Seseorang lahir dan tumbuh di tengah zamannya. Tidak ada yang tiba-tiba menjadi, misalnya, sebagai penulis yang imajinatif, pemusik yang ekspresif, pelukis yang eksperimental, pebisnis ulung, atau bahkan pencinta yang murung. Di belakang setiap kecenderungan seorang manusia selalu ada zaman, lingkungan, keluarga, pendidikan, pergaulan, kebudayaan, teknologi, dan pengalaman hidup yang perlahan-lahan membentuk dirinya.
Manusia tidak pernah benar-benar tumbuh sendirian. Ia tumbuh bersama suara-suara yang didengarnya sejak kecil, bersama wajah-wajah yang dilihatnya dari almanak/kalender, dari gambar ilustrasi buku-buku yang dibacanya, bersama lagu-lagu yang melekat di telinganya, bersama petuah dan pemikiran orang-orang yang dikaguminya, dan bahkan bersama kegelisahan yang diam-diam diwariskan oleh zamannya.
Karena itu, ketika kita membaca kembali perjalanan seorang seniman, sesungguhnya kita tidak hanya sedang membaca seorang manusia dengan segala cerita tentang kelahiran, pertumbuhan, karya, keberhasilan, dan kepergiannya. Kita juga sedang membaca sebuah zaman yang pernah hidup melalui tubuh, suara, karya, dan ingatannya.
Seorang seniman, betapapun personal karya-karyanya, hampir selalu merupakan anak dari lingkungan sejarah dan kebudayaan yang melahirkannya. Di dalam karya-karyanya terdapat jejak zaman dalam caranya manusia berpikir, selera yang berkembang, bahasa yang digunakan, teknologi yang tersedia, kegelisahan yang dirasakan, dan harapan-harapan yang diam-diam tumbuh di tengah masyarakat pada masanya.
Karena itu pula, sebuah lagu tidak pernah benar-benar hanya menjadi lagu. Ia dapat menjadi semacam kapsul waktu yang menyimpan suasana sebuah generasi. Ketika lagu itu diperdengarkan kembali bertahun-tahun kemudian, yang muncul bukan hanya melodi dan liriknya, tetapi juga serpihan pengalaman orang yang mendengarkannya. Misalnya tentang rumah tempat lagu itu pertama kali terdengar, orang-orang yang pernah hadir, stasiun televisi yang menayangkannya, tentang kasetnha yang diputar berulang-ulang, atau masa kanak-kanak yang ternyata telah berlalu dengan begitu jauh.
Dalam pengertian seperti itu, karya seorang seniman dapat memiliki usia yang jauh lebih panjang daripada tubuh penciptanya. Maka sehubungan dengan itu, saya ingin mengangkat sosok seorang anak cerdas dari Jepara yang bernama Abiem Ngesti, dalam rangka mengenang 31 tahun kepergiannya yang tepatnya pada 19 Agustus.
Tiga puluh satu tahun tentu bukan waktu yang pendek. Bagi sebagian orang, rentang selama itu mungkin sudah cukup untuk membuat sebuah nama perlahan tenggelam dari ingatan. Tetapi ada nama-nama tertentu yang justru memiliki caranya tersendiri untuk bertahan. Mereka tidak lagi hadir melalui tubuh, pertunjukan, atau karya-karya baru, melainkan melalui lagu yang terus diputar, rekaman yang terus ditemukan, cerita yang terus dituturkan, dan orang-orang yang dengan caranya masing-masing menjaga agar ingatan tentangnya tidak benar-benar hilang.
Tuhan memberi usia kepadanya, hanya tidak genap sampai 17 tahun. Abiem Ngesti, yang lahir pada 30 Oktober 1978 dan meninggal pada 19 Agustus 1995, ia pergi ketika usianya baru 16 tahun. Usia yang bagi kebanyakan manusia baru merupakan permulaan perjalanan hidup, ketika seseorang sedang belajar mengenali dirinya, sedang mencari tempatnya di tengah dunia, dan perlahan sedang memahami ke mana hendak membawa masa depannya. Namun bagi seorang Abiem, usia yang sangat singkat itu telah ia isi dengan perjalanan musikal yang luar biasa padat. Ia telah mengenal panggung, rekaman, industri musik, popularitas, dan menghasilkan karya yang kemudian menjadi bagian dari ingatan banyak orang.
Ia meninggal dalam kecelakaan di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, ketika kendaraan yang ditumpanginya bersama keluarga mengalami kecelakaan setelah menabrak truk yang berhenti di bahu jalan. Kepergiannya terasa begitu mendadak, dan peristiwanya seolah sebuah cerita yang masih berada di tengah kalimat lalu tiba-tiba dipaksa berhenti sebelum sempat mencapai titik akhirnya.
