JD.com Prediksi Kurir Akan Hilang, China Siapkan Era Logistik Tanpa Manusia

Pendiri raksasa e-commerce China, JD.com, Richard Liu, menyatakan bahwa profesi kurir pengantar...

JD.com Prediksi Kurir Akan Hilang, China Siapkan Era Logistik Tanpa Manusia

Tekno
25 Jun 2026
187 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

JD.com Prediksi Kurir Akan Hilang, China Siapkan Era Logistik Tanpa Manusia

Pendiri raksasa e-commerce China, JD.com, Richard Liu, menyatakan bahwa profesi kurir pengantar paket pada akhirnya akan digantikan oleh robot. Pernyataan yang disampaikan dalam forum CEO APEC di Beijing pada Juni 2026 itu langsung memicu perdebatan mengenai masa depan pekerjaan manusia di tengah percepatan perkembangan robotika dan kecerdasan buatan (AI). Di saat perusahaan teknologi berlomba mengejar efisiensi, jutaan pekerja sektor logistik mulai mempertanyakan nasib mereka dalam ekonomi digital yang semakin otomatis. 

Selama beberapa tahun terakhir, perhatian publik lebih banyak tertuju pada AI generatif yang dianggap mampu menggantikan pekerjaan kantoran. Namun, perkembangan teknologi robotika justru mulai mengarah pada sektor pekerjaan fisik yang selama ini dianggap lebih aman dari otomatisasi.

Richard Liu termasuk sedikit pemimpin perusahaan teknologi yang berbicara secara terbuka mengenai kemungkinan tersebut. Di hadapan para pelaku bisnis kawasan Asia-Pasifik, ia mengatakan bahwa suatu hari nanti pengiriman paket akan sepenuhnya dilakukan oleh robot. “Di masa depan, ketika robot mengantarkan paket, cepat atau lambat akan tiba saatnya kurir pada dasarnya tidak lagi dibutuhkan.”

Meski demikian, Liu menegaskan bahwa ia tidak ingin ratusan ribu pekerja yang selama ini menopang operasional JD.com kehilangan mata pencaharian. Karena itu perusahaan mulai menyiapkan program pelatihan ulang bagi para pekerjanya. 

JD.com saat ini memiliki sekitar 700 ribu pekerja pengiriman. Angka tersebut menggambarkan besarnya skala transformasi yang mungkin terjadi apabila otomatisasi benar-benar diterapkan secara luas. Sebagai langkah antisipasi, perusahaan telah bekerja sama dengan sekitar 120 institusi pendidikan di China untuk melatih kembali pekerja lapangan agar mampu mengisi pekerjaan baru yang muncul akibat otomatisasi, terutama di bidang pemeliharaan robot, sistem otomatis, dan teknologi AI. 

Menurut Liu, robot bukanlah teknologi yang bisa bekerja tanpa campur tangan manusia. "Karena robot adalah mesin, pada suatu saat mereka pasti akan mengalami kerusakan." Pernyataan itu menjadi dasar argumentasi bahwa otomatisasi tidak selalu menghapus pekerjaan, tetapi mengubah jenis pekerjaan yang tersedia. Namun pertanyaannya, apakah transformasi keterampilan tersebut dapat dilakukan dalam skala ratusan ribu pekerja dalam waktu singkat?

Di sinilah kritik mulai bermunculan. Beberapa laporan menyebut program pelatihan yang telah diumumkan masih menjangkau sebagian kecil dari total tenaga kerja yang berpotensi terdampak. Artinya, tantangan sosial yang muncul bisa jauh lebih besar daripada yang diperkirakan. Pemerintah China saat ini menjadikan robotika sebagai salah satu prioritas strategis dalam agenda pembangunan industrinya. Berbagai proyek percontohan robot pengantar makanan, kendaraan logistik otonom, hingga sistem pergudangan otomatis telah diuji di sejumlah kota besar. 

