Presiden Prabowo Anugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Kepala BGN Dadan Hindayana

Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan sejumlah tanda kehormatan negara kepada pejabat sipil dan...

Presiden Prabowo Anugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Kepala BGN Dadan Hindayana

Politik
13 Feb 2026
289 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Presiden Prabowo Anugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Kepala BGN Dadan Hindayana

Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan sejumlah tanda kehormatan negara kepada pejabat sipil dan kepolisian dalam rangkaian peresmian serta peletakan batu pertama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di Polsek Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (13/2/2026). Momentum ini menjadi ajang seremoni penghargaan dan menegaskan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan isu ketahanan gizi sebagai prioritas nasional.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menjadi salah satu penerima tanda kehormatan Bintang Jasa Utama. Selain itu, Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Dedi Prasetyo turut menerima penghargaan serupa. Wakil Kepala BGN Inspektur Jenderal (Purn) Sonny Sanjaya bersama dua pejabat lainnya memperoleh Bintang Jasa Pratama, sementara Irwasum Polri Komisaris Jenderal Wahyu Widada serta sejumlah kepala kepolisian daerah menerima Bintang Jasa Nararya.

Dalam pembacaan keputusan presiden, Sekretaris Militer Presiden Brigadir Jenderal Wahyu Yudhayana menyampaikan bahwa penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk pengakuan negara atas kontribusi besar para penerima.

“Menganugerahkan tanda kehormatan bintang jasa sebagai penghormatan atas jasanya yang besar di suatu bidang atau peristiwa tertentu yang bermanfaat bagi keselamatan, kesejahteraan, dan kebesaran bangsa dan negara,” ujar Wahyu membacakan salinan Keputusan Presiden Nomor 12 dan 13. Selain pejabat negara, Presiden juga memberikan Satya Lencana Wirakarya kepada 58 petambak yang dinilai berjasa dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Penghargaan tersebut diwakili oleh Zaini Sidi. “Satya Lencana Wirakarya diberikan sebagai penghargaan atas darma bakti besar kepada negara sehingga dapat menjadi teladan bagi masyarakat,” lanjut Wahyu.

Penganugerahan tersebut berlangsung bersamaan dengan peresmian dan groundbreaking 1.179 unit SPPG Polri serta peluncuran 18 Gudang Ketahanan Polri. Kehadiran Polri dalam program ini menunjukkan pendekatan lintas sektor dalam pelaksanaan agenda makan bergizi gratis, program prioritas pemerintah yang menargetkan peningkatan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak sekolah dan kelompok rentan. Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya sinergi antara lembaga negara dalam memastikan distribusi pangan dan gizi yang merata. Ia meninjau langsung dapur umum program makan bergizi gratis di lokasi acara sebagai simbol dimulainya fase implementasi yang lebih luas.

Program makan bergizi gratis sendiri merupakan salah satu kebijakan utama pemerintahan Prabowo, yang menurut berbagai kajian ekonomi diproyeksikan menyerap anggaran besar namun diharapkan mampu menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Data Kementerian Kesehatan sebelumnya menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia masih menjadi tantangan serius meski telah menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Para analis kebijakan publik melihat bahwa penghargaan negara dalam konteks ini dapat dimaknai sebagai bentuk legitimasi terhadap aparatur yang menjalankan agenda strategis pemerintah. Pengamat kebijakan publik dari sejumlah lembaga riset menyebut bahwa simbol penghargaan sering digunakan untuk memperkuat moral birokrasi sekaligus menegaskan prioritas politik negara.

Meski tradisi pemberian tanda kehormatan sering menjadi sekadar ritual protokoler, tapi dalam sejarah pemerintahan Indonesia, penghargaan negara sering menjadi simbol legitimasi atas keberhasilan program tertentu, sekaligus pesan politik mengenai arah pembangunan nasional yang digalakkan penyelenggara negara.

Dalam konteks kebijakan gizi, penganugerahan ini dapat dibaca sebagai sinyal bahwa penyelenggara negara ingin menempatkan isu pangan dan kesehatan sebagai agenda strategis jangka panjang. Dengan melibatkan Polri, program gizi tidak hanya diposisikan sebagai kebijakan kesehatan, tetapi juga bagian dari strategi stabilitas sosial.

Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari simbol penghargaan atau seremoni, melainkan dari dampak nyata di lapangan. Mulai dari kualitas distribusi makanan, transparansi anggaran, hingga keberlanjutan program.

Pemberian tanda kehormatan negara selalu membawa dua makna sekaligus antara penghargaan atas kerja yang telah dilakukan dan harapan atas tanggung jawab yang lebih besar di masa depan. 

Dalam konteks program pemenuhan gizi nasional, penghargaan ini menjadi pengingat bahwa upaya membangun generasi sehat bukan sekadar proyek administratif, tetapi investasi sosial jangka panjang. Di tengah tantangan ekonomi global dan kebutuhan pembangunan sumber daya manusia, publik akan menilai sejauh mana simbol-simbol negara tersebut bertransformasi menjadi perubahan nyata. Sebab nilai sebuah penghargaan tidak hanya terletak pada medali yang disematkan, melainkan pada dampak kebijakan yang dirasakan oleh masyarakat luas. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll