Menu MBG Bermasalah: Laporkan ke Guru atau Media Sosial?

Dewan Pakar Badan Gizi Nasional (BGN), Ikeu Tanziha, mempertanyakan manfaat bagi murid yang...

Menu MBG Bermasalah: Laporkan ke Guru atau Media Sosial?

Sosbud
24 Des 2025
365 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Menu MBG Bermasalah: Laporkan ke Guru atau Media Sosial?

Dewan Pakar Badan Gizi Nasional (BGN), Ikeu Tanziha, mempertanyakan manfaat bagi murid yang mengunggah keluhan terkait menu Makan Bergizi Gratis (MBG) ke media sosial. Menurut Ikeu, pelaporan masalah melalui media sosial tidak memberikan keuntungan langsung bagi anak, bahkan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap pembentukan karakter.

“Seperti contoh tadi, ada belatung di menu MBG. Apa untungnya buat anak?” ujar Ikeu dalam diskusi mengenai MBG di Ruang Belajar Alex Tilaar, Jakarta Pusat, Selasa, 23 Desember 2025.

Ia menilai, tindakan membagikan temuan buruk di menu MBG ke media sosial justru dapat mencerminkan sikap yang kurang bijak. Ikeu mengaku khawatir kebiasaan tersebut membentuk karakter anak yang tidak terbiasa bersyukur. “Kami takutnya, itu malah membentuk jiwa tidak bersyukur dari anak-anak,” katanya.

Ikeu menekankan, apabila siswa menemukan masalah dalam menu MBG, misalnya makanan yang tidak layak konsumsi, langkah pertama yang seharusnya dilakukan adalah melaporkannya kepada guru di sekolah. Menurut dia, mekanisme internal sekolah memungkinkan masalah ditangani secara cepat dan solutif.

“Kalau ditemukan belatung, sampaikan ke guru. Nanti ada solusi, misalnya makanannya diganti. Selesai. Kalau hanya satu yang bermasalah, kenapa harus di-posting?” ujar Ikeu.

Lebih lanjut, Ikeu juga mengimbau murid, wali murid, maupun masyarakat untuk menyampaikan keluhan langsung kepada pemerintah. Ia menyebut, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menyiapkan sistem pengaduan terpadu agar masyarakat dapat melaporkan persoalan MBG secara langsung dan mudah.

“Siapa pun nanti, baik yang punya pulsa maupun tidak, bisa menelepon dan mengadukan. Saat ini memang masih berbayar, tetapi sedang disiapkan agar biaya panggilan itu nantinya ditanggung oleh BGN,” kata Ikeu.

Pernyataan tersebut merespons pandangan Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri. Iman menilai, dalam praktiknya tidak semua murid dan guru memiliki ruang aman untuk menyampaikan kritik atau keluhan terkait pelaksanaan MBG.

“Banyak anak takut untuk posting. Murid ditekan guru, guru ditekan sekolah, dan sekolah mungkin ditekan oleh dinas pendidikan. Sementara dinas pendidikan sendiri tidak jelas siapa yang menekan,” ujar Iman.

Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa persoalan MBG tidak semata soal kualitas makanan, tetapi juga menyangkut budaya pelaporan, relasi kuasa di lingkungan pendidikan, serta ruang aman bagi siswa dan guru untuk menyampaikan kritik. 

Di tengah upaya negara menjamin gizi anak, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa setiap keluhan dapat disampaikan tanpa rasa takut, dan ditangani secara transparan serta bertanggung jawab. (Sal)

Share :

Perspektif

Scroll