Dorongan tersebut didasari kebutuhan meningkatkan produktivitas di tengah perlambatan ekonomi, meningkatnya biaya tenaga kerja, serta persaingan teknologi global yang semakin ketat. Di sisi lain, ekonomi pekerja lepas (gig economy) China terus membesar. Berbagai laporan memperkirakan jumlah pekerja sektor ini dapat mencapai sekitar 320 juta orang pada 2026, mencakup kurir, pengemudi layanan transportasi daring, hingga pekerja kontrak di sektor manufaktur. Dengan skala sebesar itu, setiap gelombang otomatisasi berpotensi menciptakan dampak sosial yang signifikan. 

Apa yang dilakukan JD.com sebenarnya merupakan bagian dari tren global yang lebih luas. Di Amerika Serikat, Amazon mengumumkan telah mengoperasikan lebih dari satu juta robot di jaringan logistiknya. Robot-robot tersebut digunakan untuk mengangkut barang, menyortir paket, hingga membantu proses pemenuhan pesanan pelanggan. Amazon juga mengembangkan model AI bernama DeepFleet untuk mengatur pergerakan armada robot secara lebih efisien. 

Perusahaan itu menegaskan bahwa robot digunakan untuk mengambil alih pekerjaan yang berat dan berulang, sementara pekerja manusia diarahkan ke tugas yang membutuhkan keterampilan teknis lebih tinggi. Sejak 2019, Amazon mengklaim telah meningkatkan keterampilan lebih dari 700 ribu pekerjanya melalui berbagai program pelatihan teknologi. 

Namun para pengamat ketenagakerjaan mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan otomatisasi dapat menciptakan ketimpangan baru. Lapangan kerja memang muncul, tetapi tidak selalu dapat diakses oleh pekerja yang kehilangan pekerjaan lama karena perbedaan keterampilan, pendidikan, maupun usia. 

Kelompok yang optimistis melihat robot sebagai alat yang dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi pekerjaan berbahaya dan melelahkan. Mereka berpendapat bahwa seperti revolusi industri sebelumnya, teknologi baru pada akhirnya akan menciptakan profesi-profesi baru yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.

Sebaliknya, kelompok yang lebih kritis mempertanyakan kecepatan perubahan yang sedang terjadi. Mereka menilai penciptaan pekerjaan baru belum tentu mampu mengimbangi hilangnya pekerjaan lama, terutama bagi pekerja berpendidikan rendah yang mendominasi sektor logistik dan pengiriman.

Perdebatan ini menjadi semakin relevan karena perkembangan AI dan robotika tidak lagi berada dalam tahap eksperimental. Teknologi tersebut kini mulai diterapkan secara nyata di gudang, pabrik, pusat distribusi, bahkan layanan pelanggan. Persoalan ini bukan sekadar tentang robot yang lebih cepat mengantar paket atau perusahaan yang lebih efisien mengurangi biaya operasional. Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana masyarakat mempersiapkan manusia menghadapi perubahan tersebut.

Sejarah menunjukkan bahwa setiap lompatan teknologi selalu menghadirkan dua wajah sekaligus, antara kemajuan dan kegelisahan. Mesin uap pernah mengubah dunia kerja. Komputer pernah ditakuti akan menghapus jutaan pekerjaan. Kini giliran AI dan robotika yang berada di persimpangan itu.

Mungkin profesi kurir suatu hari memang akan berubah atau bahkan menghilang. Namun yang sesungguhnya sedang diuji bukanlah kemampuan robot untuk bekerja lebih cepat daripada manusia, melainkan kemampuan manusia untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap membawa manfaat yang adil bagi semua orang. Sebab ukuran keberhasilan sebuah inovasi bukanlah seberapa banyak pekerjaan yang dapat digantikan mesin, melainkan seberapa banyak kehidupan manusia yang dapat ditingkatkan karenanya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll