Sebuah kisah cinta yang mungkin akan berakhir karena kematian, tetapi cinta akan terus hidup bahkan setelah kematian memisahkan dua manusia. Itulah inti yang disampaikan oleh Sufiyum Sujatayum. Film Malayalam karya Naranipuzha Shanavas ini tidak hanya berbicara tentang bagaimana dua orang memperjuangkan cinta, melainkan tentang bagaimana cinta yang pernah tumbuh itu menetap begitu lama di dalam diri seseorang, bahkan ketika kehidupan telah memaksa mereka berjalan ke arah yang berlainan sesuai nasib dan kepentingan.
Film ini mungkin terasa beraroma kisah Layla-Majnun, tetapi hubungan keduanya bukanlah sebuah adaptasi langsung. Layla-Majnun karya Nizami Ganjavi merupakan pengolahan sastra Persia atas legenda Arab tentang Qays dan Layla. Nizami menyelesaikan puisinya pada tahun 1188 dan menjadikan kisah cinta yang tak sampai itu bukan sekadar roman, melainkan juga alegori tentang kerinduan manusia kepada sesuatu yang tak sepenuhnya dapat dimiliki. Dalam tradisi sastra setelahnya, sosok Qias yang Majnun dilekatkan sebagai figur pecinta yang kehilangan dirinya dalam kerinduan.
Namun jika hendak mencari padanan Layla-Majnun dalam Sufiyum Sujatayum, kita tidak perlu memaksakan Sufi sebagai Majnun dan Sujata sebagai Layla secara harfiah. Lebih tepat jika keduanya dilihat sebagai dua figur yang membawa tema serupa tentang cinta yang berhadapan dengan keluarga, agama, waktu, dan dunia sosial yang jauh lebih besar daripada kehendak pribadi mereka.
Jika Qais adalah lelaki yang menjadi "Majnun" dan Layla adalah perempuan yang dicintainya, dalam Sufiyum Sujatayum konfigurasi itu seolah diposisikan melalui Sufi dan Sujata. Kisah Layla-Majnun yang berakar dari tradisi Arab dan memperoleh bentuk sastranya dalam bahasa Persia melalui Nizami Ganjavi pada 1188 seakan menemukan gema barunya di India melalui kisah Sujata dan Sufi. Bedanya, Shanavas tidak sedang menyalin cerita Nizami, melainkan memindahkan gagasan tentang cinta yang tak selesai ke dalam lanskap Kerala, dalam perjumpaan antara Hindu dan Muslim, antara tarian Kathak dan gerak Darwish, antara lantunan azan dan musik, serta antara realitas rumah tangga dan masa lalu yang belum benar-benar mati.
Film ini ditulis dan disutradarai oleh Naranipuzha Shanavas, dengan Dev Mohan sebagai Sufi, Aditi Rao Hydari sebagai Sujata, dan Jayasurya sebagai Rajeev. Dengan musik garapan M. Jayachandran, film ini dirilis langsung melalui Amazon Prime Video pada 3 Juli 2020 dan tercatat sebagai film Malayalam pertama yang tayang perdana di platform streaming (OTT) ketika pandemi mengganggu distribusi bioskop secara besar-besaran.
Sufiyum Sujatayum tentu bukan sekadar kisah cinta biasa yang kebetulan disatukan oleh seutas tasbih. Meskipun di dalam banyak narasi romantis cinta sering kali dimunculkan, diabadikan, dan dihidupkan kembali melalui sebuah relik fisik yang bertindak sebagai jangkar ingatan. Dan dalam film ini relik itu adalah seutas tasbih yang tak sebatas peran sebagai benda biasa, bahkan jauh melampaui sekadar atribut puitis semata.
Tasbih itu menjelma menjadi sebuah benda kecil dengan muatan makna yang jauh lebih besar daripada ukurannya. Ia berpindah dari tangan Sufi kepada Sujata, dan dari proses perpindahan itu, terjadilah sebuah transformasi yang menjadi semacam jejak profetik yang merajut kembali dua dunia yang secara sosial, kultural, dan keagamaan dipisahkan sebagai pagar pembatas yang kaku. Namun d tangan mereka, tasbih tidak lagi sekadar benda mati, melainkan saksi bisu atas sebuah perjumpaan batin yang tak lekang oleh ruang dan waktu.
Dalam lanskap film-film romantis pada umumnya, benda-benda semacam itu kerap kali berhenti sebagai simbol kenangan sentimental belaka. Namun, di tangan Naranipuzha Shanavas, benda untaian tasbih ditarik ke dalam wilayah yang lebih sakral dan berlapis, mengusung dimensi spiritual yang kontradiktif sekaligus indah. Sebagai sesuatu yang hakikatnya diciptakan dan digunakan manusia untuk mengingat Sang Pencipta, alat untuk melafalkan zikir dan mendekatkan diri kepada Tuhan, diubah menjadi medium yang menyayat hati, yakni pengantar bagi seseorang untuk mengenang manusia yang amat dicintainya di dunia. Membuatnya batas antara cinta ilahi (ilahiyah) dan cinta insani (syari'ah) menjadi melebur, menjadikan tasbih sebagai jembatan penanda kerinduan yang abadi.
Sufi adalah seorang pengembara spiritual, seorang salik atau seorang yang menempuh jalan batin yang tidak sepenuhnya tertarik kepada kehidupan duniawi sebagaimana manusia kebanyakan. Ia datang dan pergi, tetapi ada satu tempat yang terus memanggilnya, adalah masjid kecil di pinggiran tempat ia pernah menemukan guru sekaligus menemukan cintanya.
Sufi menghidupkan masjid yang tersisihkan ketika perhatian orang-orang lebih mudah tertuju kepada bangunan-bangunan besar. Karena itu, Sufi tidak tepat jika hanya disebut sebagai marbot atau sebatas penjaga kebersihan masjid. Lebih elok ia sebagai gambaran seseorang yang mengabdikan dirinya kepada ruang spiritual dan komunitas di sekitarnya. Karena itu, film ini hendak memberi kesan bahwa pengabdiannya kepada masjid bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari cara ia memahami hidup.
Membaca karakter tokoh Sufi, mungkin akan kita ingat pada jamaah Tabligh yang memang berkembang di India, Pakistan, dan Bangladesh. Tetapi Sufi tidak perlu dibaca sebagai representasi langsung Jamaah Tabligh. Mungkin lebih tepat kiranya jika dilihat sebagai figur seorang pengembara sufi yang hidup di antara disiplin keagamaan dan kebebasan seorang pencari yang sendirian. Film ini juga tidak memberi landasan yang cukup untuk menyebutnya anggota Jamaah Tabligh. Karena itu, menyamakan Sufi dengan gerakan tertentu hanya akan mempersempit karakter yang sengaja dibuat lebih mistis dan personal.
Sufi digambarkan bukan sebagai lelaki yang banyak bicara, melainkan sebagai seorang pengembara sunyi yang menyandarkan hari-harinya pada keheningan masjid. Aktivitasnya berkisar antara menghidupkan sudut-sudut masjid dan melakoni perannya sebagai penari Darwish, yang berputar mengikuti ritme bimbingan gurunya, Aboob.
Di sinilah Sufiyum Sujatayum mulai memperkenalkan lapisan bahasa keduanya, adalah bahasa tubuh. Bagi Sufi, ekspresi jiwa tidak pernah sepenuhnya bergantung pada dialog verbal, malahan lebih lantang berbicara melalui tarikan napas, ayunan tangan, dan gerak fisik yang merentang dalam keintiman antara seorang hamba dan Sang Maha.
Tarian Darwish yang ditampilkan dalam film ini tentu saja memiliki akar yang erat dengan tradisi ?sema? dalam tarekat Mevlevi, sebuah laku spiritual yang lekat dengan warisan pemikiran Jalaluddin Rumi. Kendati demikian, film ini tidak untuk menyederhanakannya sekadar menjadi "tarian Rumi" yang dikapitalisasi dan dieksotisasi. Dalam tradisi Mevlevi, gerak berputar, alunan musik, dan rangkaian ritual memiliki struktur teologis serta sejarah panjang yang sakral. Sutradara mengolah elemen-elemen itu secara cermat sebagai idiom sinematik untuk memvisualisasikan gejolak batin Sufi. Karena bagi seorang sufi, atau di hadapan Sufi, membuat tubuh kehilangan statusnya sebagai materi hampa, melainkan bertransformasi menjadi wadah zikir, di mana setiap putaran adalah bentuk doa yang melampaui batas-batas kata.
Kunjungan kembali Sufi ke Masjid Jin tentu tidak bisa sekadar dibaca sebagai perjalanan fisik biasa, melainkan alegori sebuah peziarahan batin menuju inti eksistensinya yang paling dalam. Ia pulang bukan sekadar pada dinding-dinding bangunan yang bisu, melainkan kepada ruang suci yang merawat kenangan, menengok makam sang guru yang telah membimbingnya, dan komunitas yang pernah mengenalnya, serta yang paling purba tentang memori cinta yang pernah tumbuh dan bersemi di sana.
Lalu, muncul pertanyaan apakah kepulangan ini merupakan sebuah firasat bahwa umurnya tak lagi panjang, pertanda bahwa maut sedang mengintai di tikungan jalan? Film ini memang sengaja menebarkan aura misteri dan kesan demikian. Namun, alih-alih terpaku penafsiran pada konsep mistis seperti ?kasyf? atau penyingkapan batin dalam tradisi sufisme, adalah jauh lebih masuk akal jika kita memaknai kepulangannya sebagai sebuah intuisi sinematik. Seolah-olah takdir sedang menarik tali kekangnya, memperingatkan bahwa seorang pengembara yang telah melanglang buana pada akhirnya harus kembali ke tempat di mana ia pernah meninggalkan separuh jiwanya yang belum tuntas. Berharap di persimpangan sunyi takdir itulah, di tengah pusaran masa lalu yang berbisik lirih, ia akan menemukan kembali Sujata.
Sujata adalah seorang perempuan dari keluarga Hindu yang tinggal di dekat kawasan Masjid Jin. Tempat di mana Sufi pertama kali bertemu dengan gurunya, Aboob. Ia merupakan seorang penari Kathak yang memiliki keterbatasan dalam berbicara (tuna wicara). Namun, justru di balik keterbatasan suara verbalnya, tubuh Sujata menemukan kebebasan mutlak untuk berekspresi dan menyampaikan isi hatinya melalui bahasa tarian.