Memang, tidak ada yang mengetahui akan seperti apa cerita selanjutnya. Tidak ada kesempatan bagi orang-orang untuk mengetahui akan menjadi seperti apa perjalanan musiknya apabila ia diberi usia lebih panjang. Tidak ada kesempatan bagi para penggemarnya untuk melihat bagaimana seorang Abiem Ngesti yang masih sangat muda itu akan berkembang ketika memasuki usia dewasa, tentang bagaimana ia akan bereksperimen dengan genre musiknya, atau bagaimana ia akan membaca perubahan zaman, atau karya-karya apa lagi yang mungkin lahir dari dirinya.
Namun karena itulah, setiap kali nama Abiem Ngesti disebut kembali, kita berhadapan dengan segala kemungkinan yang tidak pernah selesai. Bagi orang-orang yang mengenangnya, bukan hanya kenangan tentang seseorang yang pernah ada, melainkan juga tentang masa depan yang tidak pernah sempat terjadi. Lalu di situlah kenangan menjadi sesuatu yang ganjil. Dalam pengertian ia tidak hanya menyimpan apa yang telah berlalu, tetapi kadang-kadang juga membuat kita membayangkan apa yang mungkin terjadi seandainya waktu memberi kesempatan yang lebih panjang bagi dirinya.
Dan mungkin, dari sinilah cerita tentang Abiem Ngesti menjadi menarik untuk dibicarakan kembali. Bukan semata-mata karena ia seorang penyanyi yang terkenal pada masanya, bukan hanya karena ia menghasilkan sejumlah karya dalam usia yang sangat muda, melainkan karena setelah tubuhnya pergi, suaranya ternyata masih memiliki jalan untuk kembali. Ia kembali melalui lagu-lagu lama, rekaman yang ditemukan kembali, ingatan orang-orang yang pernah mendengarkannya, dan terutama melalui komunitas penggemar yang sampai hari ini masih menyebut namanya.
Dengan demikian, mengenang Abiem Ngesti bukan hanya perkara mengenang seseorang yang meninggal 31 tahun lalu. Ia juga menjadi kesempatan untuk bertanya tentang bagaimana mungkin seorang manusia yang hidup begitu singkat dapat meninggalkan ingatan yang begitu panjang? Apa rahasia yang sebenarnya hingga membuat sebuah karya mampu bertahan melewati kematian penciptanya? Dan mengapa orang-orang masih merasa perlu berkumpul, mencari, mendengarkan, atau membicarakan seseorang yang secara fisik sudah tidak mungkin lagi mereka temui?
Barangkali, pada akhirnya, yang terus hidup bukanlah tubuh sang seniman, melainkan hubungan antara karya dan ingatan manusia. Dan selama hubungan itu belum putus, sebuah nama belum benar-benar selesai meninggalkan dunia. Karena waktu ternyata tidak selalu bekerja seperti yang kita kira. Sebab ada orang yang hidup panjang, tetapi jejaknya pendek. Sebaliknya, ada orang yang hidup sebentar, tetapi jejaknya justru panjang.
Sosok Abiem Ngesti dengan karya bermusiknya, sesudah jauh wafatnya tahun 1995, ia masih punya basis fans yang solid, dan bahkan mungkin orang menyebutnya, oh, sungguh fanatik. Maka pada titik inilah kisah seorang bocah Jepara itu menjadi menarik bukan semata karena ia pernah terkenal sebagai penyanyi cilik atau kemudian dijuluki Pangeran Dangdut, melainkan karena karya-karyanya masih menemukan jalan menuju pendengar yang lahir jauh setelah dirinya tiada.
Dalam tulisan ini, satu sisi ingin berbicara sosoknya, dan sisi lainnya adalah tentang para fans-nya yang tergabung dalam grup ANFC (Abiem Ngesti Fans Club). Tapi kalau memperkenalkan sosoknya tentu sudah banyak tulisan-tulisan lain. Maka saya ingin berbicara tentang yang kedua saja. Tentang fenomena apa yang sesungguhnya pada satu komunitas itu, ketika orang-orang pun berkata, "Orangnya sudah meninggal, kok masih dicari-cari. Tak mungkin bisa bertemu dan bersama menyanyikan lagi sebuah lagu."
