Soekarno di Mata Khamenei: Inspirasi Persatuan di Tengah Perbedaan Ideologi

Sebuah kisah tentang pengaruh pemikiran Soekarno muncul dalam cerita masa muda Ali Khamenei ketika...

Soekarno di Mata Khamenei: Inspirasi Persatuan di Tengah Perbedaan Ideologi

Politik
05 Mar 2026
251 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Soekarno di Mata Khamenei: Inspirasi Persatuan di Tengah Perbedaan Ideologi

Sebuah kisah tentang pengaruh pemikiran Soekarno muncul dalam cerita masa muda Ali Khamenei ketika ia dipenjara oleh rezim Mohammad Reza Pahlavi pada 1974 di Teheran. Dalam sebuah pidato pada 19 April 1990, Khamenei mengisahkan bagaimana ia mengutip gagasan persatuan Soekarno dari Konferensi Asia-Afrika 1955 untuk mencairkan ketegangan dengan seorang tahanan komunis di sel yang sama. Kisah tersebut kemudian dituturkan kembali dalam tulisan yang beredar luas di media sosial dan artikel oleh Ismail Amin, seorang diaspora Indonesia yang tinggal di Iran dan aktif menulis tentang politik serta sejarah kawasan tersebut. 

Dalam pidato yang kemudian banyak dikutip dalam berbagai tulisan, Khamenei menceritakan pengalaman ketika ia ditempatkan di sel penjara sempit di Teheran bersama seorang tahanan baru yang dikenal sebagai aktivis sosialis yang sangat fanatik.

Saat itu Khamenei sedang menunaikan salat magrib. Tahanan baru tersebut melihatnya sebagai seorang tokoh religius dan sejak awal menunjukkan sikap dingin. Setiap upaya komunikasi yang dilakukan Khamenei tidak mendapat tanggapan. Namun situasi berubah ketika Khamenei mengutip pidato Soekarno dalam Konferensi Asia-Afrika. 

“Ahmad Soekarno pernah mengatakan bahwa yang mengumpulkan kita bukanlah kesamaan agama, ideologi, atau ras, tetapi kesatuan kebutuhan.” Lalu ia menjelaskan kepada sesama tahanan itu bahwa mereka memiliki kebutuhan yang sama untuk bertahan dari tekanan rezim dan menghadapi ancaman interogasi serta penyiksaan.

“Ideologi kita berbeda, tetapi kebutuhan kita sama,” kata Khamenei dalam pidatonya. Menurutnya, setelah percakapan tersebut hubungan di antara mereka berubah. Mereka yang sebelumnya saling curiga akhirnya menjadi sahabat. “Sesungguhnya Ahmad Soekarno yang membuat kami bersahabat,” ujar Khamenei dalam pidato tersebut.

Peristiwa yang diceritakan Khamenei sering dikaitkan dengan pengaruh gagasan Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Dalam pidato pembukaan konferensi tersebut, Soekarno menekankan pentingnya solidaritas bangsa-bangsa yang pernah mengalami kolonialisme. Konferensi tersebut kemudian melahirkan semangat kerja sama negara-negara berkembang yang menjadi salah satu fondasi terbentuknya Gerakan Non-Blok.

Bagi banyak pemimpin dunia pada masa Perang Dingin, Bandung dianggap sebagai simbol solidaritas global melawan dominasi kekuatan besar. Beberapa tokoh internasional bahkan menyebut Soekarno sebagai inspirasi gerakan pembebasan nasional di berbagai negara.

Kisah mengenai Soekarno dalam ingatan Khamenei kembali populer melalui tulisan Ismail Amin, seorang warga Indonesia yang tinggal di Iran dan menempuh studi di Qom. Ia sering menulis tentang pengalaman sosial-politik Iran serta hubungan sejarah Iran dengan Indonesia. Dalam sejumlah tulisannya, Ismail menilai bahwa kekaguman Khamenei terhadap Soekarno menunjukkan bagaimana gagasan persatuan lintas ideologi dan dapat memengaruhi gerakan politik di berbagai belahan dunia.

Ia juga menyoroti bahwa dalam beberapa pidato, Khamenei menyebut Soekarno sebagai salah satu tokoh yang memberi pengaruh besar dalam hidupnya. Namun, sejumlah akademisi mengingatkan bahwa pengaruh tersebut tidak selalu bersifat langsung. Pengamat politik Timur Tengah menyatakan bahwa revolusi Iran lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran keagamaan dan kepemimpinan Ruhollah Khomeini dibandingkan ideologi politik dari luar negeri.

Kisah ini sering digunakan untuk menegaskan bahwa gagasan Soekarno tentang persatuan memiliki resonansi global. Namun sebagian kalangan menilai cerita tersebut perlu dilihat secara kritis sebagai refleksi personal Khamenei, bukan sebagai bukti pengaruh ideologis yang langsung terhadap revolusi Iran. Sejumlah tokoh Indonesia juga mengaitkan hubungan intelektual tersebut dengan kedekatan historis antara kedua negara. Presiden kelima Indonesia Megawati Soekarnoputri bahkan pernah menyebut bahwa sejak muda Khamenei mengagumi Soekarno dan menjadikan pengalaman Indonesia sebagai salah satu referensi dalam melihat hubungan antara agama dan kebangsaan. 

Cerita tentang dua tahanan di sel sempit di Teheran mungkin tampak seperti kisah kecil dalam sejarah besar dunia. Namun kisah itu mengandung pelajaran sederhana bahwa gagasan dapat melintasi batas negara, ideologi, bahkan ruang penjara. Soekarno berbicara tentang solidaritas bangsa-bangsa di Bandung pada 1955. Dua puluh tahun kemudian, kata-katanya dikutip di sebuah sel penjara di Iran.

Itulah kekuatan ide yang tidak selalu hidup di podium atau buku sejarah, tetapi kadang bertahan dalam ingatan orang-orang yang membawanya ke situasi paling kelam, termasuk di suasana penjara. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah gagasan itu pernah berpengaruh, melainkan apakah generasi bangsa khususnya masih mau merawatnya. Sebab sejarah tidak pernah hilang, tapi hanya menunggu untuk diingat kembali. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll