Pimpinan Badan Pengusahaan Batam, Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra, turun langsung memantau kondisi infrastruktur jalan dengan mengendarai sepeda motor jenis Vespa di sejumlah ruas utama, mulai dari kawasan KDA hingga Nagoya pada Sabtu (14/3/2026) pagi. Langkah ini dilakukan untuk merasakan secara langsung kondisi jalan yang selama ini dikeluhkan masyarakat, sekaligus mengevaluasi efektivitas penanganan kerusakan jalan oleh instansi terkait.
Alih-alih menggunakan kendaraan dinas, keduanya memilih skuter bergaya klasik modern sebagai moda transportasi. Pilihan ini bukan tanpa makna. Di satu sisi, pendekatan tersebut tampak sebagai upaya membangun kedekatan dengan masyarakat pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua yang paling rentan terdampak jalan berlubang. Namun di sisi lain, publik juga membaca simbol ini sebagai representasi gaya hidup yang kontras dengan realitas sebagian warga.
Sepanjang rute yang dilalui, rombongan menemukan sejumlah titik jalan rusak yang berpotensi membahayakan pengguna jalan. Beberapa lubang bahkan disebut cukup dalam dan tersebar di jalur padat lalu lintas. Dalam pernyataannya, Li Claudia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari upaya percepatan perbaikan. “Kami ingin merasakan langsung apa yang dirasakan masyarakat. Ini bukan sekadar laporan di atas meja,” ujarnya dalam keterangan kepada media.
Pendekatan ini menuai respons beragam. Sejumlah warga mengapresiasi langkah turun langsung tersebut sebagai bentuk empati yang jarang dilakukan pejabat publik. Di media sosial, aksi tersebut juga mendapat perhatian luas, terutama dari komunitas pecinta Vespa yang turut meramaikan kegiatan.
Di sisi lain, kritik muncul terkait substansi kebijakan yang dinilai belum menyentuh akar persoalan. Beberapa pengamat infrastruktur menilai bahwa pemantauan langsung memang penting, tetapi harus diikuti dengan sistem perencanaan dan pengawasan yang konsisten. “Turun ke lapangan itu baik, tapi yang lebih penting adalah memastikan ada roadmap perbaikan yang jelas, termasuk anggaran dan timeline,” ujar seorang analis kebijakan publik dari lembaga riset perkotaan.
Data dari sejumlah laporan pemerintah daerah sebelumnya menunjukkan bahwa kerusakan jalan di Batam kerap disebabkan oleh kombinasi faktor, mulai dari kualitas konstruksi, drainase yang buruk, hingga tingginya beban kendaraan berat. Tanpa penanganan menyeluruh, perbaikan bersifat tambal sulam berpotensi tidak bertahan lama.
Aksi berkendara ini pada akhirnya membuka ruang refleksi yang lebih luas tentang bagaimana simbol dan substansi berjalan di jalur yang berbeda. Mengendarai motor mungkin memberi sensasi langsung atas guncangan jalan berlubang, tetapi tidak serta-merta menjawab kompleksitas tata kelola infrastruktur.
Publik tidak lagi sekadar menilai gaya, melainkan menunggu hasil. Sebab bagi pengguna jalan, persoalannya bukan pada bagaimana pemimpin merasakan lubang itu, melainkan kapan lubang tersebut benar-benar hilang. (Red)