Di tengah gemerlap menara-menara kaca yang menjulang di tanah Hijaz dan ekspansi perbankan syariah yang merambah pusat-pusat finansial dunia, sebuah pertanyaan tajam merayap di sela-sela kesadaran benarkah kita sedang memahat kebangkitan, atau justru sedang merapikan puing-puing keruntuhan? Kegelisahan ini bukan sekadar wacana akademik yang berputar di ruang-ruang seminar yang dingin, melainkan sebuah denyut eksistensial yang menuntut keberanian untuk bercermin. Jika sejarah adalah sebuah siklus, maka posisi kita saat ini menuntut sebuah kejujuran kita apakah sedang menuju fajar baru, atau justru terlelap dalam senja peradaban yang memudar?
Kebangkitan atau keruntuhan total—benarkah itu nasib Islam di masa depan? Pertanyaan ini hadir sebagai gugatan yang tidak hanya menuntut jawaban teknis, tetapi juga keberanian spiritual. Jika keruntuhan total yang menanti, lantas apa gejalanya? Dan jika kebangkitan yang akan datang, bagaimana pembuktiannya dapat kita kenali sejak dini? Namun, ketika kita menoleh pada realitas mutakhir, ketika vitalitas budaya Islam tampak terkuras oleh utilitarianisme yang tandus, yang tanpa malu “menumpang” pada keberhasilan ilmiah bangsa lain, muncul keraguan yang tak mudah ditepis.
Lantas apakah ini yang dimaksud dengan proyek besar Islamisasi ilmu, ataukah ia telah berubah menjadi sekadar slogan tanpa isi yang kehilangan daya dobrak intelektualnya? Begitu pula ketika kita merayakan materialisme yang serba dangkal dalam bentuk simbol-simbol ekonomi, apakah ini juga menjadi bukti bahwa ekonomi syariah tak lebih dari sekadar “perpanjangan tangan” kapitalisme global yang terjebak pada sektor moneter, membuat kita terjebak pada formalitas transaksi tanpa menyentuh dimensi etik dan spiritualnya yang paling mendasar?
Inilah labirin pertanyaan yang dilontarkan oleh Ali A. Allawi. Dalam karyanya yang monumental, The Crisis of Islamic Civilization, ia mengajukan pertanyaan yang terasa sederhana tetapi menghunjam jantung pertahanan umat. Mampukah kita menjawab kapankah dunia Islam terakhir kali melahirkan karya intelektual, ilmiah, atau sastra yang benar-benar berpengaruh secara global? Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan, melainkan untuk menggugah kesadaran bahwa kemajuan fisik tanpa kedalaman intelektual dan spiritual hanyalah fatamorgana peradaban, yang tampak megah dari kejauhan, tetapi kosong dan gersang ketika didekati.
Sebagai sebuah agama, Islam memang tetap berdiri kokoh dalam kehidupan miliaran manusia. Ia bertahan dari gempuran sekularisme, ateisme, bahkan relativisme moral yang semakin menguat di dunia modern. Namun Islam bukan hanya sistem teologi, juga adalah sebuah peradaban (civilization). Dan di titik inilah kegelisahan itu menjadi semakin nyata. Menurut Allawi, “perwujudan Islam sebagai sebuah peradaban kini tengah mengalami krisis monumental.” Sebuah krisis yang tidak hanya bersifat politik atau ekonomi, tetapi menyentuh akar terdalam. Menghadapi krisis makna dan hilangnya "jiwa" dari raga kebudayaan kita.
Dalam konteks ini, pandangan Komaruddin Hidayat menjadi sangat relevan untuk membedah anatomi krisis ini. Beliau pernah menekankan bahwa agama memiliki “seribu nyawa”—ia tidak mudah mati karena berakar pada fitrah dan kesadaran terdalam manusia. Namun, yang bisa melapuk dan melemah adalah cara manusia memaknainya. Ketika umat terjebak dalam konflik sektarian yang melelahkan, dalam perebutan tafsir pinggiran yang kaku, atau dalam ekspresi keagamaan yang kehilangan kedalaman etik, maka krisis itu menjadi tak terelakkan. Konsekuensinya hanya dua antara bangkit kembali dengan kesadaran baru yang transformatif, atau larut dalam pelan-pelan kehilangan arah di tengah arus zaman.