Ia datang kepada Guru Aboob dengan harapan mendapatkan iringan musik untuk tariannya, dan di sanalah dunia Sujata bersilangan dengan dunia Sufi. Pertemuan mereka tidak pernah menuntut banyak kata. Cukup melalui alunan musik, tatapan mata, gerak-gerik tubuh, guratan gambar di buku catatan sebagai medium komunikasi, hingga perantara tasbih yang mengambil alih fungsi kata-kata untuk menjembatani interaksi di antara mereka.
Aspek ini menjadi sangat penting karena film ini sebenarnya tengah berbicara tentang esensi komunikasi yang melampaui batasan lisan. Sujata mungkin tidak bisa bercakap-cakap, tetapi ia bukanlah sosok yang kehilangan suara. Melalui gerak tubuhnya yang puitis, ia menemukan suara aslinya yang paling jujur.
Adegan pertemuan pertama antara Sufi dan Sujata terasa romantis dengan cara yang sangat klasik. Mereka awalnya berjumpa sebagai sesama penumpang bus. Selepas turun dan berjalan meninggalkan kendaraan tersebut, tasbih kepunyaan Sufi tertinggal di jok kursi. Sujata, yang turun belakangan, menemukan dan mengambil benda yang tertinggal itu. Siapa sangka, benda kecil yang tertinggal tersebut justru menjadi pintu gerbang awal bagi hubungan mereka.
Tasbih itu laksana kalimat pembuka yang tak pernah diucapkan secara lisan. Dari benda sakral itulah, jalinan kasih di antara keduanya bergerak perlahan, bukan melalui deklarasi cinta yang berlebihan atau gombalan klise, melainkan melalui tatapan mata, kedekatan batin, laku tarian, dan ruang-ruang sunyi yang penuh makna. Di sinilah Naranipuzha Shanavas membuktikan kepekaannya dengan memilih bahasa sinema yang kaya secara visual.
Sebagai perempuan dengan keterbatasan bicara namun memiliki kecakapan luar biasa dalam menari Kathak, Sujata menjelma menjadi "tubuh yang berbicara" tatkala kata-kata tak lagi sanggup mewakili isi hati. Sutradara kemudian mengolaborasikan tarian Kathak dengan gerak berputar Darwish. Perpaduan artistik tersebut mencapai salah satu momen paling ikonik dalam film: ketika Sufi mengumandangkan azan di Masjid Jin, sementara Sujata di kediamannya bergerak gemulai dalam tarian Kathak, seolah-olah merespons panggilan tersebut secara batiniah.
Adegan itu dapat dibaca sebagai sesuatu yang jauh melampaui batas-batas romantisme konvensional. Azan adalah seruan suci menuju Tuhan, sedangkan Kathak adalah ekspresi ragawi yang berakar dari tradisi klasik India. Sufi dan Sujata lahir dari dua komunitas yang berbeda secara sosiokultural. Namun, film ini berhasil mempertemukan keduanya melalui universalitas musik dan gerak.
Di titik itu, agama tidak sedang dihapuskan, begitu pula dengan perbedaan yang tidak sedang disangkal. Apa yang dilakukan film ini adalah memperlihatkan bagaimana manusia dapat menyelami esensi rasa yang sama melalui bentuk ekspresi yang berbeda.
Pencapaian artistik inilah yang kerap dipuji sebagai salah satu kekuatan terbesar Sufiyum Sujatayum. Kendati demikian, di sinilah pula film ini menyimpan celah kelemahannya. Sejumlah kritikus menilai bahwa tema besar mengenai cinta lintas agama dan sufisme tersebut hanya disentuh di permukaan. S.R. Praveen dari The Hindu, misalnya, berpendapat bahwa unsur cinta dan sufisme dalam film ini masih terasa skin-deep (sebatas kulit luar). Sementara itu, Anna M.M. Vetticad dari Firstpost mengkritik dangkalnya eksplorasi hubungan antarkomunitas. Kritikan senada juga dilontarkan oleh The Indian Express, yang menilai bahwa film ini sebenarnya membawa gagasan penting yang sangat relevan dengan situasi masyarakat yang terpolarisasi, tetapi sayangnya membutuhkan penggarapan naratif yang jauh lebih kuat dan mendalam.
Berbagai kritik tersebut tentu memegang peranan krusial karena menegaskan betapa pentingnya Sufiyum Sujatayum untuk dibicarakan dan dibedah. Bagaimana pun, film ini memiliki modal material yang sangat kaya: mulai dari dinamika cinta, agama, sufisme, tarian Kathak, tekanan patriarki keluarga, isu migrasi, institusi perkawinan, bahasa tubuh, hingga prasangka antarkomunitas. Hanya saja, alih-alih membedah kompleksitas tersebut secara radikal dan mendalam, narasi film ini terlalu memilih jalur sunyi yang menyiratkan segalanya melalui gestur puitis ketimbang menyajikannya secara eksplisit.
Di tengah perdebatan mengenai kedalaman narasinya, unsur musik hadir sebagai penyelamat yang memperkuat pengalaman sinematik secara keseluruhan. Lagu "Vathikkalu Vellaripravu" yang digubah oleh M. Jayachandran menjelma menjadi salah satu pintu masuk untuk menghayati atmosfer emosional film ini. Sejalan dengan hal tersebut, The Indian Express mencatat bahwa tata musik memegang peranan vital dalam membangun nada, ritme, dan denyut kisah cinta tragis ini.
Penggunaan instrumen musik tiup dalam film ini seketika mengingatkan kita pada dinamika serupa dalam film Rockstar, tatkala tokoh Jordan menemukan jati dirinya melalui perpaduan musik, kesunyian, dan bimbingan seorang guru yang menuntunnya melintasi batas-batas konvensional.
Kendati demikian, ada perbedaan faktual yang penting untuk dicatat agar tidak terjebak pada penyamaan simbolik yang keliru. Klarinet yang ditiup oleh Guru Aboob bukanlah ney?seruling buluh khas Timur Tengah yang menjadi simbol agung dalam pemikiran sufistik Jalaluddin Rumi. Menyamakan kedua instrumen tersebut tentu tidak tepat secara historis maupun musikal. Namun, secara simbolik, film ini tetap membuka ruang bagi kita untuk merajut percakapan batin di antara keduanya.
Dalam karya monumental Matsnawi, Rumi membuka lembaran kisahnya dengan suara ney, seruling bambu yang meratap karena merindukan kepulangan ke rumpun asalnya di tepi sungai. Dalam pembacaan sufistik, ratapan suara ney menjelma menjadi metafora abadi tentang kerinduan manusia terhadap asal-usul spiritualnya. Berbagai kajian akademik mengenai tradisi Rumi juga selalu menempatkan ney sebagai representasi jiwa yang terasing dari sumber utamanya dan terus mendambakan kepulangan.
Oleh karena itu, ketika telinga kita menangkap alunan musik tiup dalam Sufiyum Sujatayum, kita secara alami dapat terhubung kembali dengan metafora Rumi tersebut. Bukan karena klarinet adalah reinkarnasi dari ney, dan bukan pula karena sutradara secara eksplisit berniat mengadaptasi simbol sufistik klasik itu secara harfiah, melainkan karena kedua instrumen tersebut sama-sama berbicara dalam bahasa universal yang paling jujur, adalah bahasa kerinduan.
Kerinduan sesungguhnya adalah denyut nadi dan intisari dari film ini. Kerinduan itu berdenyut dalam berbagai lapis yang saling bertubrukan antara Sufi yang merindukan Sujata di tengah kesunyian perjalanan kesufiannya, Sujata merindukan Sufi yang tertanam abadi dalam ingatannya, sementara Rajeev, suami Sujata, merindukan keutuhan batin istrinya yang raganya ada di rumah, namun jiwanya tertinggal di masa lalu.
Di sinilah Sufiyum Sujatayum menemukan titik tautnya yang paling esensial dengan legenda Layla-Majnun. Dalam gubahan klasik Nizami Ganjavi, cinta Qais kepada Layla pada akhirnya bergerak melampaui hasrat duniawi akan kepemilikan. Cinta yang pada mulanya diarahkan kepada figur manusia perlahan-lahan bertransendensi, berubah menjadi bentuk kerinduan yang semakin abstrak, murni, dan spiritual. Oleh karena itu, kisah Layla-Majnun sejak dahulu tidak pernah dibaca sekadar sebagai kisah tragis dua kekasih yang gagal bersatu di pelaminan, melainkan sebagai manifesto agung tentang hakikat cinta, kepasrahan, dan kehilangan.
Memang, harus diakui bahwa Sufiyum Sujatayum tidak memiliki kedalaman filosofis yang setara dengan epos klasik Persia tersebut dalam hal penggarapan narasinya. Kendati demikian, film ini meminjam kerangka gagasan yang serupa bahwa cinta dapat mencapai puncak kekuatannya yang paling radikal ketika ia tidak dapat dimiliki sepenuhnya.
Gambaran cinta dalam Sufiyum Sujatayum dengan demikian menggaungkan resonansi yang sama tentang cinta dan kehilangan sebagaimana diwariskan oleh legenda Layla-Majnun. Seperti yang diungkapkan secara getir oleh Rajeev saat menyadari dinamika batin istrinya, hubungan antara Sujata dan Sufi telah melampaui batas-batas relasi manusia pada umumnya. Karena telah menjelma menjadi semacam kegilaan yang tak terjangkau oleh nalar hubungan biasa. Seperti Sujata untuk dapat menaburkan tasbih di pusara Sufi harus berbohong soal paspor agar orang-orang mau membongkar kuburan Sufi. Demi melaksanakan amanat dari Sufi, saat Sujata menerima pemberian kalung tasbih dalam pertemuan terakhir mereka.
Namun, terlepas dari pusaran kerinduan antara Sufi dan Sujata, Rajeev sesungguhnya menjelma sebagai salah satu figur yang paling menarik dan kompleks dalam film ini. Sebagai seorang suami, ia bukan sekadar pelengkap narasi, melainkan pahlawan tanpa tanda jasa dalam hidup Sujata, atau setidaknya, penyelamat dalam fase kehidupan Sujata yang harus berjalan setelah perpisahan dengan Sufi karena cinta yang tak direstui saat mau kawin lari.
Di tengah kultur yang menuntut kesucian emosional yang utuh, Rajeev dengan besar hati memilih untuk merangkul realitas yang rapuh. Ia menerima kenyataan pahit bahwa ada ruang di dalam hati istrinya yang telah terisi dan menjadi milik orang lain jauh sebelum ia datang. Namun ia dengan tabah menerima apa yang disebut sebagai "cinta sisa".
Rajeev menyadari bahwa pernikahan mereka tidak dibangun di atas fondasi cinta pertama yang meletup-letup, melainkan di atas puing-puing kenangan dan kerinduan yang tak pernah sepenuhnya padam. Alih-alih menghancurkan atau memaksa istrinya untuk melupakan, ia memilih untuk membersamai luka sang istri. Ketulusan Rajeev inilah yang sesungguhnya memberikan dimensi kemanusiaan yang paling membumi dalam film ini. Mengingatkan kita bahwa cinta sejati kadang kala bukan tentang memiliki seseorang seutuhnya, melainkan tentang kesediaan untuk mencintai seseorang bersama segala bayang-bayang masa lalunya.
Berbicara mengenai konsep ?cinta sisa?, ungkapan tersebut mungkin terdengar begitu kejam dan menyayat hati, seolah-olah menempatkan pihak yang datang belakangan sebagai sosok malang yang hanya memperoleh remah-remah dari sesuatu yang sudah tidak utuh. Namun, jika direnungkan lebih dalam, bukankah lembaga pernikahan pada hakikatnya memang seringkali berlangsung di antara manusia-manusia yang telah lebih dulu mengarungi sejarah panjang sebelum takdir mempertemukan mereka?
Tidak ada satu pun manusia yang datang ke altar pernikahan dengan lembaran hati yang putih bersih tanpa noda. Setiap orang selalu melangkah masuk dengan membawa muatan masa lalunya masing-masing. Dengan kenangan-kenangannya yang tersimpan rapat, luka batin yang belum sepenuhnya mengering, bayang-bayang kekasih terdahulu, kegagalan di masa lalu, bahkan sudut-sudut rahasia dari kepribadian mereka yang tak pernah sepenuhnya diketahui oleh pasangan hidupnya.
Oleh karena itu, persoalan esensial dalam sebuah komitmen jangka panjang sebenarnya bukanlah tentang apakah seseorang pernah mencintai atau dicintai oleh orang lain sebelum ia menikah. Bagian itu adalah keniscayaan kemanusiaan yang tidak bisa dihapus begitu saja hanya dengan melafalkan janji suci.
Persoalan yang jauh lebih krusial dan menentukan tentang cinta di masa lalu itu apakah sudah benar-benar selesai? Apakah kisah-kisah terdahulu telah tuntas ditutup babnya, atau justru dibiarkan menggantung, menjadi hantu yang terus berbisik dan merongrong keutuhan rumah tangga yang sedang dibangun saat ini? Di sinilah dilema Rajeev dan Sujata menemukan cerminannya yang paling jujur, di mana sebuah pernikahan diuji bukan oleh ada atau tidaknya masa lalu, melainkan oleh bagaimana cara sepasang manusia berdamai dengan bayang-bayang yang enggan pergi.
Benarlah bahwa untuk dapat berbahagia secara utuh dalam sebuah pernikahan, seseorang harus terlebih dahulu selesai dengan masa lalunya. Baik itu cinta pertama, kedua, ketiga, atau berapa pun jumlahnya yang pernah singgah di dalam hidupnya. Jangan sampai ada sisa-sisa cinta yang menggantung, dibiarkan hidup sembunyi-sembunyi, dan menjelma sebagai kamar rahasia yang senantiasa mengusik keharmonisan di dalam rumah tangga. Tema krusial ini kelak akan saya uraikan lebih panjang ketika membedah film With Love, bahwa pernikahan pada hakikatnya bukan sekadar pertemuan fisik antara dua tubuh, melainkan perjumpaan yang kompleks antara dua sejarah batin yang berbeda.
Di sinilah letak daya tarik Rajeev yang begitu memikat, yang tidak pernah berusaha menghapus atau memotong paksa sejarah hidup Sujata. Ketika Sufi akhirnya mengembuskan napas terakhir setelah kembali ke masjid Jin dan mengumandangkan azan, lalu salat dan wafat saat melakukan sujud, Rajeev tidak lantas memilih untuk mengurung Sujata dalam sangkar kesedihan atau melarangnya mengenang masa lalu. Sebaliknya, dengan kelapangan dada yang luar biasa, ia justru mengantar istrinya kembali ke tempat di mana cinta itu mula-mula bersemi. Ia membiarkan Sujata menatap langsung kenyataan pahit itu, agar perempuannya dapat merajut kembali serpihan jiwanya dan menyelesaikan apa yang belum tuntas di dalam dirinya.
Melalui tindakan tersebut, Rajeev menjelma menjadi sosok yang jauh lebih besar daripada sekadar seorang suami konvensional. Ia bertransformasi menjadi manusia berjiwa besar yang memahami bahwa mencintai seseorang dengan tulus kadang-kadang tidak menuntut kepemilikan yang mutlak, melainkan memberikan ruang yang cukup baginya untuk berdamai dengan masa lalunya.
Namun, pertanyaan penting yang mungkin adalah: mengapa cinta antara Sujata dan Sufi harus terhalang oleh restu? Jawabannya tentu tidak sesederhana perbedaan keyakinan agama semata. Meskipun batas agama tampak sebagai garis pemisah yang paling mencolok di permukaan, dan di baliknya terdapat benteng-benteng sosial yang jauh lebih kokoh seperti restu keluarga, kehormatan marga, kelas sosial, proyeksi masa depan, dan kecemasan kolektif orang tua terhadap nasib anak perempuan mereka.
Film ini dengan cermat memperlihatkan bagaimana sebuah urusan cinta yang privat selalu berhadapan dengan struktur sosial yang jauh lebih besar dan rumit daripada sekadar dua individu yang saling kasmaran. Misalnya orang tua Sujata secara tegas menolak hubungan tersebut. Sang ayah bahkan mendatangi Guru Aboob secara langsung untuk menyampaikan kenyataan bahwa Sujata telah dijodohkan dengan Rajeev, seorang pemuda yang bekerja di Dubai. Pada saat yang sama, ia melontarkan kecurigaan bahwa ketertarikan Sufi kepada putrinya bukanlah murni cinta yang tulus, melainkan ditunggangi oleh motif keagamaan.
Kecurigaan semacam ini memegang peranan penting dalam narasi film, karena ia menyingkap bagaimana cinta lintas agama kerap dibaca secara sinis oleh mereka yang berada di luar lingkaran hubungan tersebut. Namun bagi Sufi dan Sujata, yang tumbuh di antara mereka barangkali hanyalah benih-benih cinta yang murni. Tetapi di mata ayah Sujata, hubungan itu menjelma sebagai ancaman nyata terhadap identitas dan kehormatan keluarga.
Ia bahkan menyuarakan kekhawatirannya secara terang-terangan: "Jangan memulai jihad menggunakan dia. Orang-orang akan menuduhmu dan kaummu yang mencoba mengubahnya menjadi agamamu." Ia memandang relasi tersebut berpotensi menjadi semacam "perang untuk meningkatkan populasi kaummu".
Di sinilah istilah "nikah dakwah" mengemuka sebagai bentuk kecurigaan sosial yang hidup di dalam semesta film, meski tidak boleh serta-merta ditelan mentah-mentah sebagai kebenaran objektif. Sepanjang durasinya, film ini tidak pernah memberikan bukti bahwa Sufi memiliki agenda tersembunyi untuk mengislamkan Sujata melalui pernikahan. Tuduhan tersebut justru secara telanjang memperlihatkan cara kerja prasangka dari ayahnya Sujata, tentang bagaimana seseorang cenderung menafsirkan perasaan orang lain melalui lensa identitas kelompok, alih-alih melihat manusia yang berdiri tepat di hadapannya.
Dengan kata lain, ayah Sujata sebenarnya sedang tidak membaca ketulusan hati Sufi. Ia sedang membaca sosok Sufi melalui kacamata ketakutannya sendiri. Dan ketakutan kolektif semacam itu menjadi begitu mudah disuburkan di tengah masyarakat yang memiliki sejarah panjang ketegangan antaridentitas.
Karena itu, film ini menarik jika dibaca dalam konteks India, tempat hubungan Hindu-Muslim memiliki sejarah sosial-politik yang kompleks. Kisah cinta lintas agama dalam sinema India tidak pernah lupa atas diskursus ini. Karena hal demikian selalu membawa persoalan keluarga, komunitas, identitas, dan politik ke dalam ruang privat bernama cinta.
Namun film juga perlu dibaca secara kritis bahwa persoalan sebesar itu sebenarnya hanya disentuh permukaannya. Kritik Anna M. M. Vetticad menunjukkan bahwa film memiliki kesempatan untuk membicarakan penolakan terhadap perkawinan Hindu-Muslim secara lebih sensitif, tetapi memilih lebih banyak menekankan spectacle, musik, dan visual.
Karena itulah, dialog Guru Aboob menjadi penting. Ketika ia mengatakan bahwa agama adalah pandangan seseorang, ia seperti mencoba memisahkan antara keyakinan dengan prasangka terhadap manusia lain. Ia menegaskan kepada ayah Sujata bahwa baik Sujata maupun Sufi tidak akan pernah mengubah pandangan mereka terhadap orang lain.
Tetapi kehidupan nyata tidak sesederhana dialog tersebut tentu saja. Agama bukan hanya pandangan pribadi. Ia juga merupakan identitas sosial, keluarga, komunitas, ritual, sejarah, dan kadang-kadang sumber kekuasaan. Karena itulah cinta lintas agama sering tidak berhenti pada persoalan "aku mencintaimu dan kamu mencintaiku". Ia segera menjadi pertanyaan bagaimana keluarga kita? Bagaimana anak-anak kita? Bagaimana ibadah kita? Bagaimana masyarakat menerima kita? Dan siapa yang harus mengalah?
Film ini juga memperlihatkan lapisan lain yang menarik ketika Sujata datang kepada Sufi saat ia sedang salat. Ia kemudian melakukan gerakan yang menyerupai gerakan Sufi. Adegan itu dapat dibaca sebagai bentuk ketertarikan, empati, atau pencarian kedekatan, tetapi tidak otomatis berarti perpindahan agama.
Di sinilah kita perlu membedakan antara mengalami kedekatan spiritual dengan mengubah keyakinan. Guru Aboob mengetahui kedekatan itu. Dan sebagai seorang guru, ia melihat sesuatu yang mungkin tidak dilihat oleh dua orang yang sedang jatuh cinta bahwa cinta dapat membawa manusia ke tempat yang sangat indah, tetapi juga dapat membuat seseorang lupa pada batas-batas yang sebelumnya ia yakini.
Bagi seorang salik, penempuh jalan tasawuf, Guru Aboob berkata kepada Sufi, "Kalau memang menginginkan teman dan keluarga, ada cara yang lebih tepat untuk melakukannya."
Kalimat itu penting karena menyentuh kontradiksi paling tua dalam kehidupan seorang pencari Tuhan. Bagaimana seseorang memilih antara pengasingan spiritual dan kebutuhan manusiawi untuk mencintai serta dicintai? Islam tidak mengenal konsep kerahiban sebagaimana tradisi monastik tertentu dalam agama lain. Karena itu, Sufi tidak sedang menjadi rahib dalam pengertian teologis. Ia lebih tepat dipahami sebagai figur yang memilih kehidupan spiritual yang jauh dari kehidupan keluarga konvensional.
Tetapi manusia tetap manusia. Seorang salik dapat menempuh jalan panjang menuju Tuhan, tetapi ia tetap dapat merindukan seseorang. Seorang darwis dapat berputar dalam ritual, tetapi hatinya tetap dapat berhenti pada satu nama yang pernah atau selalu dicinta. Sufi sebagai seseorang yang menghabiskan hidupnya di masjid tetap dapat menemukan dirinya terikat kepada seseorang yang hidup di luar masjid itu.
Dan mungkin di situlah paradoks terbesar Sufi. Ia mengembara untuk menemukan Tuhan, tetapi justru menemukan manusia yang membuatnya semakin sadar tentang kerinduan. Ia menghidupkan masjid, tetapi cintanya tumbuh kepada seorang perempuan Hindu. Ia menempuh jalan spiritual, tetapi akhirnya menghadapi persoalan yang sangat manusiawi akan cinta, keluarga, tubuh, kehilangan dan kematian.
Di tengah benturan struktur sosial tersebut, Sujata yang terkunci rapat suara verbalnya, menjelma menjadi tokoh yang paling banyak berbicara melalui kebisuan ragawinya. Tubuhnya menjadi ladang ekspresi yang tak terbatas. Tarian Kathak ia jadikan sebagai bahasa cinta yang paling jujur, sementara gerak berputar Darwish menjadi medium bagi Sufi untuk memantulkan kerinduan batinnya. Di sisi lain, lantunan azan bergema sebagai bahasa spiritual yang merentang melampaui sekat-sekat ruang, dan seutas tasbih bergeser fungsi menjadi bahasa ingatan yang merawat puing-puing memori.
Lalu pada ujung perjalanan yang paling sunyi bagi seorang Sufi adalah maut hadir sebagai bahasa mutlak yang tak mampu lagi dilawan oleh kekuatan cinta mana pun. Itulah paradoks terbesar dari karya Sufiyum Sujatayum yang kerap disangka sebagai sebuah film tentang indahnya tarian dan romantisme, padahal sesungguhnya ia adalah sebuah elegi sunyi tentang keterpisahan.
Sufi dan Sujata menari dengan penuh peluh bukan semata-mata untuk merayakan keindahan seni, melainkan karena keterbatasan dunia yang membuat mereka tidak pernah sanggup merangkum seluruh rasa sakit dan rindu itu ke dalam kata-kata. Mereka akhirnya dipisahkan bukan karena cinta mereka surut, melainkan karena dunia luar memiliki bahasa lain yang jauh lebih keras, bising, dan tak kenal kompromi. Adanya aturan agama, kehormatan keluarga, status sosial, ikatan perkawinan, serta norma kolektif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Di tengah puing-puing tragis keterpisahan tersebut, Rajeev hadir sebagai sosok yang meredefinisikan makna akhir dari sebuah hubungan. Ia membuktikan bahwa cinta sejati tidak selalu harus bermuara pada kepemilikan ragawi. Melalui kelapangan dadanya, Rajeev menjelma menjadi lambang cinta yang lebih matang dan dewasa. Keberanian untuk mengakui bahwa orang yang kita cintai membawa sejarah masa lalu yang takkan pernah bisa kita hapus, diikuti dengan keikhlasan untuk menuntun dan membantu orang agar berdamai sepenuhnya dengan bayang-bayang yang tertinggal di belakang.
Mungkin karena seluruh dinamika rumit itulah, Rajeev justru menjelma sebagai figur yang paling sunyi dalam kisah ini. Sufi memperoleh keabadian cinta. Sujata memperoleh kenangan yang merawat jiwanya. Tetapi Rajeev memikul beban emosional yang paling berat dan paling sulit diterima oleh kebanyakan manusia tentang keikhlasan untuk mencintai seseorang yang sebagian hatinya telah lebih dulu diserahkan kepada masa lalu.
Pada akhirnya, Sufiyum Sujatayum jauh melampaui batas-batas narasi tentang benturan antara Hindu dan Muslim. Film ini juga bukan semata-mata kisah tentang cinta terlarang yang kandas oleh norma. Ia adalah sebuah refleksi universal tentang manusia yang sepanjang hidupnya terus memikul beban sesuatu yang telah hilang.
Di sinilah letak pertalian batin yang paling dalam antara film ini dengan jalan sunyi kesufian Jalaluddin Rumi. Sebagaimana ratapan ney?seruling buluh yang senantiasa merintih karena merindukan rumpun asalnya di tepi sungai, manusia pun kerap menjalani sisa hari-harinya dengan membawa suara kehilangan yang tak pernah sepenuhnya dapat dijelaskan oleh kata-kata. Kita mencintai seseorang karena ketakutan yang mendalam akan kehilangan. Kita kehilangan seseorang karena kita pernah mencintainya dengan sepenuh hati. Dan setelah kehilangan itu benar-benar terjadi, kita sering kali menghabiskan sebagian sisa hidup kita untuk mencari kembali sesuatu yang hakikatnya takkan pernah bisa kembali dalam wujud yang sama.
Sebab cinta, pada titik paling hakikatnya, bukan sekadar tentang mendapatkan dan memiliki seseorang seutuhnya. Cinta juga tentang keberanian untuk merelakan, dan kesadaran bahwa ada kalanya seseorang ditakdirkan untuk singgah di dalam hidup kita tanpa pernah benar-benar menjadi milik kita.
Sufi dan Sujata memang tidak mendapatkan akhir bahagia (happily ever after) sebagaimana lazimnya pasangan dalam film-film romantis konvensional. Namun, boleh jadi karena kegagalan itulah cinta mereka terus hidup dan menolak mati. Ia tidak terhenti di atas altar pernikahan, tidak luntur oleh rutinitas di dalam rumah, tidak padam oleh kehadiran anak-anak, bahkan tidak selesai ketika maut merenggut nyawa Sufi.
Cinta itu telah bermetamorfosa menjadi kenangan abadi. Dan kenangan, pada akhirnya, adalah bentuk lain dari kehidupan yang menolak padam. Di antara kumandang azan yang memecah keheningan, tubuh Sujata yang terus menari, tasbih yang berpindah tangan, tiupan klarinet Guru Aboob yang menyayat hati, dan langkah kaki Sufi yang berputar menyerupai seorang Darwish, film ini berhasil mengajukan sebuah pertanyaan filosofis yang jauh lebih besar daripada sekadar siapa yang akhirnya menikah dengan siapa:
Apakah cinta harus selalu bermuara pada kepemilikan dan pernikahan agar dianggap benar, ataukah ada jenis cinta agung yang justru baru menemukan makna sejatinya ketika manusia belajar ikhlas untuk melepaskan?
Di situlah Sufiyum Sujatayum menjelma menjadi tontonan yang jauh lebih menarik untuk direnungkan, melampaui batas-batas label sebagai sekadar kisah cinta tragis yang biasa. Harus diakui, film ini memang memiliki kelemahan seperti sejumlah kritikus yang menilai bahwa eksplorasi tema sufisme dan konflik antarkomunitasnya masih terasa dangkal dan kurang mendalam. Kendati demikian, berbagai catatan kritis tersebut tidak lantas menghapus gaung pertanyaan besar yang ditinggalkannya di kepala penonton.
Sebab, bukankah sebuah karya seni yang baik tidak selalu harus menyodorkan jawaban yang tuntas? Kadang-kadang, sebuah film hanya perlu menanamkan satu pertanyaan yang terus berputar di dalam kepala penontonnya serupa tubuh seorang Darwish yang terus berputar dalam zikir, serupa gerak Kathak yang tak pernah lelah merangkai makna, atau serupa ratapan ney yang terus merintih memanggil akar yang telah lama ditinggalkan.
Jika kita menelisik lebih jeli, Sufi barangkali tidak sedang mencari sosok Sujata, melainkan ia sedang mencari jalan pulang menuju keabadian. Sementara itu, Sujata tidak sedang mencari bayangan Sufi, melainkan sedang mencari serpihan jiwanya sendiri yang pernah tertinggal bersama lelaki pengembara tersebut. Di sisi lain, Rajeev pun tidak sedang menyeret istrinya kembali kepada belenggu masa lalu, melainkan tengah membantunya merampungkan bab yang belum tuntas agar mereka berdua dapat benar-benar hidup utuh di masa kini.
Sebab cinta yang dibiarkan menggantung tanpa penyelesaian selalu memiliki cara misteriusnya sendiri untuk menagih pulang. Dan sebuah rumah tangga yang ingin dibangun dengan fondasi sejati tidak akan pernah cukup hanya dengan bermodalkan ikrar janji untuk hidup bersama di atas kertas. Ia menuntut keberanian yang luar biasa besar untuk menguburkan kenangan lama dengan hormat, tanpa harus menumbuhkan kebencian kepada orang yang pernah singgah di dalam hati.
Barangkali, itulah pelajaran paling jujur yang diajarkan oleh Sufiyum Sujatayum bahwa manusia tidak akan pernah sembuh sekadar dengan melupakan. Sebaliknya, kesembuhan itu seringkali baru benar-benar tiba setelah kita memiliki keberanian untuk mengingatnya untuk terakhir kalinya, menatap luka itu tepat di mata, lalu melangkah berjalan pulang bukan kepada mereka yang telah pergi meninggalkan kita, melainkan kepada keutuhan diri sendiri. (Sal)