Gelombang protes mengguncang Republik Islam Iran dan terus meluas dalam beberapa hari terakhir. Menyebar ke 222 lokasi di 26 provinsi, melibatkan buruh, mahasiswa, dan warga sipil di tengah pengerahan aparat keamanan.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (Human Rights Activists News Agency/HRANA) melaporkan bahwa demonstrasi yang telah berlangsung selama delapan hari berturut-turut itu, telah menelan korban jiwa dan memicu penangkapan massal. Hingga Ahad, sedikitnya 20 orang dilaporkan tewas, sementara hampir 1.000 orang ditangkap oleh aparat keamanan dalam rangkaian aksi tersebut.
Menurut laporan rinci HRANA yang dikutip kantor berita internasional Anadolu, protes telah menyebar ke 222 lokasi di 78 kota yang tersebar di 26 provinsi di seluruh Iran. Skala sebaran ini menunjukkan bahwa gelombang unjuk rasa tidak hanya terpusat di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau wilayah-wilayah kecil dan pinggiran, mencerminkan meluasnya ketidakpuasan sosial di berbagai lapisan masyarakat.
Aksi massa yang terjadi mencakup berbagai bentuk, mulai dari unjuk rasa di jalanan, pemogokan buruh, hingga demonstrasi yang dipimpin oleh mahasiswa di lingkungan kampus. HRANA mencatat bahwa sedikitnya 17 universitas terlibat dalam gelombang protes ini.
Keterlibatan mahasiswa memperlihatkan bahwa perguruan tinggi kembali menjadi salah satu ruang penting bagi ekspresi kritik sosial dan politik, meskipun aparat keamanan meningkatkan pengerahan pasukan untuk membubarkan massa.
Dalam laporan yang sama, HRANA menyebutkan bahwa sedikitnya 990 orang telah ditangkap sejak awal protes. Namun, lembaga tersebut menegaskan bahwa angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi, mengingat keterbatasan akses informasi dan pembatasan media di sejumlah wilayah.
Penangkapan dilakukan baik terhadap individu maupun kelompok, dengan sebagian besar tahanan dipindahkan ke penjara-penjara setempat. Penangkapan massal dilaporkan terjadi di berbagai kota, termasuk Yazd, Isfahan, Kermanshah, Shiraz, dan Behbahan. Sejumlah penahanan dikaitkan dengan aktivitas di media sosial, sementara lainnya terjadi saat bentrokan langsung antara demonstran dan aparat keamanan di jalanan.
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana ruang digital dan ruang publik sama-sama menjadi sasaran pengawasan ketat selama gelombang protes berlangsung.
HRANA juga melaporkan bahwa sedikitnya 20 orang tewas selama kerusuhan terjadi. Korban tewas terdiri atas mahasiswa, buruh, dan warga sipil, dengan rentang usia antara 16 hingga 45 tahun. Dari jumlah tersebut, satu korban dilaporkan berasal dari unsur aparat keamanan dan penegak hukum. Selain korban meninggal, setidaknya 51 orang lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar akibat tembakan peluru karet dan butiran peluru plastik yang dilepaskan oleh aparat.
Di luar laporan HRANA, kantor berita lokal Kurdpa melaporkan sedikitnya 30 orang terluka dalam demonstrasi di wilayah Malekshahi. Sementara itu, HRANA juga mengonfirmasi adanya dugaan kekerasan terhadap kalangan profesional hukum. Seorang pengacara bernama Nasser Rezaei Ahangarany dilaporkan dipukuli oleh aparat keamanan saat mengikuti aksi protes di Khorramabad pada 3 Januari.
Gelombang protes ini dipicu oleh persoalan ekonomi yang semakin menekan kehidupan masyarakat Iran. Lonjakan inflasi, melemahnya nilai mata uang rial, menurunnya daya beli, ketidakstabilan pasar, serta meluasnya ketidakamanan pekerjaan disebut sebagai faktor utama yang mendorong kemarahan publik. Dalam beberapa tahun terakhir, krisis ekonomi Iran diperburuk oleh sanksi internasional, salah urus kebijakan, serta keterbatasan akses terhadap pasar global.
HRANA mencatat bahwa slogan-slogan yang disuarakan para demonstran tidak berfokus pada satu isu tunggal. Selain menyoroti kesulitan ekonomi, banyak tuntutan yang mengkritik tata kelola pemerintahan, menuntut transparansi, serta menyerukan kebebasan sipil yang lebih luas. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi telah berkelindan dengan krisis kepercayaan terhadap institusi negara.
Perbedaan gelombang protes kali ini dengan sebelumnya adalah luasnya partisipasi masyarakat. Aksi tidak hanya terjadi di pusat-pusat kota besar seperti Teheran atau Isfahan, tetapi juga di kota-kota kecil, dengan keterlibatan buruh, mahasiswa, pelajar, dan warga sipil dari berbagai latar belakang sosial. Fenomena ini menandakan bahwa ketidakpuasan telah menjadi pengalaman kolektif, bukan lagi isu sektoral.
Rangkaian protes ini memperlihatkan bagaimana tekanan ekonomi yang berkepanjangan dapat berubah menjadi krisis sosial dan politik. Ketika kebutuhan dasar semakin sulit dipenuhi dan ruang ekspresi publik menyempit, protes menjadi saluran terakhir bagi warga untuk menyuarakan kegelisahan mereka.
Situasi di Iran kembali mengingatkan dunia bahwa stabilitas tidak hanya ditentukan oleh keamanan, tetapi juga oleh keadilan ekonomi, keterbukaan politik, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. (Red)