Setiap kali saya membaca status, tautan, atau unggahan yang berkonten nyinyir, lugu, atau penuh sebal terhadap suatu hal, saya sering berhenti sejenak untuk menarik napas, lalu berpikir ulang. Sebagai seseorang yang bermakmum kepada Nabi Muhammad SAW, sebuah tanya seketika menyeruak di benak tentang bagaimana kiranya beliau memandang riuh rendah perseteruan yang kini berseliweran tanpa jeda?
Di hadapan kita, layar ponsel menyuguhkan dikotomi yang melelahkan: Syiah dan anti-Syiah, Wahabi kontra Aswaja, hingga polarisasi politik yang seolah tak kunjung usai. Segala kemelut ini terasa seperti beranak-pinak di zaman yang kerap disebut orang sebagai “Kaliyuga”, sebuah era kegelapan moral di mana perselisihan dianggap sebagai konsumsi harian.
Di ruang digital, segala hal tampak mendesak untuk segera ditanggapi. Algoritma media sosial dirancang untuk memicu reaksi cepat, bukan refleksi mendalam. Seolah-olah diam adalah kekalahan dan berpikir panjang adalah bentuk keraguan yang tak termaafkan. Maka muncul pertanyaan yang terus menggelayut benarkah kepemimpinan adalah ketegasan tanpa keraguan? Benarkah seorang pemimpin tak boleh ragu? Bahwa mau tak mau ia harus segera mengambil keputusan, meski dunia belum benar-benar dipahami secara utuh?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika kita menyadari betapa derasnya arus informasi hari ini. Laporan dari We Are Social dalam Digital 2024 Global Overview mencatat bahwa rata-rata pengguna internet menghabiskan lebih dari 2 jam per hari di media sosial. Di Indonesia sendiri, jumlah pengguna media sosial telah melampaui 170 juta orang. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi sebuah representasi dari jutaan emosi yang bertubrukan, jutaan opini yang saling sikut, dan jutaan persepsi yang seringkali terbentuk tanpa fondasi kebenaran yang kokoh.
Di tengah kepadatan itu, konflik tidak lagi membutuhkan ruang fisik, melainkan cukup hadir dalam bentuk kalimat pendek, potongan video yang dipotong paksa dari konteksnya, atau bahkan sekadar judul yang dipelintir demi mengejar klik. Sebuah riset dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang dipublikasikan dalam jurnal Science mengungkapkan fakta yang mengerikan bahwa berita palsu (hoaks) menyebar enam kali lebih cepat daripada kebenaran di Twitter (sekarang X). Hal ini disebabkan karena informasi yang provokatif, emosional, dan tidak sepenuhnya benar justru lebih mampu menyulut rasa ingin tahu manusia. Artinya, di pasar digital, yang gaduh justru lebih laku daripada yang jernih.
Lalu, bagaimana Rasul membaca setiap keluhan umatnya di tengah kebisingan semacam ini?
Kalau Rasul memang diartikan sebagai Ummi, bahwa ia yang tidak membaca dan menulis dalam pengertian literal, maka di sanalah letak keistimewaan itu. Beliau tidak bergantung pada teks semata yang seringkali dingin dan hampa rasa, melainkan pada kedalaman mendengar, kepekaan menangkap makna yang tersirat, dan kebijaksanaan dalam merespons.
Melalui para sahabat sebagai juru tulis, melalui lisan yang terjaga (hifdzul lisan), dan melalui tindakan yang konsisten, beliau menjawab kegelisahan umatnya dengan cara yang tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak mengabaikan. Beliau mengajarkan bahwa pemimpin tidak harus menjadi yang tercepat dalam berbicara, tetapi harus menjadi yang paling tepat dalam bertindak.
Bayangkan jika hari ini beliau memiliki akun media sosial. Apakah setiap komentar miring akan langsung dibalas dengan nada yang sama? Apakah setiap kritik akan ditanggapi dengan klarifikasi panjang yang defensif? Ataukah justru beliau akan memilih diam pada saat yang tepat, dan berbicara hanya ketika kata-kata benar-benar diperlukan sebagai obat bagi kekacauan?
Sejarah mencatat bahwa dalam banyak peristiwa penting, Rasul tidak selalu segera mengambil keputusan. Dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah, keputusan yang diambil tampak sangat merugikan bagi umat Islam secara lahiriah. Redaksi perjanjian itu bahkan memicu keberatan dari sahabat-sahabat senior seperti Umar bin Khattab karena dianggap merendahkan martabat muslim. Namun, Rasulullah melihat apa yang tidak terlihat oleh mata awam. Beliau memilih strategi diplomasi jangka panjang dibandingkan konfrontasi sesaat. Waktu kemudian membuktikan bahwa keputusan itu justru membuka jalan bagi kemenangan yang lebih besar (Fathul Makkah).
