainnya.
RodrÃguez mengatakan kerusakan akibat bencana ini sangat luas. Sedikitnya 885 bangunan mengalami kerusakan, sementara 189 bangunan lainnya runtuh sepenuhnya. Pemerintah juga telah membangun 59 kamp pengungsian sementara untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal.
Selain itu, aktivitas seismik belum sepenuhnya berhenti. Hingga awal Juli, otoritas mencatat 890 gempa susulan, sehingga masyarakat di sejumlah wilayah masih hidup dalam kewaspadaan tinggi terhadap potensi gempa lanjutan. Operasi tanggap darurat melibatkan 3.305 personel penyelamat internasional bersama 29.567 petugas tanggap darurat dari berbagai instansi di Venezuela.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 yang kemudian disusul gempa 7,5 hanya dalam hitungan puluhan detik menjadi salah satu bencana paling mematikan yang pernah dialami Venezuela dalam beberapa dekade terakhir. Guncangan kuat yang dipicu aktivitas sesar geser menyebabkan banyak bangunan bertingkat runtuh, terutama di wilayah pesisir utara seperti La Guaira, sekaligus melumpuhkan jaringan listrik, air bersih, telekomunikasi, hingga layanan kesehatan.
Pemerintah Venezuela membantah tudingan bahwa penanganan bencana dilakukan secara lambat. Dalam konferensi persnya, Presiden sementara Delcy RodrÃguez menegaskan bahwa aparat telah bergerak segera setelah gempa terjadi. "Kami mengaktifkan seluruh protokol darurat segera setelah gempa terjadi dan mengerahkan ribuan personel ke wilayah terdampak," kata Delcy RodrÃguez.
Pemerintah juga menyatakan bahwa proses distribusi bantuan sempat terhambat oleh jalan yang tertutup reruntuhan serta kerusakan infrastruktur, bukan karena kurangnya kesiapsiagaan. Namun penjelasan tersebut tidak sepenuhnya meredakan kritik. Sejumlah warga, relawan, dan organisasi kemanusiaan menilai banyak korban justru diselamatkan oleh masyarakat setempat sebelum bantuan resmi tiba. Di sejumlah lokasi, warga dilaporkan menggali reruntuhan dengan peralatan seadanya untuk mencari anggota keluarga yang masih tertimbun.
Tokoh oposisi MarÃa Corina Machado, yang saat ini berada di pengasingan, menyatakan bahwa negara memerlukan respons kemanusiaan yang lebih cepat dan terkoordinasi. "Kehadiran saya penting untuk membantu memimpin pemulihan nasional dan proses rekonstruksi negara," ujar Machado.
Berbagai lembaga internasional juga mengingatkan bahwa tantangan berikutnya bukan hanya penyelamatan korban, tetapi juga mencegah munculnya krisis kesehatan masyarakat akibat pengungsian, keterbatasan air bersih, sanitasi, serta meningkatnya risiko penyebaran penyakit menular.
Bencana ini kembali menunjukkan bahwa kekuatan alam sering menguji bukan hanya ketahanan infrastruktur, tetapi juga kapasitas tata kelola pemerintahan dalam merespons keadaan darurat. Di tengah perdebatan mengenai cepat atau lambatnya respons pemerintah, satu hal yang tidak terbantahkan adalah besarnya penderitaan masyarakat yang kehilangan keluarga, rumah, dan mata pencaharian.
Ketika sorotan publik perlahan bergeser ke isu-isu lain, pekerjaan terbesar justru baru dimulai. Rekonstruksi fisik mungkin dapat diselesaikan dalam hitungan tahun, tetapi memulihkan rasa aman, membangun kembali kepercayaan publik, serta memastikan setiap korban memperoleh perlindungan yang layak akan menjadi tantangan yang jauh lebih panjang.
Tragedi Venezuela menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak hanya diukur dari banyaknya personel yang dikerahkan setelah gempa terjadi, melainkan juga dari seberapa kuat sebuah negara membangun sistem mitigasi, standar bangunan yang aman, serta tata kelola yang mampu melindungi warganya sebelum bencana datang. (Red)