Dalam langkah yang jarang terjadi di Jepang, Perdana Menteri Sanae Takaichi secara resmi membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) pada 23 Januari 2026, hanya tiga bulan setelah dilantik sebagai perdana menteri. Langkah yang memicu kontroversi domestik, sentimen pasar, serta ketegangan geopolitik di Asia-Pasifik. Langkah ini dilakukan untuk pemilihan umum lebih awal (snap election) yang dijadwalkan pada 8 Februari 2026 dan sebagai sebuah ujian politik yang akan menentukan arah pemerintahan Tokyo di tengah dinamika ekonomi dan keamanan regional.
Dalam konferensi pers pengumuman pembubaran parlemen, Takaichi menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil untuk memberikan ruang bagi rakyat Jepang menentukan kepemimpinan dan arah kebijakan nasional secara langsung. “Saya percaya bahwa satu-satunya pilihan adalah rakyat, sebagai warga negara yang berdaulat, untuk memutuskan apakah Sanae Takaichi harus menjadi perdana menteri,” ujar Takaichi, menempatkan masa depannya secara pribadi sebagai taruhannya dalam pemilu mendatang.
Takaichi sendiri adalah perdana menteri perempuan pertama dalam sejarah Jepang, menjabat sejak Oktober 2025 setelah memenangkan kursi presiden Partai Demokrat Liberal (LDP). Kehadirannya di pucuk pimpinan partai konservatif terbesar Jepang sempat disambut sorotan luas, terutama terkait janji-janji reformasi ekonomi dan kebijakan keamanan yang lebih tegas.
Namun, meski sempat menikmati dukungan publik yang tinggi, rating persetujuannya menurun menjelang pemilu, dengan survei terbaru menunjukkan angka persetujuan sekitar 67% hingga 57% tergantung lembaga survei. Ini menunjukkan sentimen publik yang mulai berpindah, terutama menimbang isu ekonomi dan biaya hidup yang masih menjadi kekhawatiran utama masyarakat.
Dilansir The Business Times, langkah membubarkan parlemen memiliki beberapa motivasi strategis, agar mendapatkan mandat langsung dari rakyat atas agenda kebijakan Takaichi sebelum sidang anggaran utama berlangsung, termasuk suspensi sementara pajak konsumsi pada bahan makanan hingga dua tahun, serta rencana stimulus ekonomi besar yang diperkirakan mengurangi pendapatan negara sekitar ¥5 triliun per tahun.
Selain itu, untuk mengukuhkan basis politiknya di tengah koalisi LDP–Japan Innovation Party (JIP), setelah sekutu lama LDP, Partai Komeito, memutus kerja sama akibat perbedaan kebijakan internal terutama soal reformasi pendanaan politik dan ideologi moderat. Mengatasi mayoritas tipis di parlemen, khususnya di majelis rendah, yang membuat legitimasi pemerintahan saat ini rapuh dan sulit meloloskan undang-undang penting tanpa dukungan oposisi.
Keputusan Takaichi untuk memulai kampanye hanya 16 hari sebelum hari pemilihan juga menghasilkan kritik karena dinilai mengurangi ruang bagi diskusi kebijakan yang mendalam di tengah sidang parlemen. Di sisi lain, Takaichi berargumen bahwa proses ini penting agar agenda kebijakan yang sudah diusung bisa segera dieksekusi tanpa tersendat.
Keputusan Takaichi tidak lepas dari kritik tajam. Oposisi menilai pembubaran parlemen itu menunda pengesahan anggaran penting yang dibutuhkan untuk mendukung langkah-langkah ekonomi dan sosial, terutama ketika tekanan inflasi masih terasa kuat di tengah rumah tangga Jepang.
Yoshihiko Noda, pemimpin salah satu partai oposisi utama dalam aliansi baru Centrist Reform Alliance, menyatakan bahwa pemilu ini seharusnya bukan prioritas ketika rakyat sedang menghadapi “tantangan nyata dalam kehidupan sehari-hari.” Aliansi oposisi ini dibentuk oleh beberapa partai, termasuk Partai Demokrat Konstitusional Jepang dan Komeito, berupaya menawarkan alternatif kebijakan yang lebih inklusif dan fokus pada kesejahteraan sosial.
Keputusan politik Takaichi juga berdampak signifikan di pasar keuangan. Bank of Japan (BoJ) memperingatkan tentang lonjakan tajam imbal hasil obligasi pemerintah hingga mencapai level tertinggi dalam hampir tiga dekade, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kebijakan fiskal yang ekspansif di masa pemilu. Kondisi pasar tersebut memicu volatilitas pada nilai tukar yen dan menimbulkan spekulasi tentang potensi kenaikan suku bunga di masa mendatang.
Selain isu domestik, pemilu dini ini juga terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat di Asia-Pasifik. Takaichi telah membuat pernyataan yang lebih tegas terkait kemungkinan keterlibatan Jepang jika konflik militer terjadi antara China dan Taiwan. Sebuah pertaruhan diplomatik yang memicu kritik dari Beijing dan penolakan keras pemerintah China yang menyebutnya sebagai urusan internal Jepang.
Baru-baru ini, Takaichi juga menekankan bahwa aliansi Jepang–Amerika Serikat (AS) bisa runtuh jika Tokyo mengabaikan krisis Taiwan. Pernyataan ini menegaskan kembali peran Jepang dalam struktur keamanan regional sambil memicu ketegangan baru dalam hubungan bilateral dengan Beijing.
Selain faktor politik dan ekonomi, cuaca musim dingin ekstrem di sejumlah wilayah Jepang diperkirakan akan memengaruhi tingkat partisipasi pemilih pada 8 Februari, dengan laporan awal menunjukkan gangguan logistik kampanye dan pengurangan pemasangan materi kampanye karena salju tebal. Hal ini memberi dimensi tambahan pada dinamika pemilu, karena partai politik harus menyesuaikan strategi mereka di tengah kondisi ini.
Pemilu 8 Februari akan berlangsung, yang bukan sekadar kontestasi kursi di parlemen. Tetapi ia semacam referendum luas atas arah kebijakan nasional Jepang. Dari strategi ekonomi, peran internasional, pengamanan konstitusi pascaperang, hingga hubungan dengan kekuatan besar seperti China dan AS.
Jika Takaichi berhasil memperkuat mayoritas parlemen, ia akan memiliki legitimasi kuat untuk mengejar agenda kebijakan yang lebih konservatif dan proteksionis. Sebaliknya, jika oposisi berhasil meraih dukungan signifikan, ada kemungkinan pergeseran menuju kebijakan yang lebih moderat, berfokus pada penyelesaian isu sosial dan ekonomi domestik di tengah tekanan global.
Dalam konteks demokrasi modern, keputusan untuk meminta kehendak rakyat melalui pemilu dini adalah refleksi dari kepercayaan pada prinsip kedaulatan rakyat. Namun hasilnya juga berisiko memperuncing perpecahan politik, memperdalam ketidakpastian ekonomi, dan menguji daya tahan institusi demokrasi Jepang dalam menghadapi tantangan domestik dan global sekaligus. (Red)