Bagaimana orang tua mengenali gejala awal neurodivergent pada anak, mengapa hal ini penting, dan bagaimana cara terbaik mendukung tumbuh kembang mereka menjadi perhatian dalam diskusi publik yang melibatkan praktisi terapi anak, termasuk terapis okupasi Ries Sansani. Dalam forum tersebut, ditegaskan bahwa pemahaman dini, observasi di rumah, serta dukungan lingkungan, baik keluarga maupun sekolah, menjadi kunci agar anak dengan cara kerja otak yang berbeda tetap dapat berkembang optimal.
Setiap anak pada dasarnya memiliki cara unik dalam belajar dan merespons dunia. Ada yang cepat memahami angka, sementara yang lain lebih mudah menangkap informasi secara visual atau kinestetik. Dalam beberapa kasus, perbedaan ini tidak lagi sekadar preferensi belajar, melainkan mencerminkan cara kerja otak yang berbeda secara mendasar. Kondisi ini dikenal sebagai neurodivergent.
Mengacu pada laporan Scientific American, neurodivergensi bukanlah penyakit atau “kerusakan”, melainkan variasi alami dalam cara manusia berpikir, belajar, dan berinteraksi. Spektrum ini mencakup kondisi seperti ADHD, autisme, hingga disleksia. Perspektif ini menggeser cara pandang lama yang cenderung patologis menjadi lebih inklusif dan berbasis keberagaman neurologis.
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemahaman diri menjadi fondasi penting bagi anak neurodivergent. Ketika anak memahami mengapa mereka sulit fokus atau justru memiliki keunggulan tertentu, mereka cenderung membangun konsep diri yang lebih sehat. Hal ini berpengaruh pada kepercayaan diri serta kemampuan mereka dalam mengkomunikasikan kebutuhan secara lebih jelas.
Namun, sebelum sampai pada tahap itu, peran orang tua menjadi sangat krusial. Pengamatan awal di rumah menjadi pintu pertama dalam mengenali tanda-tanda neurodivergensi. Ries Sansani, terapis okupasi dan lead coach, menekankan bahwa gejala awal tidak selalu tampak sebagai keterlambatan yang umum dikenali.
“Salah satu tandanya adalah hambatan bicara dan susah fokus. Kontak mata tidak ada, dan keinginan interaksi anak tidak muncul bahkan ketika kita berikan challenge,” ujarnya dalam diskusi media di Atelier of Minds, Jakarta. Ia menjelaskan bahwa tanda-tanda tersebut bisa muncul dalam bentuk respons sosial yang minim. Misalnya, anak tidak merespons saat diajak berinteraksi, tidak menunjukkan ekspresi timbal balik, atau tampak “tidak terhubung” secara emosional dalam situasi sosial sederhana.
Dalam beberapa kasus, gejala ini bahkan dapat diamati sejak usia bayi melalui respons terhadap stimulasi sosial. Meski demikian, para ahli mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Diagnosis tetap harus melalui tenaga profesional. Pendekatan yang tidak tepat justru berisiko membuat anak kehilangan intervensi yang sesuai di masa krusial perkembangan.
Di sisi lain, tidak semua pihak sepakat dengan kecenderungan meningkatnya labelisasi pada anak. Sebagian pengamat pendidikan menilai bahwa tren diagnosis neurodivergent yang meningkat juga perlu dilihat secara kritis. “Ada risiko overdiagnosis jika setiap perbedaan perilaku langsung dikategorikan sebagai gangguan,” ujar seorang pemerhati pendidikan anak dalam beberapa forum diskusi parenting. Pandangan ini menekankan pentingnya keseimbangan antara kewaspadaan dan kehati-hatian, agar label tidak justru membatasi potensi anak.
Dalam konteks pendidikan, pertanyaan yang kerap muncul adalah apakah anak neurodivergent dapat bersekolah di sekolah umum. Ries Sansani menyebut hal tersebut memungkinkan, terutama pada anak dengan spektrum ringan dan kemampuan kognitif yang memadai. Namun, keberhasilan ini sangat bergantung pada adaptasi sistem pembelajaran.
Pendampingan melalui shadow teacher menjadi salah satu solusi. Selain itu, penyesuaian sederhana seperti posisi duduk di dekat guru, pengurangan distraksi visual, hingga pengaturan lingkungan kelas yang ramah sensorik dapat membantu anak lebih fokus dan nyaman. Sementara bagi anak dengan spektrum yang lebih kompleks, pendekatan yang terlalu berorientasi pada capaian akademik justru dinilai kurang relevan.
“Dibandingkan mengejar target akademik yang mungkin tidak sesuai dengan kapasitas IQ-nya, orang tua bisa lari ke jalur profesional,” kata Ries. Pendekatan ini menekankan pentingnya mengenali dan mengembangkan potensi unik anak, baik di bidang seni, keterampilan motorik, maupun minat spesifik lainnya sebagai sumber kekuatan, bukan kekurangan.
Tantangan lain muncul dari lingkungan sosial. Stigma terhadap anak neurodivergent masih kerap terjadi, bahkan di ruang publik. Pengalaman yang dibagikan oleh figur publik seperti Wina Natalia menunjukkan bagaimana perilaku anak, seperti tantrum, seringkali disalahpahami dan distigmatisasi sebagai “aib”. Situasi ini tidak hanya berdampak pada anak, tetapi juga pada kondisi psikologis orang tua. Tekanan sosial, rasa malu, hingga kecemasan sering kali memperburuk proses penerimaan.
Karena itu, dukungan keluarga menjadi fondasi utama. Salah satu hal paling mendasar adalah menghindari perbandingan antar anak. “Jangan membandingkan dengan kakak atau adiknya, karena tiap anak berbeda,” tegas Ries. Memahami neurodivergent bukan sekadar soal mengenali gejala atau menentukan diagnosis, melainkan sebuah proses bertahap dan panjang dalam mengubah cara pandang. Dari melihat perbedaan sebagai kekurangan menjadi memahami bahwa setiap anak membawa cara unik dalam membaca dunia.
Pertanyaan yang lebih relevan mungkin bukan lagi apa yang kurang dari anak ini, melainkan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan dengan caranya sendiri. Sebab, di balik setiap perilaku yang tampak “berbeda”, selalu ada bahasa yang sedang berusaha dimengerti, dan tugas kita sebagai orang tua untuk terus belajar mendengarkannya. (Red)