Kenduri Cinta pada Jumat, 12 November 2015, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, mengangkat tema “Kegembiraan Bersedekah Maiyah kepada Indonesia.” Ribuan orang hadir malam itu, duduk bersila dalam ketakziman, menyimak tuturan Emha Ainun Nadjib, yang dulu akrab disapa Cak Nun, dan kini lebih sering dipanggil Mbah Nun, seiring usia yang kian sepuh, baik usia beliau maupun usia Kenduri Cinta itu sendiri.
Sejak pertama kali digelar pada Jumat, 9 Juni 2000, Kenduri Cinta mengusung semboyan sinau bareng—belajar bersama. Ia berlangsung rutin setiap Jumat pekan kedua setiap bulan. Bukan agenda negara, bukan pula proyek kekuasaan. Namun dari ruang nonformal itulah, ribuan orang dari berbagai latar sosial berkumpul: pejabat dan rakyat biasa, intelektual ternama maupun yang tak dikenal, duduk sejajar untuk berbagi pikiran.
Mereka datang untuk merembuk persoalan, mengurai kebuntuan, dan yang tak kalah penting mencari sesuatu yang bisa dibawa pulang: bekal bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Di situlah Kenduri Cinta menegaskan dirinya sebagai salah satu bentuk sedekah kepada Indonesia.
Malam itu, Mbah Nun membuka perbincangan dengan sebuah pengantar tentang makna sedekah dan kegembiraan yang menyertainya. Ia memulai dari metafora yang akrab dalam khazanah keilmuan Islam. Nabi Muhammad SAW, katanya, adalah madînatul ‘ilm—kota ilmu, tujuan akhir dari seluruh pencarian pengetahuan. Namun sebagaimana sebuah kota, ia tak bisa dimasuki tanpa melewati pintunya. Dalam hadis yang kerap dikutip, Rasulullah SAW menyebut Ali bin Abi Thalib sebagai pintu ilmu.
Dari sana, Mbah Nun menegaskan bahwa belajar bukanlah loncatan instan. Ia adalah perjalanan bertahap, yang menuntut kesabaran dan kerendahan hati. Kenduri Cinta, dengan metode Maiyah, menempatkan dirinya sebagai lorong-lorong awal sebelum seseorang merasa telah tiba di “kota ilmu”. Bukan ruang untuk merasa paling benar, melainkan tempat melatih diri menjadi pencari.
“Mari malam ini kita memasuki lorong-lorong ilmu,” ujar Mbah Nun, “tetapi sebelum itu siapkan dulu software-nya.” Yang ia maksud bukanlah perangkat teknologi, melainkan kesiapan batin: kesediaan untuk mendengar, menerima, dan untuk sementara waktu menanggalkan ego.
Ia lalu menegaskan prinsip mendasar dalam spiritualitas dan intelektualitas Islam: tidak ada manusia yang sepenuhnya benar. Kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT, Rasulullah SAW, para nabi, rasul, dan malaikat. Selebihnya, manusia hidup dalam kemungkinan salah. Karena itu, yang ditagih Allah bukanlah keberhasilan menemukan kebenaran sejati, melainkan kesetiaan untuk terus mencarinya. “Sesungguhnya Anda tidak akan mampu menemukan Allah,” kata Mbah Nun, “tetapi Allah-lah yang akan menemui Anda.”
Dari fondasi inilah pembicaraan kemudian bergerak ke Indonesia. Sebuah pergeseran yang nyaris tak terelakkan dalam forum Maiyah. Namun Mbah Nun mengajak jamaah untuk meletakkan persoalan kebangsaan pada proporsi yang jernih dan adil. Menurutnya, rakyat telah memberikan mandat sekaligus fasilitas kepada para pejabat negara, dari presiden hingga aparat di berbagai jabatan dan fungsional, untuk mengurus Indonesia. Maka merekalah yang memikul kewajiban struktural itu.
Adapun jika Maiyah, Kenduri Cinta, atau individu-individu di dalamnya melakukan sesuatu untuk Indonesia, wilayahnya adalah sedekah, bukan kewajiban. Dalam Islam, sedekah bersifat sunnah. Ia lahir dari keikhlasan, bukan keterpaksaan. “Tidak mungkin Allah mewajibkan sesuatu kepada orang yang tidak diberi amanat dan fasilitas,” ujar Mbah Nun. Kewajiban hanya dipanggul oleh mereka yang memang diberi kuasa dan sarana. Sementara kepada orang kebanyakan, Allah memberi perintah yang sangat mendasar: quu anfusakum wa ahlikum naara(n)—jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
Di akhirat kelak, lanjutnya, tidak ada malaikat yang akan menanyai seseorang tentang kontribusinya terhadap NKRI. Yang ditanya adalah tauhidnya, shalatnya, akhlaknya, serta kasih sayangnya kepada keluarga dan sesama. Jika semua itu telah ditunaikan, maka urusan pokok seorang manusia sejatinya telah selesai.
Namun Indonesia tetap ada. Dan justru di situlah letak kemuliaannya: membantu Indonesia sebagai sedekah. “Anda bertauhid, bersyahadat, shalat kepada Allah, baik kepada keluarga, sayang kepada tetangga—selesai masalah. Bahwa ada Indonesia, ayo kita bantu sebagai sedekah kita,” kata Mbah Nun.
Ia bahkan menyebut kehadiran jamaah yang selama bertahun-tahun rela duduk hingga pagi setiap bulan di Kenduri Cinta sebagai sedekah yang luar biasa. Sebuah kerja sunyi yang, menurutnya, bahkan tak sanggup dilakukan oleh presiden atau menteri mana pun. Mereka tak mungkin “menahan” rakyat untuk duduk bersama hingga subuh, berpikir, berdialog, dan mendoakan negeri.
Karena itulah, sedekah ini mesti melahirkan kegembiraan, bukan beban. Maiyah tidak pernah mengajarkan lari dari Indonesia, apalagi bersikap acuh. Indonesia justru terus dibicarakan, dipikirkan, dan didoakan. Namun semua itu berdiri di atas kesadaran bahwa yang dilakukan bukan kewajiban struktural, melainkan pemberian sukarela.
Di titik inilah Mbah Nun membesarkan hati jamaah: posisi sebagai warga yang bersedekah kepada bangsanya adalah kedudukan yang mulia. Melakukan sesuatu yang bukan kewajiban, tanpa kuasa dan tanpa fasilitas, tetapi dengan cinta dan kegembiraan. Itulah etika Maiyah dalam memandang Indonesia.
Sebuah sedekah yang tidak riuh, tidak memaksa, dan tidak menuntut balasan. Sedekah yang menjaga kewarasan, merawat kemanusiaan, dan menyalakan harapan, di tengah sebuah negeri yang kerap terlalu bising oleh kewajiban-kewajiban yang justru diabaikan. (Sal)