Kalimat semacam itu sebenarnya menyimpan pertanyaan yang lebih dalam bagi penggemar. Apakah yang disebut penggemar sesungguhnya sedang mencari seseorang, atau sedang mencari kembali bagian dari dirinya sendiri yang pernah hidup bersama seseorang itu? Sebab seorang idola tidak selalu tinggal sebagai manusia yang nyata. Ia bisa berubah menjadi ingatan, simbol, masa kecil, suara dari sebuah rumah, suasana sebuah kampung, kenangan sekolah, kaset yang diputar berulang-ulang, acara televisi pada Minggu pagi, atau bahkan seseorang yang dahulu pernah kita cintai.
Maksudnya, penyanyi dan pemusik kelahiran 30 Oktober 1978 ini, yang lahir di tempat lahirnya RA Kartini, RMP Sosrokartono, atau bahkan Ratu Sema masa Kalingga, sudah tak mungkin lagi menghasilkan sebuah karya setelah album kesebelasnya, yaitu album Dahsyat yang meraih penghargaan sebagai video klip terbaik dari salah satu televisi swasta nasional. Catatan sejarah musiknya menyebut bahwa ia menghasilkan 11 album dalam rentang karier yang sangat singkat, dimulai dari Amir Asongan pada 1990, kemudian Pangeran Dangdut, Ini Dangdut, Kugenggam Dunia, Gempa, Ini Jaman Uang, Astaghfirullah, Leila, Sonia, Gadis Baliku, hingga Dahayat pada 1995 sebagai album terakhirnya, dan video klipnya yang dirilis pada 15 Juli 1995, sekitar sebulan sebelum kecelakaan yang merenggut hidupnya.
Menariknya, perjalanan musikal Abiem tidak berhenti pada satu warna. Ia memang tumbuh melalui dangdut, tetapi kemudian bersentuhan dengan slow rock, rap, pop, dan unsur etnik. Dalam Gadis Baliku, misalnya, ia mencoba memadukan dangdut, rap, dan elemen musik etnik. Eksperimen itu menunjukkan bahwa seorang anak yang tumbuh di tengah musik populer tidak selalu harus tunduk kepada satu kotak genre. Ia justru dapat menjadi anak zamannya dengan cara menyerap berbagai bunyi yang sedang beredar, kemudian meramunya menjadi sesuatu yang berbeda.
Adanya perkumpulan penggemar itu, orang cendekia mungkin menyebutnya bahwa ini katanya karena pisau tajam imag atau imagologisme. Karena keberhasilan iklan dan konsumerisme, membuat orang mengantri untuk membeli segala brand, menyukai sebuah sosok, lebih karena citra yang telah dibangun oleh para stakeholder-nya. Tetapi mungkin kita perlu sedikit berhati-hati. Tidak semua kecintaan kepada seorang tokoh dapat dijelaskan hanya sebagai hasil pencitraan atau keberhasilan industri.
Citra memang penting. Bernama industri, termasuk industri musik pasti akan membangun sebuah kemasan, atau label, atau membangun identitas, baik melalui televisi untuk membentuk popularitas, dan media yang dapat memperluas jangkauan seorang artis. Tetapi sesungguhnya setelah sebuah karya dilepas kepada publik, maknanya tidak lagi sepenuhnya berada di tangan industri. Karena user, dan dalam hal musik, adalah pendengar pun ikut menciptakan makna.
Sebuah lagu dapat menjadi milik penciptanya ketika pertama kali direkam, tetapi dalam perjalanan waktu ia bisa menjadi milik kenangan orang lain. Lagu yang bagi penyanyi hanya berdurasi empat atau lima menit dapat menjadi bagi pendengarnya sebuah pintu menuju masa lalu yang berlangsung puluhan tahun. Lalu dengan perlahan tapi pasti, muncul sebuah percaya, atau berlomba-lomba membeli produknya, lalu bahagia sepuasnya. Dengan belanja pasti bahagia, begitu slogannya. Dengan pergi atau mendengarkan suaranya, datanglah ke konsernya, sama haknya dalam hal idolaisme ustaz, hadirilah pengajiannya, maka perasaanmu ajib sekali setelah terhubung dengannya.
Tetapi fandom tidak selalu sesederhana perilaku konsumen. Penelitian mengenai hubungan penggemar dan musisi menunjukkan bahwa hubungan yang terbentuk melalui media dapat memiliki dimensi parasosial. Penggemar merasa dekat dengan figur yang sesungguhnya tidak mereka kenal secara pribadi. Media sosial bahkan memperluas kemungkinan hubungan semacam itu karena penggemar dapat mengikuti, mengomentari, dan merasa seolah-olah berinteraksi langsung dengan figur publik.
Dalam konteks Abiem Ngesti, situasinya bahkan menjadi lebih unik. Sang penyanyi sudah tidak dapat berinteraksi langsung dengan penggemarnya. Tidak akan ada konser baru. Tidak ada wawancara baru. Tidak ada unggahan baru dari dirinya. Tidak ada lagu baru yang dinyanyikannya. Namun karena itulah komunitas penggemar dapat berubah fungsi dari sekadar tempat menyukai seorang penyanyi menjadi ruang untuk menyimpan ingatan yang dapat dipersatukan.
Sama halnya seperti sekarang bagi seorang yang sangat butuh citra dan pencitraan di depan publik. Untuk setidaknya dapat menemukan bahan buat selpie yang kemudian diunggah di sosial media masing-masing. Seperti ketika kita membeli merk baju ini, atau menyukai dan menyanjung tokoh itu, secara psikisnya karena untuk dapat diterima di sebuah komunitas tertentu. Karena komunitas itulah yang dianggapnya sebagai representasi dirinya, yang akan membawa gembira dan bahagia yang asli, bukan palsu. Maka siapa yang berani sendirian, siap-siap diterkam macan atau sesat dan disesatkan, begitu katanya.
Di zaman media sosial, identitas memang semakin sering dipertunjukkan. Kita bukan hanya hidup sebagai diri sendiri, tetapi juga sebagai representasi diri di hadapan orang lain. Kita memilih foto, musik, pakaian, buku, tokoh, agama, perjalanan, makanan, dan komunitas tertentu untuk mengatakan: inilah saya, inilah kegemaran saya, inilah harapan saya, dan lain sebagainya dengan menunjukkan segala pertautannya.
Karena kita yang hidup dalam sebuah komunitas tidak selalu berarti kita kehilangan individualitasnya. Kadang-kadang justru melalui komunitaslah seseorang menemukan dirinya. Sebagaimana penelitian tentang fandom menunjukkan bahwa hubungan penggemar dengan idola dapat berkembang menjadi hubungan sosial antarpenggemar sendiri. Dalam penelitian tentang komunitas penggemar di Indonesia, interaksi parasosial tidak hanya membentuk kedekatan emosional dengan idola, tetapi juga dapat memperkuat solidaritas dan hubungan sosial di antara sesama penggemar.
Dengan demikian, ketika seseorang bergabung dengan ANFC, ia mungkin bukan sekadar mengatakan, "Saya suka Abiem Ngesti." Ia mungkin sedang mengatakan sesuatu yang lebih personal: "Saya pernah hidup pada masa itu." Atau, "Saya mengenal lagu itu dari ayah saya." Atau, "Saya tumbuh bersama suara itu." Atau bahkan, "Ada bagian dari diri saya yang hanya bisa saya temukan ketika lagu itu diputar."
Bisa juga karena jangan-jangan bawaan sifat manusia yang suka nyentrik, atau orang suka yang eksentrik, untuk menunjukkan pada dunia bahwa aku beda dan tampil beda dari Anda. Inilah aku menunjuk dadaku, dengan musik kesukaanku, dengan imanku, pandanganku, gantengku, cantikku, This is Me. Aku bukan lagi semata subjek, tapi sudah cukup senang kok sebagai objek.
Lantas apakah saya sedang membicarakan yang baik atau buruk pada yang demikian itu? Oh tidak. Sesuatu tidak bisa selalu masuk berkategori baik atau buruk, apalagi salah atau benar. Wah ini mungkin dituduh kampanye relativitas kebenaran, tapi silakan saja Anda menganggapnya begitu. Saya hanya ingin menarasikan perihal anak cerdas dari Jepara dan orang-orang yang berkumpul di komunitas ANFC.
Mereka atau kami antara lepas dan tidak pada asumsi-asumsi yang dipaparkan tadi. Namun sekali lagi, sebagaimana pada paragraf pertama, bahwa seseorang lahir dan tumbuh pasti di tengah zamannya. Manusia adalah anak zamannya yang tidak bisa ujug-ujug, misalnya, menjadi seorang hafizh dan lalu mengharamkan musik. Karena lingkunganlah yang membentuknya dan mendukungnya. Maka mengapa kemudian orang menjadi tenar sebagai penulis yang imajinatif, pemusik yang ekspresif, pelukis yang eksperimental, pebisnis ulung, atau pencinta yang murung, ia hanya sebutan-sebutan di tengah filosofi hidup yang eksistensialisme dan bahkan menuju Fir'aunisme.
