Sebuah video yang beredar di Facebook memperlihatkan seorang gadis muda asal Qum, Iran, menjawab pertanyaan dengan gaya bahasa yang tidak biasa. Dengan tenang dan puitik, ia menyisipkan potongan ayat Al-Qur’an dalam setiap jawabannya tanpa menyebutkan sumbernya secara eksplisit. Fenomena ini memancing rasa ingin tahu publik tentang apa teknik bahasa yang digunakan, bagaimana praktiknya dalam tradisi Islam, dan mengapa gaya ini kembali menarik perhatian di era digital saat ini?
Dalam tradisi sastra Arab klasik, teknik tersebut dikenal sebagai iqtibas. Secara etimologis, istilah ini berasal dari akar kata qabasa yang berarti “mengambil api” atau “menyulut cahaya”. Akar kata ini memberikan filosofi mendalam bahwa iqtibas bukan sekadar memindahkan teks, melainkan upaya meminjam cahaya wahyu untuk menerangi kegelapan pemikiran manusia. Dalam konteks kebahasaan, iqtibas merujuk pada gaya menyisipkan potongan ayat Al-Qur’an atau hadis ke dalam kalimat, puisi, atau prosa tanpa penanda kutipan formal. Ini adalah seni “meminjam” redaksi wahyu untuk memperindah sekaligus memperkuat makna dalam bahasa manusia.
Secara teknis, iqtibas merupakan puncak dari kecerdasan linguistik. Berbeda dari kutipan akademik atau referensi ilmiah, iqtibas tidak menuntut atribusi eksplisit seperti “Allah berfirman” atau “Nabi bersabda”. Potongan ayat tersebut dilebur secara halus ke dalam struktur kalimat, menciptakan efek estetika sekaligus spiritual. Dalam praktik sehari-hari, gaya ini kerap digunakan untuk menasihati, menyemangati, atau memperhalus ungkapan. Misalnya, seseorang yang ingin menghibur temannya dapat berkata, “Tenang saja, karena inna ma’al ‘usri yusran, dan ingat, inna Allah ma‘a ash-shabirin.” Kalimat seperti ini tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menghadirkan resonansi emosional yang lebih dalam melalui otoritas transendental yang terkandung di dalamnya.
Eksplorasi terhadap iqtibas membawa kita pada ilmu Balaghah (retorika Arab). Dalam kajian Balaghah, iqtibas umumnya dibagi menjadi tiga kategori utama untuk menjaga kehormatan teks suci. Pertama, Iqtibas al-Maqbul: yaitu penggunaan yang diterima karena bertujuan mulia, seperti dalam khutbah, nasihat, atau pujian kepada Sang Pencipta. Kedua, Iqtibas al-Mubah: yang bersifat netral dan lazim ditemukan dalam karya sastra, surat, atau percakapan ringan yang tetap menjaga kesopanan dan tidak merusak makna asal ayat. Ketiga, Iqtibas al-Mardud: yaitu penggunaan yang ditolak atau diharamkan karena menyisipkan ayat dalam konteks yang tidak pantas, main-main, atau bertujuan merendahkan nilai-nilai agama.
Sejumlah akademisi bahasa Arab menilai iqtibas sebagai salah satu bentuk intertekstualitas religius yang khas dalam peradaban Islam. Dalam kajian linguistik modern, fenomena ini sering dipahami sebagai cara teks suci "hidup kembali" dan berinkarnasi dalam bahasa sehari-hari. Merujuk pada konsep intertekstualitas Julia Kristeva, teks suci tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi mozaik kutipan yang menyusun teks-teks baru dalam peradaban manusia. Seorang dosen studi Islam di salah satu universitas Timur Tengah pernah menyatakan, “Iqtibas bukan sekadar ornamen retorika, tetapi cara umat berinteraksi dengan teks suci secara kreatif tanpa kehilangan rasa hormat.” Pandangan ini menunjukkan bahwa iqtibas berada di antara estetika dan etika.
Namun, di tengah kemudahan distribusi informasi, tidak semua pihak sepakat dengan penggunaannya yang semakin luas, terutama di media sosial yang seringkali mengabaikan kedalaman. Sebagian ulama mengingatkan agar penggunaan ayat tidak terlepas dari konteks makna aslinya (asbabun nuzul). “Mengutip ayat tanpa memahami tafsirnya bisa berisiko menyederhanakan pesan yang kompleks,” ujar seorang pengajar tafsir dalam sebuah diskusi daring. Kekhawatiran ini cukup beralasan, mengingat algoritma media sosial sering kali memotong konteks (dekontekstualisasi) demi estetika visual semata.
Di sisi lain, kalangan yang lebih terbuka melihat iqtibas sebagai bentuk dakwah kultural yang efektif di era digital. “Selama tidak disalahgunakan, iqtibas justru mendekatkan generasi muda pada Al-Qur’an melalui pendekatan yang lebih organis dan tidak menggurui,” kata seorang peneliti budaya populer Islam. Iqtibas menjadi jembatan bagi generasi Z dan milenial untuk tetap terhubung dengan tradisi tanpa merasa terasing dari modernitas.
Dalam tradisi tasawuf, iqtibas bahkan mencapai dimensi yang lebih dalam, melampaui sekadar retorika. Kisah tentang sufi besar Dzun Nun al-Misri sering dijadikan ilustrasi yang menggugah. Diceritakan, dalam sebuah perjalanan, ia bertemu seorang wanita tua di tengah padang pasir yang hanya menjawab setiap pertanyaan dengan potongan ayat Al-Qur’an. Ketika ia disapa, sang nenek menjawab dengan ayat tentang orang-orang bertakwa yang digiring ke surga. Saat ditanya tujuan perjalanannya, ia mengutip ayat tentang kewajiban haji. Bahkan ketika ditawari makanan, ia menjawab dengan ayat tentang menyempurnakan puasa hingga malam.
Dari percakapan itu terungkap bahwa wanita tersebut telah berbicara dengan cara itu selama puluhan tahun. Motifnya bukan untuk pamer intelektualitas, melainkan karena kehati-hatiannya (wara’) menjaga lisan dari kesalahan dan kesia-siaan. Bagi para sufi, kisah ini bukan sekadar anekdot, melainkan gambaran tingkat spiritual di mana Al-Qur’an tidak lagi sekadar dibaca, tetapi menjadi bahasa hidup dan kesadaran murni. Dalam perspektif ini, iqtibas bukan hanya teknik sastra, melainkan bentuk internalisasi wahyu yang telah mendarah daging.
Kini, di tengah arus komunikasi digital yang serba cepat, fragmentaris, dan sering kali dangkal, fenomena iqtibas seperti yang ditunjukkan oleh gadis muda di Qum menghadirkan sesuatu yang berbeda akan sebuah oase kedalaman dalam kesederhanaan. Ia mengingatkan kita bahwa bahasa tidak hanya alat komunikasi pragmatis, tetapi juga medium makna, bahkan jalan spiritual.
Sebagai penutup, kita perlu menyadari bahwa seperti pisau bermata dua, keindahan iqtibas menuntut tanggung jawab intelektual dan spiritual yang besar, agar kita tidak terjebak pada sekadar estetika permukaan tanpa pemahaman esensi. Di dunia yang semakin bising oleh kata-kata tanpa makna, iqtibas menawarkan cara untuk kembali ke "akar cahaya".
Ia mengajarkan satu hal yang lebih luas bahwa kata-kata, ketika diolah dengan kesadaran, kepekaan, dan ketulusan, dapat menjadi jembatan antara kefanaan manusia dan keabadian nilai-nilai yang lebih tinggi. Di situlah iqtibas menemukan relevansinya bukan hanya sebagai gaya bahasa yang eksotis, tetapi sebagai cara merawat kewarasan dan kemuliaan makna di tengah riuhnya dunia. (Red)