Prabowo: Bangsa Indonesia adalah Bangsa Paling Bahagia dan Paling Berkembang di Dunia

Dalam pidato khususnya di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss pada 22 Januari 2026, Presiden...

Prabowo: Bangsa Indonesia adalah Bangsa Paling Bahagia dan Paling Berkembang di Dunia

Sosbud
23 Jan 2026
407 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Prabowo: Bangsa Indonesia adalah Bangsa Paling Bahagia dan Paling Berkembang di Dunia

Dalam pidato khususnya di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss pada 22 Januari 2026, Presiden Prabowo Subianto mengangkat klaim yang mengejutkan dan penuh nuansa tentang kondisi bangsa Indonesia. Berdasarkan survei internasional yang dikutipnya, Indonesia disebut sebagai negara dengan masyarakat paling bahagia dan paling berkembang di dunia. Sebuah capaian yang menurutnya istimewa, meski menyatakan sarat paradoksnya.

Survei yang dimaksud Presiden merupakan hasil dari Global Flourishing Study (GFS). Sebuah kajian kolaboratif oleh Harvard University, Baylor University, Gallup, dan Center for Open Science, yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Mental Health pada 30 April 2025. Studi ini melibatkan sekitar lebih dari 202.000 responden dari 22 negara, dengan indikator penilaian yang mencakup kebahagiaan, kesehatan fisik dan mental, makna hidup, karakter, relasi sosial, serta stabilitas finansial. 

Menurut hasil studi tersebut, Indonesia menempati peringkat pertama dalam indeks “flourishing”, di atas negara-negara yang secara ekonomi lebih maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa lainnya. Indeks ini mengukur bukan sekadar kekayaan, tetapi kesejahteraan menyeluruh yang mencakup hubungan sosial, makna hidup, serta optimisme responden terhadap masa depan mereka. 

Dalam pidatonya yang disampaikan dalam bahasa Inggris, Prabowo tampak terkesan sekaligus berkontemplasi mengenai hasil temuan itu. Ia mengatakan, “Gallup Poll dan Harvard University menemukan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa paling bahagia dan paling berkembang di dunia.” Namun, Presiden juga menyatakan bahwa klaim itu “sedikit membesarkan hati, tetapi bagi saya juga sedikit menyedihkan”, mengingat realitas sosial di tanah air yang masih diwarnai kesenjangan dan kemiskinan. 

Prabowo memberi contoh kondisi kehidupan sebagian masyarakat Indonesia: tinggal di gubuk, kurangnya akses air bersih, tidak memiliki kamar mandi layak, serta pola konsumsi sederhana. “Namun mereka tersenyum. Dan mereka punya harapan,” ujarnya, menggarisbawahi dualitas antara data statistik dan pengalaman hidup sehari-hari. 

Selain mengutip hasil studi GFS, Prabowo tak lupa menempatkannya dalam kerangka kebijakan nasional yang lebih luas. Ia menegaskan komitmennya untuk mengatasi kemiskinan ekstrem yang menurutnya telah turun ke tingkat terendah dalam sejarah Indonesia, dan menargetkan swasembada pangan untuk komoditas utama lain seperti jagung, gula, dan protein hewani dalam empat tahun ke depan. 

Pidato ini berlangsung sekitar 40 menit, di hadapan pemimpin dunia dan tokoh internasional lainnya seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden AS Donald Trump, dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng, yang sama-sama berbicara dalam forum yang mengangkat tema “A Spirit of Dialogue”. 

Temuan Global Flourishing Study tidak serta-merta berarti Indonesia sudah unggul dalam semua dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak negara berpendapatan tinggi tertinggal dalam beberapa domain yang dinilai oleh indeks flourishing, seperti relasi sosial dan makna hidup sebagai faktor yang justru menjadi keunggulan relatif masyarakat Indonesia dalam studi ini. 

Dengan demikian, klaim “paling bahagia” atau “paling berkembang” bukan hanya soal statistik akademis, tetapi refleksi atas nilai sosial dan budaya yang hidup di masyarakat. Meski demikian, data tersebut juga membuka ruang diskusi lebih luas tentang kesejahteraan: apakah makna hidup dan hubungan sosial yang kuat bisa lebih menentukan kebahagiaan daripada ukuran ekonomi semata?

Klaim kebahagiaan tertinggi dan masyarakat paling berkembang adalah cerminan kompleksitas pengalaman sosial dan emosional di Indonesia. Data akademis tersebut sisi lain dapat membuka perspektif baru tentang kesejahteraan, yang menembus batasan statistik ekonomi tradisional. Di saat yang sama, realitas kesenjangan sosial yang masih ada mengingatkan bahwa keberhasilan sejati sebuah bangsa harus diukur dari kualitas hidup warganya secara menyeluruh, bukan sekadar angka dalam indeks pengukuran yang berjarak dengan realitasnya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll