Di antara khazanah intelektual Melayu-Islam abad ke-19, Tuhfat al-Nafis menempati posisi istimewa. Karya monumental Raja Ali Haji ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan jendela yang memperlihatkan bagaimana orang Melayu memahami sejarah, kekuasaan, dan identitasnya sendiri di tengah pusaran perubahan politik regional dan kolonial.
Elmustian Rahman, pengajar Bahasa Indonesia di Universitas Riau, menjelaskan bahwa Tuhfat al-Nafis, yang secara harfiah berarti “hadiah yang berharga”, ditulis dalam bahasa Melayu tinggi, meskipun judulnya menggunakan bahasa Arab. Kitab ini dirampungkan sekitar 1866 dan mengisahkan sejarah kepemimpinan elite Melayu dan Bugis di Kepulauan Riau, Johor, Lingga, hingga kawasan Semenanjung Malaya sejak abad ke-18 sampai dekade 1860-an.
Menurut Elmustian, karya ini dapat dianggap sebagai salah satu buku sejarah modern pertama di Nusantara. Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Dalam Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji menunjukkan kesadaran metodologis yang jarang ditemui dalam karya sejarah Melayu sebelumnya. Ia membedakan antara fakta dan mitos secara eksplisit. Untuk peristiwa yang bersumber jelas, ia menyebutkan asal informasinya. Sementara untuk kisah yang bersifat legenda atau tradisi lisan, ia menandainya dengan kata “konon”, seolah memberi isyarat kepada pembaca agar bersikap kritis.
Pendekatan ini mencerminkan cara berpikir yang dekat dengan tradisi historiografi modern Barat, namun tetap berakar kuat pada kesarjanaan Islam. Raja Ali Haji menulis sejarah dengan gaya lugas, kronologis, dan penuh perhatian pada detail. Mulai dari silsilah penguasa, konflik politik, hingga dinamika hubungan Melayu dan Bugis. Ia tidak sekadar mencatat peristiwa, tetapi juga menimbang sebab-akibatnya, sesuatu yang menandai kedewasaan intelektual seorang sejarawan.
Raja Ali Haji (1809-1873) sendiri adalah sosok sentral dalam sejarah intelektual Melayu. Selain Tuhfat al-Nafis, ia dikenal sebagai pengarang Gurindam Dua Belas dan perintis kodifikasi tata bahasa Melayu. Dalam pembukaan Tuhfat al-Nafis, ia menuliskan dengan jelas waktu penulisan kitab ini: tahun 1282 Hijriah, pada 3 Sya’ban. Catatan ini bukan hanya penanda waktu, tetapi juga menunjukkan kesadaran penulis akan pentingnya konteks historis.
Naskah Tuhfat al-Nafis yang paling dikenal saat ini tersimpan di Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Leiden, Belanda. Manuskrip tersebut diserahkan oleh Residen Riau, A.L. van Hasselt, pada 1903. Namun, asal-usulnya lebih awal: naskah itu merupakan koleksi Yang Dipertuan Muda Riau X, Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi, yang menghadiahkannya kepada sang residen pada 1896. Fakta ini menunjukkan bagaimana karya intelektual Melayu turut beredar dalam jaringan kolonial, sering kali berpindah tangan sebelum akhirnya disimpan di lembaga Eropa.
Selain manuskrip Leiden, terdapat pula salinan yang dibuat oleh R.O. Winstedt berdasarkan naskah milik seseorang dari Perak pada 1890. Salinan ini kini tersimpan di Royal Asiatic Society, London. Naskah lainnya berada di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur. Keberadaan berbagai versi manuskrip ini menandakan luasnya pengaruh Tuhfat al-Nafis di dunia Melayu.
Kitab ini juga telah dicetak dan diterbitkan dalam berbagai edisi. Pada 1932, Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society menerbitkan Tuhfat al-Nafis dalam huruf Arab-Melayu (Jawi), berdasarkan manuskrip Winstedt. Edisi setebal 330 halaman ini dilengkapi ringkasan isi yang memudahkan pembaca akademik.
Pada 1965, Encik Munir bin Ali melakukan transliterasi ke huruf Latin, yang diterbitkan di Singapura oleh Malaysia Publication Ltd. Kemudian, pada 1991, Virginia Matheson Hooker menerbitkan edisi kritis berjudul Tuhfat al-Nafis: Sejarah Melayu-Islam melalui Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia.
Dalam bahasa Inggris, sebagian isi Tuhfat al-Nafis, khususnya tentang peperangan Raja Haji Fisabilillah, pernah diterjemahkan oleh W.E. Maxwell. Sementara terjemahan yang lebih lengkap, disertai anotasi mendalam oleh Virginia Matheson dan Barbara Watson Andaya, terbit pada 1982 dengan judul The Precious Gift (Tuhfat al-Nafis) melalui Oxford University Press.
Edisi ini memperkenalkan karya Raja Ali Haji ke panggung historiografi global.
Dari sisi sumber, Tuhfat al-Nafis menunjukkan kekayaan rujukan. Raja Ali Haji menyebut berbagai teks pembanding, seperti “sejarah dan siarah Siak”, Pontianak, wilayah timur dan barat Nusantara, hingga catatan tokoh-tokoh lokal seperti Haji Kudi dan Engku Busu.
Menurut Elmustian, penggunaan sumber yang beragam dan upaya saling silang informasi ini memperkuat sikap ilmiah kitab tersebut, menjadikannya karya sejarah yang dapat dipercaya.
Sebagai sastra sejarah, Tuhfat al-Nafis juga kompleks secara bahasa. Di dalamnya bercampur istilah Arab, Melayu klasik, hingga pengaruh Eropa. Sebuah cerminan dunia Melayu abad ke-19 yang kosmopolitan dan terbuka terhadap berbagai pengaruh intelektual.
Tak heran jika kitab ini terus menarik perhatian para peneliti. Sejak akhir 1950-an, berbagai kajian akademik lahir, mulai dari catatan geografis oleh Muhammad bin Anas (1958), pengaruh bahasa Arab oleh Ismail Abdul Rahman (1959), hingga tesis monumental Virginia Matheson pada 1973. Penelitian-penelitian ini memperkuat posisi Tuhfat al-Nafis sebagai salah satu pilar historiografi Melayu.
Elmustian juga mengingatkan bahwa Tuhfat al-Nafis hanyalah satu dari ribuan manuskrip Melayu yang lahir di wilayah Riau-Lingga. Mengutip perkiraan Profesor Achadiati Ikram, ia menyebutkan bahwa lebih dari 10 ribu manuskrip diproduksi di kawasan ini. Manuskrip-manuskrip tersebut merekam denyut kehidupan Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang beserta daerah taklukannya seperti Bintan, Batam, hingga Rempang.
Di titik inilah Tuhfat al-Nafis menjadi lebih dari sekadar teks sejarah. Ia adalah pengingat bahwa wilayah-wilayah yang hari ini kerap dipandang kosong atau tak bersejarah sesungguhnya menyimpan lapisan ingatan panjang.
Di tengah perdebatan modern tentang pembangunan, penggusuran, dan identitas, karya Raja Ali Haji mengajarkan satu hal penting: sejarah bukan beban masa lalu, melainkan cermin untuk menilai arah masa depan. Tanpa membacanya dengan jernih, kita berisiko kehilangan bukan hanya jejak leluhur, tetapi juga kebijaksanaan yang pernah membentuk dunia Melayu.
* (Dikembangkan dari rubrik Selingan di Majalah Tempo)