Di sini, "keraguan" atau masa tenang untuk menimbang bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari proses spiritual dan intelektual dalam mempertimbangkan kemungkinan yang lebih luas. Dalam konteks hari ini, ketika setiap orang dapat menjadi “pemimpin” di linimasa masing-masing, memiliki pengikut, memproduksi opini, dan memengaruhi orang lain, ketegasan seringkali disalahpahami sebagai kecepatan bereaksi.
Padahal, ketegasan yang sejati mungkin justru terletak pada kemampuan menahan diri (self-restraint). Ketegasan adalah saat kita mampu untuk tidak ikut hanyut dalam arus kebencian, tidak mudah tersulut oleh provokasi yang dirancang untuk memecah belah, dan tidak tergoda untuk selalu menjadi yang paling cepat berbicara demi pengakuan publik.
Rasul menjawab pengikut-pengikutnya dari berbagai lapisan usia, dari yang masih kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga tua, dengan pendekatan yang berbeda-beda. Beliau mempraktikkan apa yang kini kita kenal sebagai komunikasi personal dan empatik. Tidak semua pertanyaan dijawab dengan kalimat yang sama, ada saatnya beliau menjawab dengan candaan yang mendidik, ada saatnya dengan teguran yang lembut, dan ada saatnya dengan diam yang sarat makna. Ada empati di sana, ada pemahaman konteks sosial, dan ada kesabaran luar biasa untuk tidak menyamaratakan manusia dalam satu kategori generalis.
Bandingkan dengan apa yang sering terjadi di media sosial hari ini, ketika satu kalimat untuk semua orang, satu reaksi untuk semua persoalan, satu penghakiman untuk berbagai latar belakang yang berbeda. Kita sering lupa bahwa di balik setiap akun ada manusia yang memiliki luka, sejarah, dan alasan di balik opininya. Di sinilah kita mungkin mulai kehilangan sesuatu yang paling mendasar tentang kemampuan untuk melihat manusia sebagai manusia, bukan sekadar akun, avatar, atau angka dalam statistik statistik keterlibatan (engagement).
Lebih jauh, laporan dari Pew Research Center menunjukkan bahwa polarisasi opini di ruang digital semakin meningkat secara tajam dalam satu dekade terakhir. Algoritma media sosial cenderung mengurung kita dalam echo chamber atau ruang gema, di mana kita hanya berinteraksi dengan mereka yang sependapat dan menjauhi, atau bahkan memusuhi mereka yang berbeda pandangan. Akibatnya, ruang dialog menyempit dan digantikan oleh monolog-monolog kemarahan yang saling bersahutan.
Dalam situasi seperti ini, membayangkan Rasul memiliki akun media sosial bukanlah sekadar latihan imajinasi yang sia-sia, tetapi juga cermin untuk diri kita sendiri. Apakah kita akan menggunakan media sosial sebagai alat untuk memperluas empati dan menyambung silaturahmi, atau justru sebagai pedang untuk mempersempit ruang keberagaman? Apakah kita akan menjadi bagian dari solusi yang menenangkan, atau sekadar memperpanjang rantai kebisingan yang merusak jiwa?
Mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah bagaimana Rasul akan bersikap di media sosial, tetapi bagaimana kita yang mengaku sebagai pengikutnya memilih untuk bersikap di balik layar ponsel kita masing-masing. Etika kepemimpinan digital bukan tentang seberapa banyak pengikut yang kita miliki, melainkan seberapa besar pengaruh kebaikan yang bisa kita sebarkan tanpa harus melukai.
Sebab bisa jadi, di tengah hiruk-pikuk linimasa yang tak pernah benar-benar sunyi, kepemimpinan hari ini bukan tentang siapa yang paling keras bersuara atau siapa yang paling ahli dalam retorika. Kepemimpinan hari ini adalah tentang siapa yang paling mampu menjaga kejernihan hati di tengah polusi informasi, dan siapa yang paling mampu menjaga pikiran tetap sehat di tengah kegilaan massa.
Dan di sanalah, mungkin, kita mulai belajar satu pelajaran agung dari Sang Nabi bahwa tidak semua hal harus dijawab, tidak semua perdebatan harus dimenangkan, dan tidak semua kebenaran harus diteriakkan dengan kemarahan. Ada kalanya dalam keriuhan yang tak berujung, diam adalah bentuk paling jujur dari kebijaksanaan, dan tabayyun adalah bentuk paling nyata dari keimanan. (Sal)