Media Israel Sebut Kematian Mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad

Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan yang dilakukan...

Media Israel Sebut Kematian Mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad

Politik
03 Mar 2026
352 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Media Israel Sebut Kematian Mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad

Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat di kawasan Narnak, timur laut Teheran, Sabtu malam waktu setempat. Serangan tersebut, menurut laporan sejumlah media Israel dan dikutip media Iran, menghantam kediamannya dan menewaskan beberapa pengawal. Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah serangan terpisah yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, memicu eskalasi politik dan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya di Republik Islam itu.

Media Israel, termasuk Ynet, melaporkan bahwa operasi tersebut merupakan bagian dari kampanye berkelanjutan yang menargetkan tokoh-tokoh senior Iran. Namun hingga Ahad malam, otoritas resmi di Teheran belum merilis pernyataan terperinci mengenai detail teknis serangan, termasuk jenis persenjataan yang digunakan atau pihak yang secara resmi bertanggung jawab. Sejumlah analis militer internasional memperkirakan bahwa serangan presisi terhadap kawasan permukiman elite di Teheran menunjukkan kemampuan intelijen dan teknologi tinggi. 

Mahmoud Ahmadinejad menjabat sebagai Presiden Iran dari 2005 hingga 2013. Ia dikenal luas karena retorika garis keras terhadap Barat, terutama dalam isu program nuklir Iran. Di bawah kepemimpinannya, ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel meningkat, terutama setelah Iran mempercepat pengayaan uranium yang oleh Teheran disebut untuk tujuan damai, namun dicurigai Barat memiliki dimensi militer.

Kepresidenannya juga dibayangi kontroversi pemilu 2009 yang memicu gelombang protes besar, yang dikenal sebagai Green Movement, menandai salah satu krisis legitimasi terbesar dalam sejarah Republik Islam modern.

Sebelum menjadi presiden, Ahmadinejad pernah menjabat sebagai wali kota Teheran dan gubernur Provinsi Ardabil. Setelah menyelesaikan dua masa jabatan, ia ditunjuk ke Dewan Penentu Kebijakan oleh Ali Khamenei, memperkuat posisinya dalam lingkaran elite politik Iran meski pengaruhnya belakangan disebut menurun.

Di Israel, sejumlah pejabat yang tidak disebutkan namanya menyebut operasi tersebut sebagai “langkah defensif strategis.” Seorang analis keamanan Israel yang diwawancarai media setempat menyatakan, “Iran selama bertahun-tahun membangun jaringan proksi yang mengancam keamanan regional. Menargetkan arsitek kebijakan agresif adalah pesan bahwa eskalasi memiliki konsekuensi.”

Sebaliknya, dari Teheran, seorang anggota parlemen Iran menyebut serangan itu sebagai “pelanggaran kedaulatan terang-terangan.” Dalam wawancara dengan media nasional, ia menegaskan, “Ini bukan hanya serangan terhadap individu, tetapi terhadap martabat nasional Iran. Respons akan datang pada waktu dan tempat yang kami pilih.”

Sementara itu, pengamat hubungan internasional di Eropa menilai situasi ini berpotensi memperluas konflik. “Kematian dua figur sentral dalam waktu berdekatan menciptakan kekosongan kepemimpinan yang berbahaya. Ini dapat memicu reaksi berantai, baik di dalam negeri Iran maupun di kawasan,” ujar seorang peneliti Timur Tengah dari sebuah lembaga kebijakan publik di Brussels.

Iran merupakan aktor kunci di Timur Tengah, dengan pengaruh di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman. Setiap perubahan dramatis dalam struktur kepemimpinannya hampir pasti berdampak pada dinamika kawasan. Pasar energi global pun merespons cepat, dengan harga minyak mentah dilaporkan melonjak di pasar Asia pada pembukaan perdagangan Senin pagi. Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa sejauh ini menyerukan penahanan diri. Namun, sejumlah negara kawasan meningkatkan kewaspadaan militer mereka, khawatir akan potensi pembalasan Iran atau eskalasi lanjutan.

Jika benar operasi ini dirancang untuk melemahkan elite strategis Iran, pertanyaannya apakah dengan langkah tersebut akan menekan eskalasi atau justru memantik konflik lebih luas? Sebagian analis berpendapat bahwa eliminasi tokoh simbolik dapat memicu konsolidasi nasionalisme di Iran. Dalam sejarah politik negara itu, tekanan eksternal sering malah memperkuat solidaritas internal, setidaknya dalam jangka pendek.

Di sisi lain, ada pula yang menilai bahwa perubahan drastis di pucuk kekuasaan bisa membuka ruang negosiasi baru, meski peluang itu sangat tipis dalam suasana berkabung dan kemarahan publik. Sebab kematian Mahmoud Ahmadinejad bukan sekadar akhir dari perjalanan seorang mantan presiden dengan warisan kontroversial, tapi ia simbol dari satu fase penting dalam sejarah Iran, fase yang ditandai oleh ketegangan ideologis, ambisi geopolitik, dan perlawanan terhadap dominasi global.

Tragedi ini juga mengingatkan bahwa ketika konflik geopolitik dapat memasuki wilayah personal—rumah, keluarga, kehidupan sehari-hari sebagai batas antara strategi dan tragedi menjadi kabur. Politik yang dimainkan di ruang diplomasi publik dapat berubah menjadi ledakan nyata di ruang privat. Seperti yang terjadi  di Iran yang kini berdiri di persimpangan sejarah antara membalas atau menahan diri, antara memperkeras sikap atau membuka lembaran baru. 

Dunia pun menunggu, dengan napas tertahan, apakah peristiwa di Narnak akan menjadi awal babak baru perdamaian atau justru prolog dari konflik yang lebih luas dan panjang di kawasan, lalu merembet ke skala global? (Red)

Share :

Perspektif

Scroll