Tambang Kripto dan Dilema Konsumsi Energi

Terungkapnya sebuah rumah toko (ruko) di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, yang digunakan sebagai...

Tambang Kripto dan Dilema Konsumsi Energi

Tekno
16 Jul 2026
241 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Tambang Kripto dan Dilema Konsumsi Energi

Terungkapnya sebuah rumah toko (ruko) di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, yang digunakan sebagai lokasi penambangan mata uang kripto dengan konsumsi listrik sangat besar kembali mengingatkan publik pada persoalan yang selama ini kerap luput dari perhatian. Di tengah melonjaknya harga Bitcoin dan semakin luasnya adopsi aset digital di dunia, aktivitas penambangan kripto menyimpan konsekuensi serius terhadap kebutuhan energi, emisi karbon, hingga keberlanjutan lingkungan. Fenomena inilah yang menjadi sorotan para peneliti internasional dan pembuat kebijakan di berbagai negara.

Selama lebih dari satu dekade terakhir, mata uang kripto berkembang dari sekadar eksperimen teknologi menjadi salah satu instrumen investasi bernilai triliunan dolar AS. Bitcoin sebagai aset kripto terbesar berhasil menarik minat investor ritel, institusi keuangan, hingga perusahaan publik. Di balik pertumbuhan tersebut, kebutuhan komputasi untuk memverifikasi transaksi melalui mekanisme Proof-of-Work (PoW) ikut meningkat tajam sehingga memerlukan pasokan listrik dalam jumlah sangat besar.

Penelitian yang diterbitkan para ilmuwan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations University (UNU) menemukan bahwa aktivitas penambangan Bitcoin selama periode 2020–2021 mengonsumsi sekitar 173,42 terawatt-jam (TWh) listrik. Jumlah tersebut setara dengan konsumsi listrik sebuah negara berpenduduk ratusan juta jiwa dan menempatkan Bitcoin sebagai "negara" dengan konsumsi listrik terbesar ke-27 di dunia apabila diperlakukan sebagai satu entitas. 

Selain menghasilkan jejak karbon yang tinggi, penelitian tersebut juga mencatat besarnya jejak penggunaan air dan lahan akibat aktivitas penambangan Bitcoin. Pada periode penelitian itu, sekitar 45 persen pasokan energi penambangan masih berasal dari batu bara, disusul gas alam 21 persen, tenaga air 16 persen, nuklir 9 persen, angin 5 persen, dan surya 2 persen.

Direktur United Nations University Institute for Water, Environment and Health, Prof. Kaveh Madani, menegaskan bahwa hasil penelitian tersebut bukan dimaksudkan untuk menghentikan perkembangan aset digital. Ia mengatakan, "Temuan ini seharusnya mendorong investasi pada regulasi dan kemajuan teknologi yang meningkatkan efisiensi sistem keuangan global tanpa merusak lingkungan." 

Namun sesungguhnya gambaran industri penambangan Bitcoin mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir. Laporan terbaru Cambridge Centre for Alternative Finance (CCAF) pada April 2025 menunjukkan pangsa penggunaan energi berkelanjutan dalam industri penambangan Bitcoin meningkat menjadi 52,4 persen, terdiri atas energi terbarukan 42,6 persen dan nuklir 9,8 persen. Batu bara yang sebelumnya menjadi sumber energi dominan kini turun menjadi sekitar 8,9 persen, sementara gas alam menjadi sumber energi terbesar dengan porsi 38,2 persen. Meski demikian, konsumsi listrik jaringan Bitcoin masih diperkirakan mencapai sekitar 138 TWh per tahun atau sekitar 0,5 persen konsumsi listrik global. 

Temuan tersebut menunjukkan bahwa industri kripto memang mulai bergerak menuju sumber energi yang lebih bersih. Tetapi peningkatan bauran energi terbarukan belum otomatis menghapus persoalan lingkungan. Kenaikan nilai Bitcoin membuat jumlah mesin penambang terus bertambah sehingga meningkatkan konsumsi energi.

Karenanya pandangan inilah yang melahirkan perdebatan. Kelompok pemerhati lingkungan menilai konsumsi listrik sebesar itu sulit dibenarkan untuk sistem pembayaran digital yang hanya melayani sebagian kecil transaksi global. Sebaliknya, pelaku industri berpendapat bahwa penambangan Bitcoin justru mampu memanfaatkan listrik yang sebelumnya terbuang, termasuk surplus energi hidro, angin, maupun gas suar (flared gas) yang selama ini tidak termanfaatkan.

Sementara Laporan Cambridge menyebutkan, meningkatnya penggunaan energi berkelanjutan menunjukkan industri penambangan mulai beradaptasi terhadap tuntutan lingkungan. Sementara itu, sejumlah pelaku industri berpendapat bahwa penambangan dapat membantu meningkatkan efisiensi jaringan listrik dengan menyerap kelebihan pasokan energi pada waktu-waktu tertentu. 

Meski demikian, International Energy Agency (IEA) mengingatkan bahwa menghitung dampak lingkungan Bitcoin tidak sesederhana melihat besarnya konsumsi listrik. Berbagai metode penghitungan menghasilkan angka yang berbeda sehingga seluruh estimasi harus dipahami secara hati-hati. IEA juga menilai lokasi penambangan, jenis pembangkit listrik yang digunakan, hingga perkembangan efisiensi perangkat menjadi faktor penting dalam menentukan besarnya emisi karbon industri ini. 

Kasus ruko di Bekasi menjadi contoh konkret bagaimana aktivitas penambangan kripto dapat membebani sistem kelistrikan apabila dilakukan secara ilegal atau tanpa pengawasan. Selain berpotensi merugikan negara akibat pencurian listrik, praktik tersebut juga menimbulkan risiko keselamatan karena penggunaan daya tinggi secara terus-menerus.

Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nugroho Adi Sasongko, serta Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi sebelumnya menjelaskan bahwa karakteristik penambangan kripto memang membutuhkan ribuan perangkat komputasi yang bekerja tanpa henti selama 24 jam sehingga konsumsi listriknya jauh lebih besar dibandingkan penggunaan komputer biasa.

Perdebatan mengenai Bitcoin, yang dipertaruhkan adalah bagaimana dunia menyeimbangkan inovasi teknologi dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Di satu sisi, aset kripto telah membuka babak baru dalam sistem keuangan digital. Di sisi lain, perkembangan tersebut menghadirkan tantangan baru berupa kebutuhan energi yang sangat besar.

Karena itu, arah kebijakan ke depan semestinya tidak berhenti pada larangan atau pembatasan semata, melainkan mendorong penggunaan energi rendah emisi, peningkatan efisiensi perangkat penambangan, serta transparansi sumber listrik yang digunakan. Dengan demikian, inovasi digital dapat terus berkembang tanpa mengabaikan komitmen global terhadap pengendalian perubahan iklim. 

Sebab keberhasilan sebuah teknologi tidak hanya diukur dari besarnya nilai ekonomi yang diciptakannya, tetapi juga dari seberapa kecil jejak yang ditinggalkannya bagi bumi. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll