Di sela-sela keriuhan Nagoya yang tak pernah tidur, sebuah visi besar baru saja diletakkan di atas meja perencanaan. Yayasan Arafah Batam mengumumkan rencana pembangunan gedung tertinggi di kawasan Nagoya, Batam, sebagai bagian dari pengembangan Masjid Jabal Arafah menuju konsep “Kota Madani”. Proyek yang masih dalam tahap finalisasi lahan ini disampaikan oleh Asman Abnur saat sambutan menjelang Salat Idulfitri 1447 H, di hadapan sekitar 2.500 jemaah. Gedung tersebut direncanakan berdiri di sisi kanan masjid, dilengkapi kubah sebagai simbol religiusitas, dan ditargetkan menjadi bangunan tertinggi di pusat kota Batam.
Pengumuman ini seolah memberikan warna baru pada cakrawala Batam yang selama ini didominasi oleh deretan hotel dan pusat perbelanjaan. Pilihan lokasi di Nagoya bukanlah tanpa alasan. Sebagai distrik bisnis tertua, Nagoya adalah detak jantung ekonomi pulau ini. Namun, pembangunan ini membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar konstruksi beton.
Kawasan Nagoya selama ini dikenal sebagai pusat ekonomi, pariwisata, dan hiburan di Batam. Sejak dekade 1970-an, wilayah ini telah bertransformasi dari hutan bakau menjadi hutan beton yang menjadi motor penggerak perdagangan. Kehadiran rencana menara ini menandai pergeseran wacana dari sekadar ruang komersial menuju simbol identitas religius-modern. Ia menjadi upaya untuk menyeimbangkan materialisme perkotaan dengan nilai-nilai spiritualitas yang inklusif.
Menurut Asman, proyek ini bukan hanya pembangunan fisik, melainkan representasi gagasan lama tentang “Kota Madani”—sebuah konsep yang pernah ia rintis bersama Nyat Kadir pada awal 2000-an. Saat itu, Batam sedang mencari jati diri di tengah arus globalisasi. Konsep Madani merujuk pada masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai moral, namun tetap kompetitif secara global.
“Insya Allah akan dibangun sebuah gedung yang tekadnya adalah menjadi gedung tertinggi di Nagoya,” ujar Asman dengan nada optimis. Baginya, ketinggian bukan sekadar perlombaan arsitektur, melainkan penanda kehadiran nilai-nilai luhur di tengah hiruk pikuk perdagangan. “Di atasnya akan kita bangun dome yang melambangkan Madani.”
Secara paralel, pengembangan masjid juga terus berjalan untuk menjawab kebutuhan umat yang kian dinamis. Lantai empat direncanakan menjadi ruang pendidikan agama, sementara fasilitas lift disiapkan untuk meningkatkan aksesibilitas jemaah, memastikan bahwa kemegahan ini tetap fungsional dan ramah bagi lanskap kemanusiaan.
Ambisi ini tidak tumbuh sendirian. Pengembangan Masjid Jabal Arafah juga mendapat dukungan lintas negara. Donasi dari negara seperti Uzbekistan dan Singapura disebut telah membantu pengadaan interior, termasuk karpet di beberapa lantai. Keterlibatan Uzbekistan, yang memiliki sejarah panjang dalam peradaban Islam di Jalur Sutra, memberikan sentuhan estetika dan makna historis yang kuat pada interior masjid.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana Batam, sebagai wilayah perbatasan yang strategis dekat Singapura, memiliki daya tarik tersendiri dalam jejaring filantropi Islam global. Batam bukan lagi sekadar halaman belakang Singapura, melainkan simpul penting dalam diplomasi religi di Asia Tenggara. Dukungan dari jiran menunjukkan bahwa Masjid Jabal Arafah telah menjadi titik temu spiritual bagi masyarakat regional.
Dalam kacamata perencanaan kota, proyek ini berpotensi memperkuat fungsi kawasan Nagoya sebagai “mixed-use area” yang menggabungkan fungsi ibadah, wisata religi, pendidikan, dan ekonomi dalam satu lanskap urban. Di banyak kota besar dunia, seperti Istanbul atau Kuala Lumpur, integrasi antara ikon religi dan pusat ekonomi telah terbukti mampu menciptakan ekosistem kota yang lebih manusiawi dan memiliki daya pikat wisata yang berkelanjutan.
Namun, sebuah menara tinggi selalu melahirkan bayangan yang panjang. Di balik optimisme tersebut, muncul sejumlah pandangan kritis dari berbagai kalangan yang mencerminkan kedewasaan demokrasi di Batam. Sebagian masyarakat melihat proyek ini sebagai langkah positif dalam memperkuat identitas kota. “Batam butuh ikon baru yang bukan hanya mal atau hotel, tapi juga punya nilai spiritual,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat. Bagi kelompok ini, Menara Madani adalah oase di tengah gurun industrialisasi.
Di sisi lain, sejumlah pengamat tata kota mempertanyakan urgensi pembangunan gedung tertinggi di tengah tantangan perkotaan yang lebih mendesak. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Batam melampaui rata-rata nasional, mencapai 7,04% pada 2023, Batam masih menghadapi persoalan ketimpangan ekonomi, kepadatan permukiman, dan kebutuhan infrastruktur dasar di beberapa wilayah pinggiran. Ada kekhawatiran bahwa kemegahan di pusat kota berbanding terbalik dengan kualitas hidup di pemukiman liar atau "hinterland".
Seorang pengamat urban dari kalangan akademisi menyampaikan pandangannya. “Simbol penting, tetapi kota juga dibangun dari hal-hal yang lebih mendasar seperti transportasi publik, hunian layak, dan ruang terbuka. Jangan sampai simbol justru mengaburkan prioritas.” Kritik lain juga menyentuh aspek tata ruang dan keberlanjutan, terutama jika proyek ini benar-benar menjadi bangunan tertinggi di kawasan padat seperti Nagoya.
Isu seperti kemacetan, daya dukung lingkungan terhadap beban bangunan, hingga integrasi dengan rencana tata kota jangka panjang menjadi perhatian yang tak bisa diabaikan. Menara yang sangat tinggi membutuhkan manajemen limbah, ketersediaan air bersih, dan sistem keamanan kebakaran yang luar biasa kompleks di tengah lingkungan yang sudah sangat sesak. Rencana Menara Madani di jantung Batam yang perlu diperhatikan bukan sekadar soal tinggi bangunan atau jumlah lantai yang menembus awan.
Rencana ini adalah sebuah narasi tentang arah masa depan kota ini. Sebuah pertemuan antara ambisi, simbol, dan realitas sosial. Di satu sisi menawarkan harapan bahwa kota ini tidak hanya tumbuh secara ekonomi sebagai kawasan industri, tetapi juga memiliki ruh dan arah moral yang jelas. Menara ini diharapkan menjadi kompas bagi masyarakat Batam di tengah perubahan zaman yang serba cepat. Namun di sisi lain, ia mengingatkan kita semua bahwa setiap simbol membutuhkan fondasi yang kokoh yang bukan hanya beton dan baja yang dipasok oleh kontraktor, tetapi juga keadilan sosial, empati pada warga kecil, dan perencanaan urban yang matang.
Sebuah gedung hanyalah benda mati jika tidak mampu memberi manfaat luas bagi kehidupan di sekelilingnya. Barangkali, yang paling penting bukanlah seberapa tinggi menara itu akan menjulang menantang langit, melainkan seberapa dalam ia mampu berakar dalam kehidupan masyarakatnya dan seberapa luas ia bisa menaungi mereka yang membutuhkan. Sebab kota bukan hanya tentang apa yang terlihat menjulang di langit, tetapi juga tentang apa yang dirasakan di bumi. Di sanalah, makna "Madani" yang sesungguhnya oleh waktu akan terus diuji. (Red)