Peran Mikrobiota Usus dalam Tumbuh Kembang Anak, Antara Bukti Ilmiah dan Tantangan Praktik

Kesehatan saluran cerna anak menjadi perhatian para pakar kesehatan karena berperan penting tidak...

Peran Mikrobiota Usus dalam Tumbuh Kembang Anak, Antara Bukti Ilmiah dan Tantangan Praktik

Kesehatan
07 Agu 2026
242 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Peran Mikrobiota Usus dalam Tumbuh Kembang Anak, Antara Bukti Ilmiah dan Tantangan Praktik

Kesehatan saluran cerna anak menjadi perhatian para pakar kesehatan karena berperan penting tidak hanya dalam proses pencernaan, tetapi juga pembentukan sistem kekebalan tubuh, metabolisme, hingga tumbuh kembang anak. Dalam diskusi media Global Advances and Insight on Biotics for Child Health yang digelar di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2026), pakar Gastroenterologi dan Nutrisi Anak dari University Hospital Brussels (UZ Brussel), Belgia, Yvan Vandenplas, menegaskan bahwa menjaga keseimbangan mikrobiota usus sejak awal kehidupan merupakan salah satu fondasi penting bagi kesehatan anak di masa depan.

Menurut Yvan, periode awal kehidupan merupakan fase yang sangat menentukan dalam pembentukan mikrobiota usus. Mikrobiota adalah kumpulan mikroorganisme, seperti bakteri, jamur, dan virus, yang secara alami hidup di dalam tubuh manusia. Sebagian besar mikroorganisme tersebut memberikan manfaat bagi kesehatan, meskipun ada pula yang dapat memicu penyakit ketika keseimbangannya terganggu.

"Mikrobiota meliputi bakteri, jamur, dan virus, serta diketahui memiliki peran krusial, terutama bagi bayi, dalam perkembangan sistem kekebalan tubuh, perkembangan hormonal, dan metabolisme," ujar Yvan.

Ia menjelaskan, saluran cerna manusia dihuni sekitar 100 triliun mikroorganisme yang membentuk ekosistem kompleks. Organisme tersebut membantu proses pencernaan, memproduksi berbagai senyawa penting bagi tubuh, sekaligus berperan dalam membentuk respons imun. Karena itu, menjaga keseimbangan mikrobiota menjadi salah satu kunci agar anak dapat tumbuh sehat dan berkembang secara optimal.

Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan bahwa komposisi mikrobiota usus dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari proses persalinan, pemberian ASI, pola makan, penggunaan antibiotik, hingga lingkungan tempat anak tumbuh. Gangguan terhadap keseimbangan mikrobiota atau dysbiosis dikaitkan dengan meningkatnya risiko infeksi, alergi, gangguan pencernaan, bahkan beberapa penyakit metabolik.

Dalam menjaga keseimbangan tersebut, para ahli menilai konsumsi pangan bergizi dengan kandungan serat yang cukup menjadi langkah utama. Prebiotik, misalnya, merupakan komponen pangan yang menjadi "makanan" bagi bakteri baik di dalam usus. Sumber alaminya dapat ditemukan pada buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, umbi-umbian, dan beberapa jenis serealia.

Selain prebiotik, perhatian juga perlu tertuju pada sinbiotik, yakni kombinasi prebiotik dan probiotik yang dirancang untuk bekerja bersama mendukung kesehatan mikrobiota. Menurut konsensus ilmiah International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics (ISAPP), sinbiotik adalah kombinasi mikroorganisme hidup dan substrat yang secara selektif dimanfaatkan mikroorganisme di dalam tubuh sehingga memberikan manfaat kesehatan bagi inangnya.

"Dengan keseimbangan mikrobiota yang baik, kesehatan pencernaan anak dapat lebih terjaga dan mendukung perkembangan sistem imun," kata Yvan.

Medical and Scientific Affairs Director Danone Indonesia, Ray Wagiu Basrowi, mengatakan perkembangan ilmu nutrisi terus diarahkan untuk memahami hubungan antara pangan dan kesehatan mikrobiota. Menurutnya, kombinasi FOS (fructooligosaccharides) dan GOS (galactooligosaccharides) merupakan salah satu jenis prebiotik yang telah banyak diteliti karena dapat membantu mendukung pertumbuhan bakteri baik di dalam usus.

Namun demikian, para pakar juga mengingatkan agar masyarakat tidak memandang probiotik, prebiotik, maupun sinbiotik sebagai "obat ajaib". Bukti ilmiah menunjukkan manfaatnya dapat berbeda-beda bergantung pada jenis bakteri, dosis, usia anak, kondisi kesehatan, dan tujuan penggunaannya. Organisasi ilmiah seperti ISAPP menegaskan bahwa tidak semua produk yang mengandung probiotik atau sinbiotik otomatis memberikan manfaat yang sama karena efektivitasnya harus dibuktikan melalui penelitian klinis.

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan saluran cerna anak tidak cukup hanya bergantung pada satu jenis produk pangan. Pola makan seimbang, pemberian ASI sesuai rekomendasi, konsumsi makanan kaya serat, aktivitas fisik, tidur yang cukup, serta penggunaan antibiotik secara bijak tetap menjadi pilar utama dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus.

Di sisi lain, keterlibatan perusahaan pangan dalam pengembangan produk berbasis biotik juga perlu disikapi secara kritis. Inovasi nutrisi memang membuka peluang meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi klaim manfaat setiap produk tetap harus mengacu pada bukti ilmiah yang kuat, transparan, dan dapat diverifikasi secara independen. Para orang tua juga dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memberikan suplemen atau produk tertentu kepada anak, terutama jika memiliki kondisi medis khusus.

Kesehatan saluran cerna seringkali dihubungkan pada persoalan apakah anak mengalami diare atau sembelit. Padahal di balik organ yang kerap dianggap hanya berfungsi mencerna makanan, terdapat ekosistem mikroorganisme yang bekerja tanpa henti guna menopang pertumbuhan, kekebalan tubuh, dan kualitas hidup anak. Menjaga kesehatan usus sejak dini berarti membangun fondasi kesehatan jangka panjang. Karena itu, investasi terbaik bagi masa depan anak bukan hanya menyediakan makanan yang mengenyangkan, melainkan memastikan setiap asupan benar-benar mendukung keseimbangan mikrobiota dan perkembangan tubuhnya secara menyeluruh. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll