Piala Dunia 2026 Mulai Memakan Korban, Haiti, Turki dan Tunisia Dipastikan Angkat Koper

Peta persaingan Piala Dunia 2026 mulai memperlihatkan kontur yang lebih jelas. Hingga 20 Juni 2026,...

Piala Dunia 2026 Mulai Memakan Korban, Haiti, Turki dan Tunisia Dipastikan Angkat Koper

Sports
23 Jun 2026
157 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Piala Dunia 2026 Mulai Memakan Korban, Haiti, Turki dan Tunisia Dipastikan Angkat Koper

Peta persaingan Piala Dunia 2026 mulai memperlihatkan kontur yang lebih jelas. Hingga 20 Juni 2026, Haiti dan Turki menjadi dua negara pertama yang dipastikan tersingkir dari turnamen setelah sama-sama menelan dua kekalahan beruntun di fase grup. Turki dipastikan angkat koper usai kalah 0-1 dari Paraguay di Grup D di Stadion San Francisco Bay Area, sementara Haiti kehilangan peluang lolos setelah takluk 0-3 dari Brasil pada laga kedua Grup C. Dengan nol poin dari dua pertandingan, kedua tim tak lagi memiliki peluang mengejar para pesaing mereka menuju fase gugur.

Tersingkirnya Turki dan Haiti menghadirkan kisah berbeda tentang bagaimana Piala Dunia yang kini diikuti 48 negara tetap menyisakan kenyataan bahwa tak semua mimpi mampu bertahan hingga babak berikutnya. Turki yang sebenarnya datang ke Piala Dunia 2026 dengan optimisme tinggi, dengan generasi yang diperkuat Arda Guler dan dipoles pelatih Vincenzo Montella sempat dianggap sebagai salah satu tim kuda hitam turnamen.

Namun, harapan itu perlahan runtuh. Saat menghadapi Paraguay pada pertandingan kedua Grup D, Turki bahkan sudah tertinggal ketika laga baru berjalan 64 detik. Gelandang Paraguay Matias Galarza melepaskan tembakan dari luar kotak penalti yang tak mampu dihentikan Ugurcan Cakir. Gol tersebut menjadi gol tercepat di Piala Dunia 2026 sejauh ini. 

Turki sebenarnya mendominasi pertandingan. Setelah Miguel Almiron mendapat kartu merah dan Paraguay harus bermain dengan 10 orang, Turki terus menekan. Namun, dominasi penguasaan bola dan banyaknya peluang gagal dikonversi menjadi gol. Reuters mencatat Turki bahkan melepaskan total 62 tembakan dalam dua laga pertama, tetapi belum sekalipun berhasil menjebol gawang lawan. 

Statistik itu menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah Piala Dunia modern. Kekecewaan para pemain pun terlihat jelas selepas pertandingan. Gelandang muda Arda Guler mengungkapkan suasana ruang ganti timnya. "Everybody's crying," kata Arda Guler kepada Reuters usai pertandingan. Sementara pelatih Paraguay, Gustavo Alfaro, justru memuji daya juang para pemainnya yang mampu mempertahankan keunggulan meski bermain dengan 10 orang.

Selanjutnya, Haiti menjadi negara kedua yang dipastikan gagal melaju ke fase gugur. Tim asal Karibia itu membuka turnamen dengan kekalahan tipis 0-1 dari Skotlandia. Pada pertandingan kedua, mereka kembali takluk 0-3 dari Brasil yang tampil lebih efektif memanfaatkan peluang. Meski masih menyisakan laga melawan Maroko, posisi Haiti sudah tak mungkin lagi mengejar perolehan poin para pesaingnya.

Meski gagal, penampilan Haiti tidak sepenuhnya buruk. Dalam laga melawan Skotlandia, mereka beberapa kali mampu merepotkan lawan dan mendapat apresiasi dari sejumlah pengamat karena keberanian bermain terbuka. Bagi Haiti, tampil di Piala Dunia 2026 sendiri sudah menjadi sejarah, mengingat terakhir kali mereka hadir di panggung dunia terjadi pada 1974.

Selanjutnya berdasarkan data terbaru, Tunisia menyusul Haiti dan Turki sebagai negara ketiga yang dipastikan tersingkir dari Piala Dunia 2026. Tim asal Afrika Utara itu gagal meraih poin setelah menelan dua kekalahan telak di Grup F, yakni kalah 1-5 dari Swedia pada laga pembuka dan dibantai Jepang 0-4 pada pertandingan kedua. Hasil tersebut membuat Tunisia tidak lagi memiliki peluang mengejar para pesaingnya, meski masih menyisakan satu laga melawan Belanda. 

Situasi Tunisia bahkan diwarnai gejolak internal. Federasi sepak bola Tunisia memecat pelatih Sabri Lamouchi setelah kekalahan pertama dan menunjuk Herve Renard di tengah turnamen. Namun, pergantian pelatih tersebut belum mampu mengubah nasib tim. Renard sendiri menegaskan bahwa timnya tetap akan bermain demi harga diri negara pada laga terakhir. 

Bertambahnya peserta menjadi 48 negara membuat lebih banyak tim mendapat kesempatan tampil di Piala Dunia. Pendukung format baru menilai kebijakan FIFA memberi ruang bagi negara-negara berkembang untuk merasakan atmosfer kompetisi terbesar dunia.

Namun para pengkritik menilai kualitas pertandingan bisa menjadi timpang. Kekalahan beruntun yang dialami Haiti dan Turki dianggap sebagai bukti bahwa sebagian tim masih kesulitan bersaing dengan level elite dunia. Dengan kehadiran negara-negara yang sebelumnya jarang tampil juga memberi warna baru bagi turnamen. Kisah Haiti, misalnya, menunjukkan bahwa Piala Dunia bukan semata soal siapa yang menjadi juara, tetapi juga tentang negara-negara kecil yang membawa mimpi besar ke panggung internasional.

Piala Dunia menjadi sebuah gambaran bahwa dalam sepak bola, kegagalan seringkali bukanlah akhir, melainkan jeda untuk memulai kembali. Turki yang dipenuhi ekspektasi, tetapi pulang tanpa satu gol pun. Haiti yang datang dengan status underdog juga harus menerima kenyataan pahit lebih awal. Demikian Tunisia yang sarat kontroversi karena mengganti pelatih saat turnamen sedang berlangsung. Tetapi sejarah Piala Dunia selalu mengajarkan tentang ada tim yang pulang membawa kemenangan dan ada pula yang pulang membawa pelajaran. Dan sering kali, pelajaran itulah yang membuat sebuah tim kembali dengan tekad yang lebih besar pada empat tahun berikutnya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll