Terminal Ferry Internasional Sekupang akan menjadi pusat penyelenggaraan Up Town Run 2026 pada 5 Juli 2026. Ajang yang digagas oleh Terminal Ferry Internasional Sekupang bersama sejumlah mitra ini tidak hanya menghadirkan lomba lari, tetapi juga menggabungkan unsur olahraga, budaya, hiburan, ekonomi kreatif, dan kegiatan sosial. Digelar bertepatan dengan musim liburan sekolah di Singapura, acara tersebut ditargetkan menarik peserta dari Batam, berbagai daerah di Indonesia, hingga wisatawan mancanegara, khususnya dari Singapura dan Malaysia.
Di tengah semakin ketatnya persaingan destinasi wisata di kawasan Asia Tenggara, Up Town Run 2026 hadir dengan pendekatan yang berbeda. Jika sebagian besar lomba lari berfokus pada kompetisi dan capaian waktu, penyelenggara justru mencoba menjadikan olahraga sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan wajah Batam yang lebih luas. Termasuk budaya, kreativitas, dan pengalaman wisata.
Perwakilan Terminal Ferry Internasional Sekupang, Kasiman, mengatakan konsep tersebut sengaja dirancang agar lebih dekat dengan karakter generasi muda saat ini. "Kami ingin menghadirkan event yang tidak hanya berfokus pada olahraga. Up Town Run menggabungkan unsur sport, entertainment, culture, dan creativity sehingga menjadi ruang bagi anak muda untuk berekspresi dan berkolaborasi," ujar Kasiman.
Up Town Run 2026 menghadirkan tiga kategori lomba, yakni Fun Run 2,6 kilometer untuk anak-anak, Youth Run 5 kilometer bagi remaja, dan Main Race 9,7 kilometer untuk kategori umum. Selain lomba lari, panitia menyiapkan berbagai kompetisi pendukung seperti fotografi, konten kreator, film pendek, hingga cheerleader.
Pilihan kegiatan tersebut menunjukkan perubahan tren dalam penyelenggaraan event olahraga. Saat ini, banyak peserta tidak lagi datang semata-mata untuk berkompetisi, tetapi juga mencari pengalaman sosial, ruang berekspresi, dan konten digital yang dapat dibagikan di media sosial.
Di sisi lain, penyelenggara juga memasukkan unsur budaya lokal dan nasional melalui pertunjukan Reog Ponorogo, angklung, serta tari tradisional. Kehadiran bazar UMKM menjadi upaya untuk memastikan manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan penyelenggara dan peserta, tetapi juga pelaku usaha lokal.
Strategi menggabungkan olahraga dan pariwisata sebenarnya bukan hal baru. Tren sport tourism terus berkembang pesat di berbagai negara karena terbukti mampu meningkatkan pergerakan wisatawan sekaligus mendorong sektor hotel, transportasi, kuliner, dan pusat perbelanjaan.
Bagi Batam, peluang itu cukup besar. Posisi geografis yang hanya sekitar 45 menit perjalanan feri dari Singapura menjadikan kota ini memiliki keunggulan kompetitif dibanding banyak daerah lain di Indonesia. Terminal Ferry Internasional Sekupang sendiri merupakan salah satu gerbang utama kedatangan wisatawan internasional dari Singapura.
Data Badan Pengusahaan (BP) Batam menunjukkan bahwa selama Januari–April 2026, jumlah penumpang internasional yang melalui pelabuhan penumpang Batam mencapai lebih dari 1,68 juta orang, sementara penumpang domestik mencapai 1,54 juta orang. Angka tersebut menggambarkan besarnya potensi pasar yang dapat digarap melalui event-event berbasis pariwisata dan olahraga.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, menilai keberadaan event semacam ini menjadi bagian penting dalam memperkuat daya tarik wisata daerah. "Event seperti Up Town Run 2026 merupakan atraksi yang mampu menarik wisatawan sekaligus memperpanjang lama tinggal mereka di Batam," kata Ardiwinata. Menurutnya, wisatawan yang datang untuk mengikuti lomba tidak hanya menghabiskan waktu di area acara. Mereka berpotensi menginap di hotel, menikmati kuliner, berbelanja, hingga mengunjungi berbagai destinasi wisata yang ada di Batam.
Pandangan tersebut sejalan dengan strategi pemerintah daerah yang dalam beberapa tahun terakhir semakin gencar mengembangkan event sebagai instrumen promosi wisata. Berbagai festival budaya, kuliner, dan ekonomi kreatif terus didorong untuk memperkuat citra Batam sebagai destinasi yang tidak hanya mengandalkan kedekatan geografis dengan Singapura.
Namun demikian, sejumlah pengamat pariwisata menilai keberhasilan sebuah event tidak dapat diukur hanya dari jumlah peserta atau kemeriahan acara. Tantangan terbesar justru terletak pada keberlanjutan dampak ekonomi dan kemampuannya menciptakan alasan bagi wisatawan untuk kembali berkunjung.
Pandangan kritis tersebut muncul karena tidak sedikit event yang mampu menarik keramaian sesaat, tetapi belum menghasilkan efek jangka panjang bagi destinasi. Oleh sebab itu, kualitas penyelenggaraan, kenyamanan peserta, konektivitas transportasi, promosi internasional, serta keterlibatan masyarakat lokal menjadi faktor yang akan menentukan keberhasilan Up Town Run 2026.
Di sisi lain, penyelenggara mencoba menjawab tantangan tersebut dengan memasukkan unsur sosial ke dalam acara. Sebagian hasil penjualan tiket akan disalurkan melalui program amal bersama Baznas Kota Batam untuk mendukung kegiatan kemanusiaan dan sosial. "Harapan kami, event ini dapat menjadi daya tarik baru yang mampu mengundang peserta dari Batam, daerah sekitar, hingga mancanegara sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Kasiman.
Kehadiran figur publik komunitas lari, Marapthon, juga diharapkan dapat meningkatkan daya tarik acara, khususnya di kalangan generasi muda dan komunitas olahraga. Up Town Run 2026 diharapkan mampu menawarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar garis start dan garis finis. Di tengah dunia yang semakin cepat dan serba digital, event seperti ini menunjukkan bahwa olahraga masih mampu menjadi ruang perjumpaan manusia. Tempat budaya bertemu kreativitas, wisata bertemu ekonomi, dan hiburan bertemu kepedulian sosial.
Mungkin itulah nilai paling penting dari sebuah festival lari. Bukan semata-mata soal siapa yang tiba paling cepat di garis akhir, melainkan bagaimana sebuah kota mampu mengajak orang-orang datang, tinggal lebih lama, mengenalnya lebih dekat, lalu pulang dengan membawa cerita. Jika itu berhasil diwujudkan, maka setiap langkah yang diayunkan peserta pada 5 Juli mendatang tidak hanya menjadi bagian dari perlombaan, tetapi juga menjadi langkah kecil menuju masa depan pariwisata Batam yang lebih inklusif, kreatif, dan berdaya saing. (Red)