Buku sirah Nabi yang ditulis Ath-Thabari sering disebut sebagai salah satu karya sejarah Islam paling luas cakupannya. Namun, sebelum menyelami ribuan lembar narasinya, sebuah pertanyaan fundamental yang patut diajukan adalah siapakah sebenarnya sosok di balik ketajaman pena tersebut? Mengapa namanya tetap bergema di ruang-ruang akademik dan majelis ilmu hingga seribu tahun setelah kepergiannya?
Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Jarir al-Thabari, seorang ulama besar yang dikenal sebagai salah satu guru utama para ahli tafsir. Ia bukan sekadar penulis sejarah, tetapi juga seorang mufasir, ahli fikih, dan sejarawan yang karyanya memengaruhi diskursus intelektual dunia Islam selama berabad-abad. Al-Tabari adalah representasi dari "manusia universal" (polymath) yang lahir dari rahim tradisi keilmuan klasik, di mana batas antar disiplin ilmu dilewati dengan ketekunan yang luar biasa.
Karya monumentalnya yang paling terkenal adalah Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja), yang sering disebut Tarikh Ath-Thabari, serta kitab tafsir otoritatifnya, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ay al-Qur’an atau lebih dikenal sebagai Tafsir al-Thabari. Dua karya ini menjadi rujukan primer yang tak tergantikan dalam studi sejarah dan tafsir Islam hingga sekarang. Dalam kitab sejarahnya, Ath-Thabari menuliskan perjalanan sejarah dunia secara kronologis sejak penciptaan manusia, kisah para nabi, hingga peristiwa politik yang terjadi pada masa kekhalifahan Abbasiyah di zamannya. Metodologi yang digunakannya sangat unik. Menggunakan pendekatan isnad (rantai transmisi), memperlakukan peristiwa sejarah dengan ketelitian yang sama seperti para ahli hadis memperlakukan sabda Nabi.
Karena itu, membaca karya Ath-Thabari memiliki arti penting yang melampaui sekadar romantisme masa lalu. Ia tidak hanya menulis tentang kehidupan Nabi Muhammad, tetapi juga menempatkan kehidupan Nabi dalam rangkaian panjang sejarah teologis dan sosiologis manusia. Dari kisah Nabi Adam hingga intrik politik di masa kekhalifahan Abbasiyah, semuanya dirangkai dalam satu narasi besar sejarah dunia. Ia seolah ingin mengatakan bahwa risalah Islam bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan puncak dari perjalanan panjang kemanusiaan.
Hal ini membuat karya Ath-Thabari sering menjadi pelengkap krusial bagi buku-buku sirah Nabi yang populer pada masa modern, seperti karya Safiur Rahman al-Mubarakpuri (Ar-Raheeq Al-Makhtum), Martin Lings, maupun Muhammad Husayn Haykal. Tidak jarang, kisah atau detail tertentu tentang dinamika sosial, silsilah, hingga nuansa politik sejarah Islam yang tidak ditemukan dalam karya-karya modern tersebut justru muncul secara gamblang dalam catatan Ath-Thabari. Ia menyediakan "warna" dan "tekstur" sejarah yang sering kali hilang dalam ringkasan-ringkasan kontemporer.
Ulama dari Thabaristan
Akar intelektual ini bermula dari wilayah hijau di pesisir Laut Kaspia. Ath-Thabari lahir pada tahun 224 atau 225 Hijriah (sekitar 839 M) di wilayah Thabaristan, Persia (sekarang bagian dari Iran). Nama lengkapnya adalah Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid Ath-Thabari. Karena itu, ia sering disebut Ibnu Jarir atau dipanggil dengan kunyahnya, Abu Ja'far.
Sejak kecil, kecerdasannya sudah terlihat melampaui zamannya. Ia dikisahkan telah menghafal Al-Qur’an pada usia tujuh tahun dan dipercaya menjadi imam salat pada usia delapan tahun, adalah sebuah pencapaian yang menandakan kematangan spiritual dan intelektual dini. Didorong oleh haus akan ilmu, masa mudanya dihabiskan untuk melakukan rihlah fi thalab al-'ilm (perjalanan mencari ilmu) ke berbagai kota pusat peradaban Islam. Ia berkelana dari Rayy ke Baghdad, singgah di Kufah dan Bashrah, hingga melintasi Suriah, Palestina, dan berakhir di Mesir.
Perjalanan intelektual yang lintas geografis itu membentuknya menjadi seorang ulama dengan wawasan yang sangat luas dan inklusif. Ia mempelajari hadis, fikih, tafsir, bahasa Arab, sejarah, bahkan sastra dan matematika. Pada masa itu, dunia Islam memang sedang berada dalam periode keemasan intelektual (The Golden Age of Islam), terutama di bawah perlindungan dinasti Abbasiyah yang sangat menghargai aktivitas penerjemahan dan penulisan buku.
Namun, ada satu hal yang menarik dan menyentuh dari kehidupan pribadi Ath-Thabari. Ia memilih untuk tidak menikah dan mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Baginya, tinta dan kertas adalah pendamping setia. Pilihan hidup selibat demi pengabdian pada ilmu ini membuatnya sering dibandingkan dengan ulama besar lain yang juga membujang demi keabadian karya, seperti Imam Yahya ibn Sharaf al-Nawawi maupun Zamakhsyari. Hidupnya adalah bukti nyata bahwa cinta pada kebenaran bisa menjadi motivasi yang jauh lebih kuat daripada keinginan duniawi manapun.
Produktivitas yang Luar Biasa
Ath-Thabari dikenal sebagai ulama yang sangat disiplin, hampir-hampir asketis, dalam mengatur waktunya. Sebagian besar waktunya dalam sehari diwakafkan untuk menulis, mengajar, dan berdiskusi tentang ilmu. Ia memiliki etos kerja yang mungkin sulit dibayangkan oleh standar modern.
Beberapa riwayat, sebagaimana dicatat oleh Yaqut al-Hamawi dalam Mu'jam al-Udaba, menyebutkan bahwa ia mampu menulis hingga sekitar empat puluh halaman setiap hari selama puluhan tahun. Jika diakumulasikan, jumlah karyanya mencapai puluhan ribu lembar. Produktivitas yang luar biasa ini membuat karya-karyanya sangat banyak dan mencakup berbagai bidang ilmu, menciptakan fondasi bagi madzhab hukum yang sempat ia dirikan, yakni Madzhab Jariri, meskipun perlahan surut karena dominasi madzhab-madzhab besar lainnya.
Kitab tafsirnya, Tafsir Ath-Thabari, bahkan dikenal sebagai Umm al-Tafasir (Induk dari segala Tafsir). Dalam kitab itu, ia mengumpulkan berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi'in, kemudian menjelaskan makna ayat Al-Qur’an dengan pendekatan ilmiah dan metodologis yang sangat sistematis. Ia tidak sekadar mengutip, tetapi melakukan tarjih (analisis kritis) untuk menentukan pendapat mana yang paling kuat secara bahasa maupun dalil.
Tidak hanya itu, ia juga menulis karya hadis, fikih, serta kitab tentang perbedaan pendapat para ulama (Ikhtilaf al-Fuqaha). Semua itu menunjukkan keluasan ilmu yang dimilikinya, sebuah kedalaman samudera yang menampung berbagai arus pemikiran tanpa kehilangan jati dirinya sebagai seorang Muslim yang taat.
Kontroversi dan Tuduhan Tasyayyu
Sebagaimana pohon yang tinggi selalu diterjang angin kencang, Ath-Thabari juga tidak luput dari kritik dan fitnah. Ada sebagian kelompok ekstrem pada zamannya yang pernah menuduhnya memiliki kecenderungan kepada Tasyayyu, yaitu pandangan yang dianggap terlalu condong kepada Syiah.