Majalah The Economist, dalam sebuah ulasan tajam terhadap pemikiran Allawi, mencatat sebuah paradoks bahwa gagasan “kebangkitan Islam” hingga kini belum mampu membuktikan janji-janjinya secara konkret dalam panggung sejarah modern. Berbagai gerakan dari modernisme hingga fundamentalisme telah mencoba menawarkan jalan keluar sebagai respon terhadap dominasi Barat, tetapi berakhir pada kebuntuan yang sama. Karena barangkali terlalu fokus pada perebutan kekuasaan yang bersifat politis dan atau mengejar penguasaan teknologi, tetapi tanpa pembenahan basis epistemologi.
Sejarah mencatat spektrum upaya tersebut dengan sangat dinamis. Dari kaum modernis seperti Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani yang mencoba menyelaraskan wahyu dengan rasio, hingga gerakan revivalis seperti Muhammad ibn Abd al-Wahhab. Kita juga melihat upaya neo-modernis seperti Fazlur Rahman, hingga para penjaga tradisi seperti Seyyed Hossein Nasr yang menekankan pentingnya khazanah perennial. Bahkan tokoh-tokoh kontroversial dalam spektrum politik Islam hingga gerakan fundamentalis pun mengklaim membawa “janji kebangkitan”. Namun, sebagaimana dicatat oleh Roger Garaudy, janji itu sering kali berhenti sebagai retorika yang gegap gempita namun tidak menjelma menjadi peradaban yang utuh dan memberikan rahmat bagi semesta.
Ketertinggalan ini bukan sekadar perasaan inferioritas, melainkan fakta yang didukung data. Arab Human Development Report yang diterbitkan oleh UNDP secara konsisten menunjukkan bahwa banyak negara dengan mayoritas Muslim masih tertinggal jauh dalam indikator riset ilmiah, produksi pengetahuan, dan kebebasan akademik. Jumlah buku yang diterjemahkan di seluruh dunia Arab dalam setahun terkadang lebih sedikit daripada yang diterjemahkan oleh satu negara kecil di Eropa. Ini menunjukkan bahwa krisis yang dibicarakan Allawi memiliki dasar empiris yang nyata. Kita sedang mengalami kekeringan kreativitas intelektual.
Akar kebuntuan ini, menurut Allawi, terletak pada terlepasnya simpul antara yang ritual (syariat) dan yang spiritual (hakikat). Agama menjadi sekadar kumpulan prosedur formalitas, kehilangan daya transformasi batinnya untuk mengubah karakter pemeluknya. Di sinilah pertanyaan kritis muncul apakah sekularisme dan orientalisme turut mempercepat keterputusan ini, atau justru kita sendiri yang secara perlahan melepaskan akar spiritual tersebut demi mengejar pengakuan dari dunia yang materialistik?
Fenomena ini juga tertangkap dalam amatan Abdul Munir Mulkhan saat mengulas tentang “Islam Sejati Kiai Ahmad Dahlan”. Ia menunjukkan bahwa pada awalnya, gerakan seperti Muhammadiyah dibangun di atas fondasi spiritualitas yang kuat dan keberpihakan pada kaum mustad'afin. Namun dalam perkembangannya, rasionalitas institusional dan birokratisme menjadi lebih dominan daripada kedalaman ruhani yang menjadi motor penggerak awal. Pergeseran ini mencerminkan kecenderungan global di mana organisasi keagamaan menjadi korporasi yang efisien namun kehilangan "getaran" spiritualitasnya.
Tragedi intelektual lainnya adalah bagaimana kita memperlakukan warisan emas kita sendiri. Tokoh-tokoh besar seperti Ibn Rusyd, Jalaluddin Rumi, dan Ibn Arabi kini seolah menjadi asing di rumahnya sendiri. Ironisnya, pemikiran mereka justru lebih berkembang, dikaji secara objektif, dan diapresiasi di Barat. Barat tidak hanya mempelajari mereka secara historis, tetapi juga mengintegrasikan gagasan-gagasan mereka ke dalam perkembangan filsafat, psikologi, dan humaniora modern. Sementara di dunia Islam sendiri, nama-nama besar ini seringkali diperdebatkan secara dangkal, dicurigai, bahkan ditolak oleh arus utama yang lebih menyukai literalisme yang kering.
Kritik Seyyed Hossein Nasr menjadi pengingat yang penting di sini. Ia menegaskan bahwa dunia Islam memiliki kekayaan tradisi spiritual yang luar biasa, sebuah "perennial wisdom", tetapi seringkali kita mengabaikannya demi mengejar modernitas semu yang tidak sepenuhnya dipahami akar filosofisnya. Upaya Nasr untuk menghidupkan kembali seni dan musik sakral, seperti kolaborasinya dengan Sami Yusuf dalam album Songs of the Way, menunjukkan bahwa spiritualitas bukan berarti anti-modern, melainkan sebuah cara untuk memberi "ruh" pada ekspresi budaya modern agar tidak menjadi hampa.
Jika masalahnya memang berakar pada hilangnya kompas spiritual, maka kita perlu melakukan perjalanan pulang menelusuri kembali sumber awalnya. Di sinilah simbolisme “Al-Suffah” menemukan urgensinya. Al-Suffah bukan sekadar ruang fisik sederhana di serambi masjid Nabi di Madinah. Ia adalah madrasah pertama dalam Islam, sebuah laboratorium kemanusiaan tempat para sahabat belajar, hidup dalam kesahajaan, dan membentuk diri secara intelektual di bawah bimbingan langsung Rasulullah SAW.
Al-Suffah merepresentasikan kesatuan organik antara ilmu dan akhlak, antara kontemplasi batin dan aksi sosial yang nyata. Ia adalah ruang egaliter yang radikal, tempat di mana status sosial, suku, dan kekayaan dilebur sepenuhnya, digantikan oleh pencarian makna yang tulus. Namun dalam perjalanan sejarah yang panjang, tradisi yang berakar dari semangat Al-Suffah ini, yang kemudian melembaga dalam tasawuf, kerap dianggap sebagai tambahan yang tidak perlu atau bahkan penyimpangan oleh sebagian kalangan yang memuja legalisme formal. Di sinilah letak tantangan terbesarnya. Apakah penolakan itu lahir dari kajian yang mendalam, atau justru dari ketakutan akan kekuatan transformasi spiritual yang bisa menggugat status quo materialisme kita?
Bagi Allawi, perjalanan intelektualnya yang panjang bermuara pada satu kesimpulan mendasar bahwa peradaban Islam tidak mungkin bangkit hanya dengan meniru instrumen luar dari peradaban lain tanpa menghidupkan kembali dimensi spiritualnya. Kejayaan Islam di masa lalu, dari Baghdad hingga Andalusia tidak semata-mata ditopang oleh kekuatan militer atau akumulasi kekayaan, tetapi oleh kedalaman spiritual yang menjiwai arsitektur, sains, hukum, hingga tata kota.
Dan di titik inilah, Al-Suffah menemukan relevansinya kembali bagi manusia modern, yang bukan sekadar artefak sejarah, melainkan sebuah simbol keberadaan, sebuah “titik nol” peradaban. Di sanalah nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan ditempa secara bersamaan tanpa pemisahan yang kaku. Al-Suffah adalah prototipe masa depan yang serba mungkin, sebuah visi peradaban yang dibangun di atas kesahajaan yang bermartabat, kejujuran intelektual yang tajam, dan pengabdian yang melampaui kepentingan ego individu.
Maka, membangun masa depan peradaban Islam bukanlah tentang perlombaan membangun infrastruktur termegah atau sekadar mengejar ketertinggalan teknologi digital. Namun ia adalah sebuah upaya dekonstruksi terhadap cara kita memahami makna kemajuan itu sendiri. Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi yang mengasingkan manusia dan ambisi ekonomi syariah yang kadang terjebak dalam logika akumulasi kapitalisme global, Al-Suffah menawarkan jalan pulang, sebuah navigasi menuju egalitarianisme yang sejati.
Kebangkitan yang kita impikan bukanlah tentang seberapa tinggi gedung yang kita bangun untuk menyentuh langit, atau seberapa cepat kita mengadopsi kecerdasan buatan. Kebangkitan sejati terjadi ketika ilmu tidak lagi dikejar demi utilitas dan keuntungan materi semata, melainkan untuk menyempurnakan akhlak dan memanusiakan manusia kembali. Kebangkitan itu lahir ketika simpul antara ritual yang kita jalani dan spiritual yang kita rasakan kembali terjalin erat dalam setiap helaan napas kehidupan sosial kita.
Jika poros Al-Suffah ini kembali kita letakkan di jantung pendidikan, kebudayaan, dan kebijakan publik kita, maka krisis monumental yang dikhawatirkan Allawi mungkin bukanlah sebuah nisan kematian, melainkan rasa sakit yang mendahului lahirnya fajar baru. Sebab sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa agama dengan seribu nyawanya tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu untuk dipahami dan dihidupkan kembali oleh jiwa-jiwa yang haus akan makna.
Pertanyaan terpenting bagi kita hari ini bukanlah lagi kapan kejayaan itu akan datang, melainkan sejauh mana kita telah menjauh dari poros spiritualitas kita sendiri demi mengejar bayang-bayang peradaban lain? Di Al-Suffah, jawaban itu selalu tersedia bagi siapa saja yang berani memulai dari kesahajaan dan memiliki nyali untuk kembali pada kesejatian diri. (Sal)