Gaza Tetap Berdarah, Gencatan Senjata Rapuh, dan Krisis Kemanusiaan di Palestina

Serangan udara yang terjadi pada Sabtu dini hari di Jalur Gaza kembali mencatat angka korban yang...

Gaza Tetap Berdarah, Gencatan Senjata Rapuh, dan Krisis Kemanusiaan di Palestina

Politik
01 Feb 2026
306 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Gaza Tetap Berdarah, Gencatan Senjata Rapuh, dan Krisis Kemanusiaan di Palestina

Serangan udara yang terjadi pada Sabtu dini hari di Jalur Gaza kembali mencatat angka korban yang berat, meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober 2025. Menurut data medis di Gaza, setidaknya lebih dari 30 warga Palestina tewas dalam gelombang serangan udara yang menghantam sejumlah wilayah pemukiman dan fasilitas sipil di Gaza City, Khan Younis, serta sejumlah titik lain sepanjang Selasa dan Sabtu malam. 

Serangan di lingkungan Rimal, Gaza barat, menewaskan lima warga, di antaranya tiga anak dan dua perempuan, setelah sebuah apartemen tempat tinggal menjadi sasaran tembakan udara. Di Khan Younis, tragedi lebih besar terjadi ketika sebuah tenda yang menampung pengungsi dilumatkan, menewaskan tujuh anggota satu keluarga, termasuk tiga cucu yang masih kecil. 

Selain itu, serangan juga menghantam kantor polisi Sheikh Radwan di Kota Gaza, menewaskan belasan petugas, termasuk sejumlah polisi perempuan. Serangan lain mengenai rumah-rumah tinggal di al-Tuffah dan al-Nasr, serta sebuah kamp pengungsian, menambah daftar panjang kerusakan dan korban jiwa dalam beberapa jam terakhir. 

Seorang saksi mata yang enggan disebutkan namanya hanya sempat berkata kepada wartawan di Gaza City,

“Kami hidup dari reruntuhan. Anak-anak kami terbangun oleh suara bom, bukan suara tawa.”

Data terbaru menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata yang diumumkan pada 10 Oktober 2025, ratusan pelanggaran telah tercatat. Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan lebih dari 400 warga tewas dan lebih dari 1.100 luka-luka akibat pelanggaran gencatan senjata, termasuk serangan udara, tembakan senjata, dan pembongkaran rumah. 

Menurut laporan PBB dan lembaga kemanusiaan internasional, kekerasan terus terjadi meski kesepakatan sudah disepakati, dengan warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan masih menjadi sasaran utama dan mengalami dampak terberat dari konflik yang berkepanjangan. Ajith Sunghay, Kepala Urusan HAM PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, mengatakan, “Krisis di Gaza masih jauh dari akhir. Setiap hari, warga sipil—baik di dalam rumah, kamp pengungsi, maupun di tempat pengungsian—terus dibunuh, meskipun ada perjanjian gencatan senjata.” 

Data statistik sejak perang dimulai pada Oktober 2023 mencatat korban tewas menembus puluhan ribu warga Palestina, dan sebagian besar adalah keluarga yang tidak bersenjata. Sebuah analisis oleh otoritas kesehatan setempat memperkirakan bahwa lebih dari 65 persen korban adalah perempuan, anak-anak, dan lanjut usia, menunjukkan betapa besar beban kemanusiaan yang ditanggung oleh warga sipil. 

Krisis kemanusiaan semakin parah dengan terhambatnya masuknya bantuan dan suplai dasar seperti bahan bakar, obat-obatan, dan makanan. Situasi tersebut memperburuk kondisi kesehatan publik di Gaza yang infrastrukturnya telah hancur hampir total selama dua tahun konflik. 

Di atas kertas, angka-angka statistik menggambarkan dimensi tragedi yang semakin meluas. Mulai dari korban yang terus bertambah, rumah-rumah luluh lantak, dan gencatan senjata yang berkali-kali diuji. Namun di balik implikasi politik dan militer itu, apa yang paling rapuh bukanlah perbatasan, melainkan rasa aman kaum sipil yang tinggal di Gaza. Cerita korban perang tidak cukup menggambarkan derita keluarga yang kehilangan anak, rumah, dan masa depan. Dalam konflik masa kini, gencatan senjata bukan hanya soal berhentinya tembakan, tetapi soal keadilan, kemanusiaan, dan ruang hidup yang layak bagi mereka yang terjebak di tengahnya.

Data statistik bukan sekadar angka. Inilah kisah tentang manusia yang terperangkap antara kebutuhan dasar dan kekerasan yang tak kunjung berhenti sebagai krisis akut di Palestina. Dunia menyaksikan, namun waktu terus bergulir dan penderitaan tidak berhenti. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll