Masyarakat Indonesia dikenal religius, namun jarang membicarakan kesehatan jiwa secara terbuka. Kesedihan sering diminta “disabarkan”, kecemasan “didoakan”, dan depresi dianggap kurang iman. Di tengah budaya seperti ini, pertanyaan tentang bagaimana sebenarnya jiwa dirawat menjadi semakin relevan.
Isu kesehatan mental kerap muncul setelah tragedi terjadi bunuh diri, kekerasan, atau gangguan psikis berat. Padahal, jauh sebelum itu, kelelahan jiwa telah menumpuk diam-diam di ruang kerja, kampus, dan rumah tangga. Krisis ini jarang terlihat, tetapi dampaknya nyata dan meluas.
Bahkan pada umumnya di kota-kota besar Indonesia, warganya kini sering memulai hari dengan rasa lelah yang tak jelas asalnya. Bukan karena kerja fisik, melainkan karena pikiran yang tak pernah benar-benar beristirahat. Notifikasi ponsel menyala sejak subuh, lalu disusul kemacetan, target kerja, dan kecemasan ekonomi yang terus membayangi. Di balik statistik pertumbuhan dan narasi produktivitas, semakin banyak orang Indonesia hidup dengan jiwa yang letih, tapi tak tahu harus mengadu ke mana.
Demikianlah keadaan dunia tahun 2025 menandai babak baru dalam sejarah kesehatan mental global. Istilah burnout, kecemasan kronis, dan depresi tak lagi menjadi problem individual, melainkan fenomena sosial yang meluas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak beberapa tahun terakhir menempatkan depresi sebagai salah satu penyebab utama disabilitas di dunia, mengalahkan banyak penyakit fisik. Dunia modern dengan ritme kerja cepat, tekanan ekonomi, dan banjir informasi digital, perlahan menciptakan kelelahan psikologis kolektif.
Indonesia berada di dalam pusaran yang sama. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan gangguan mental emosional dari tahun ke tahun, terutama pada kelompok usia produktif. Generasi muda perkotaan menghadapi tekanan berlapis: biaya hidup yang meningkat, ketidakpastian kerja, tuntutan produktivitas digital, serta ekspektasi sosial yang dibentuk oleh media sosial. Namun, di tengah meningkatnya kebutuhan, layanan kesehatan mental masih terbatas, terpusat di kota besar, dan kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang mahal atau bahkan tabu.
Dalam situasi seperti ini, pendekatan medis modern sering kali menawarkan solusi instan melalui obat-obatan. Antidepresan dan obat penenang menjadi pilihan utama, meski tidak jarang mengabaikan akar persoalan psikologis dan sosial. Pertanyaan mendasarnya pun mengemuka: apakah kesehatan jiwa semata-mata persoalan kimia otak, atau ada dimensi lain yang luput dari perhatian?
Pertanyaan serupa ternyata telah diajukan lebih dari seribu tahun lalu. Rubrik Turats pekan ini menelusuri sebuah manuskrip abad ke-9 berjudul Masalih al-Abdan wa al-Anfus (Kesehatan Tubuh dan Jiwa) karya Abu Zayd al-Balkhi, seorang cendekiawan Muslim yang hidup pada masa keemasan peradaban Islam. Ditulis sekitar tahun 850 M, naskah ini menjadi salah satu dokumen tertua yang secara tegas membedakan penyakit fisik dan gangguan kejiwaan, sebagai sebuah lompatan konseptual yang baru diakui dunia Barat berabad-abad kemudian.
Al-Balkhi bukan hanya tabib, tetapi juga filsuf dan pengamat manusia. Ia melihat manusia sebagai kesatuan tubuh, jiwa, akal, dan lingkungan sosial. Dalam pandangannya, kesehatan tidak bisa direduksi menjadi fungsi organ semata. Jiwa memiliki hukumnya sendiri, luka-lukanya sendiri, dan karena itu membutuhkan metode penyembuhan yang berbeda.
Dalam manuskrip tersebut, Al-Balkhi memperkenalkan konsep al-Tibb al-Nufus, atau kedokteran jiwa. Pokok bahasan Al-Balkhi menekankan “psikologi tanpa obat" (The Deep Dive), yang dalam lembaran naskahnya, Al-Balkhi memperkenalkan tiga poin revolusioner dalam: Koneksi Tubuh-Jiwa, Terapi Bicara, dan Terapi Lingkungan
Al-Balkhi menulis bahwa jika tubuh sakit, jiwa akan kehilangan kemampuan belajar. Sebaliknya, jika jiwa sakit, tubuh akan kehilangan gairah hidup. Terapi Bicara dilakukan dengan penggunaan "bisikan positif" atau self-talk untuk melawan pikiran obsesif (waswas). Kemudian Terapi Lingkungan sebagai rekomendasi penggunaan wewangian, musik, dan taman yang asri sebagai bagian dari penyembuhan klinis.
Ia menjelaskan dengan detail bahwa hubungan tubuh dan jiwa bersifat timbal balik. Ketika tubuh sakit, jiwa kehilangan kejernihan berpikir dan semangat belajar. Sebaliknya, ketika jiwa diliputi kesedihan, kecemasan, atau ketakutan berlebih, tubuh akan melemah, kehilangan gairah hidup, dan rentan terhadap penyakit. Gagasan ini selaras dengan pendekatan psikosomatik modern, yang kini mengakui bahwa stres kronis dapat memicu berbagai penyakit fisik.
Lebih jauh, Al-Balkhi menaruh perhatian besar pada apa yang hari ini disebut sebagai terapi kognitif. Ia mengidentifikasi pikiran obsesif, yang ia sebut waswas, adalah sumber utama penderitaan jiwa. Untuk melawannya, ia menganjurkan dialog batin yang rasional: membantah pikiran negatif dengan argumen logis dan kesadaran diri. Prinsip ini memiliki kemiripan mencolok dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT), metode psikoterapi yang baru diformalkan di Barat pada abad ke-20 dan kini menjadi standar penanganan depresi serta gangguan kecemasan.
Namun, pendekatan Al-Balkhi tidak berhenti pada pikiran. Ia juga menekankan pentingnya lingkungan dalam proses penyembuhan. Wewangian, musik, cahaya alami, dan taman yang hijau disebut sebagai bagian dari terapi klinis. Bagi Al-Balkhi, keindahan bukan pelengkap, melainkan kebutuhan psikologis. Jiwa manusia, menurutnya, merespons ruang dan suasana, bukan hanya kata-kata dan obat.
Relevansi hari ini (The Modern Link) dengan apa yang ditulis Al-Balkhi adalah dasar dari apa yang kita sebut hari ini sebagai Psikosomatik. Di tengah maraknya ketergantungan pada obat-obatan kimia untuk kecemasan, naskah ini menawarkan pendekatan holistik yang memadukan spiritualitas, logika, dan keindahan alam.
Pandangan ini terasa relevan dengan kondisi Indonesia hari ini. Kota-kota besar semakin padat, ruang hijau menyusut, polusi meningkat, dan kehidupan urban kian menjauhkan manusia dari alam. Di tengah situasi tersebut, gangguan kecemasan dan depresi tumbuh subur. Manuskrip abad ke-9 ini seakan mengingatkan bahwa kesehatan mental bukan hanya urusan klinik dan resep dokter, tetapi juga soal bagaimana manusia hidup, bekerja, dan berelasi dengan lingkungannya.
Apa yang ditawarkan Al-Balkhi adalah pendekatan holistik yang memadukan logika, spiritualitas, dan estetika. Ia tidak menolak pengobatan fisik, tetapi menolak reduksionisme. Dalam pandangannya, iman bukan pengganti akal, dan akal bukan musuh iman. Keduanya justru bekerja bersama untuk menjaga kewarasan manusia hidup di dunia.
Masalih al-Abdan wa al-Anfus membuktikan bahwa warisan Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah dan hukum, tetapi juga tentang perawatan jiwa. Di tengah krisis kesehatan mental yang kian kompleks, menggali kembali turats bukanlah romantisme masa lalu, melainkan upaya menemukan kembali kebijaksanaan yang relevan untuk masa kini.
Mungkin, sebelum terus mencari penawar baru di laboratorium masa depan, sebagian obat itu telah lama tersedia. Tersimpan rapi di lemari sejarah, menunggu untuk dibaca ulang, dipahami ulang, dan dihidupkan kembali dalam kehidupan kita hari ini. (Sal)