Tuduhan ini muncul karena integritasnya dalam menuliskan banyak riwayat tentang keutamaan Ali ibn Abi Thalib, termasuk diskusi mengenai peristiwa Ghadir Khum. Namun, bagi Ath-Thabari, kejujuran sejarah berada di atas sentimen kelompok. Bagi banyak ulama muhaqqiq, membahas keutamaan Ali tidak berarti merendahkan kedudukan sahabat besar lainnya seperti Abu Bakr, Umar ibn al-Khattab, maupun Uthman ibn Affan. Ath-Thabari tetap berdiri teguh di garis Ahlussunnah, namun ia menolak untuk menyensor fakta sejarah demi menyenangkan pihak tertentu.
Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, perbedaan pendapat seperti ini sebenarnya hal yang lumrah, meski terkadang berujung pada gesekan sosial. Ath-Thabari sendiri dikenal sebagai ulama yang moderat dan independen dalam berpikir (mujtahid mutlaq). Ia selalu menilai riwayat berdasarkan kualitas sumbernya dan mencantumkan sanad periwayatan secara lengkap, sehingga pembaca diberikan kedaulatan untuk menilai sendiri tingkat keabsahannya.
Menulis Sejarah Tanpa Takut Kekuasaan
Salah satu keistimewaan Ath-Thabari sebagai sejarawan adalah keberanian dan kejujurannya dalam menulis sejarah secara terbuka, bahkan ketika narasi tersebut menyentuh wilayah sensitif konflik politik pada masa kekuasaan Abbasiyah yang sedang berkuasa.
Dalam karya sejarahnya, ia tidak hanya menjadi corong kekuasaan yang menulis kejayaan para khalifah. Ia dengan teliti mencatat intrik politik, pemberontakan Zanj, perebutan kekuasaan, hingga peristiwa-peristiwa kelam di lingkungan istana. Sikap ini menunjukkan integritas ilmiah yang sangat kuat, sebuah komitmen bahwa sejarah harus menjadi cermin yang jujur bagi peradaban, bukan sekadar alat propaganda.
Ia hidup hingga masa kekuasaan Khalifah Abbasiyah Al-Muqtadir dan akhirnya mengembuskan napas terakhir di Baghdad pada tahun 310 Hijriah (923 M). Ia wafat setelah menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk ilmu pengetahuan, meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada emas dan perak bagi umat manusia.
Demikianlah sekelumit sejarah kehidupan sang imam besar. Ath-Thabari bukan sekadar seorang penulis kitab atau pengumpul riwayat. Ia adalah penjaga ingatan sejarah umat, seorang arsitek yang menyusun bata demi bata memori kolektif kita tentang masa lalu.
Melalui karya-karyanya, generasi setelahnya dapat memahami bagaimana sejarah Islam dituturkan oleh para ulama awal dengan segala dinamikanya. Bahkan hingga hari ini, banyak sejarawan modern, baik dari Timur maupun Barat masih menjadikan karya Ath-Thabari sebagai rujukan utama ketika meneliti periode formatif sejarah Islam. Tanpa catatannya, mungkin banyak kepingan puzzle sejarah kita yang akan hilang tertelan zaman.
Warisan intelektualnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ilmu bukan hanya soal membaca atau menghafal, tetapi tentang kesungguhan untuk menulis, mendokumentasikan, dan merawat ingatan peradaban. Ath-Thabari mengajarkan bahwa integritas seorang intelektual diuji pada kejujurannya dalam menyampaikan kebenaran, meski itu pahit.
Semoga segala kebaikannya dibalas oleh Allah SWT dengan pahala yang berlipat dan tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga jejak langkahnya terus menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya, bahwa satu kehidupan yang sepenuhnya diabdikan untuk ilmu dapat meninggalkan warisan yang melampaui batas waktu dan usia menjadi cahaya yang terus menerangi jalan para pencari kebenaran. (Red)