Di sini saya kira kita perlu membedakan antara "menjadi diri sendiri" dan "mempertuhankan diri sendiri". Kalau kita berbicara eksistensialisme dalam pengertian yang sederhana, hal ini dapat dibaca sebagai kegelisahan manusia untuk menemukan makna dirinya di tengah dunia yang tidak selalu memberikan jawaban. Tetapi ketika pencarian diri berubah menjadi sebuah pemujaan terhadap ego, manusia dapat jatuh ke dalam apa yang dalam tulisan ini saya sebut sebagai Fir'aunisme, yaitu sebuah keadaan ketika diri sendiri ingin menjadi pusat segala sesuatu.
Lalu ketika hadir Muhammad SAW-semoga salawat dan salam kepadanya dan keluarganya, yang membawa misi agar kita menjadi "manusia biasa" dan penggembira bagi siapa pun yang terluka di tengah ketidakadilan peluang. Di tengah kancah peradaban Firaunisme sebagai puncak lambang memenuhi sang ego diri, maka ngeksis sekadar bertahan, atau sekadar eskapisme karena tak gampangnya mengumpulkan uang, maka menjalankan filosofi eksistensialisme dalam batas wajar sangatlah penting.
Tiap-tiap orang pasti menjalani proses penemuan dirinya dan dalam menjalankan manusia-fungsi di tengah sosial zamannya, misalnya untuk dapat melayani dan membiayai hidup diri dan keluarganya, atau membangun harapannya. Seorang pakar investasi dunia, Warren Buffett, berkata, engkau tidak bisa memilih ayah dan ibu yang melahirkanmu, tapi engkau bisa memilih role model yang engkau sukai. Maka di sini ada satu hal yang menarik bahwa manusia memang tidak memilih titik awal kehidupannya. Kita tidak dapat memilih dilahirkan pada dekade berapa, di keluarga seperti apa, dengan keadaan ekonomi bagaimana, dengan teknologi apa, atau dengan budaya populer yang seperti apa.
Tetapi kita mempunyai ruang untuk memilih apa yang akan kita warisi, apa yang akan kita kritik, apa yang akan kita teruskan, serta apa yang pada akhirnya kita tinggalkan. Namun, sampai sejauh mana pilihan itu benar-benar merupakan pilihan yang sepenuhnya lahir dari kehendak kita sendiri? Lalu, bisakah kemudian kita sungguh-sungguh memilih dan memilah, menyukai dan tidak menyukai karya-karya pop culture yang hadir di tengah zaman kita?
Sebab sesuatu yang banyak disukai, atau yang viral, istilah yang lebih akrab digunakan sekarang, tidak selalu semata-mata lahir dari keputusan individual. Ia sering merupakan hasil dari sesuatu yang telah lebih dahulu disediakan, diproduksi, dipromosikan, diedarkan, dan berulang-ulang diperkenalkan kepada kita melalui berbagai saluran kebudayaan.
Karena itu, ketika seseorang berkata, "Aku memilih lagu ini dan itu," pilihan tersebut sesungguhnya berlangsung di dalam ruang yang sebelumnya telah dibentuk oleh industri, media, teknologi, lingkungan sosial, dan selera kolektif pada zamannya. Kita memang memilih, tetapi pilihan kita tidak pernah benar-benar berlangsung di ruang yang kosong.
Di sinilah budaya populer menjadi menarik untuk dibaca bukan sekadar sebagai kumpulan produk yang kita sukai, melainkan sebagai bagian dari lingkungan yang secara perlahan ikut membentuk cara kita merasa, berpikir, mengingat, bahkan menentukan siapa diri kita. Sebuah lagu populer, misalnya, tidak hanya menyimpan melodi dan lirik. Di dalamnya dapat tersimpan cara berpakaian suatu generasi, gaya bicara yang sedang berkembang, teknologi rekaman yang digunakan, situasi ekonomi dan sosial pada masanya, bahasa pergaulan, kebiasaan menonton televisi, bentuk hiburan yang tersedia, hingga cara sebuah generasi membayangkan masa depan.
Dengan demikian, ketika kita kembali mendengarkan sebuah lagu lama, yang kita dengarkan sesungguhnya bukan hanya bunyi dari masa lalu, melainkan juga semacam arsip kebudayaan tentang bagaimana manusia pernah hidup, memilih, menyukai, dan membayangkan dirinya di tengah zamannya. Demikian tiap-tiap orang telah melewati hidup dan pengalamannya masing-masing, yang teristimewa, dan patut ia kenang dan pertahankan di tengah zaman disrupsi begini. Karena itulah kita perlu membedakan nostalgia dari sekadar romantisasi masa lalu.
Nostalgia bukan selalu keinginan untuk kembali ke masa lalu. Berarti dapat juga menjadi cara manusia menyusun kembali identitasnya. Dalam studi tentang fandom dan memori kolektif, ingatan penggemar bahkan dapat menjadi bagian dari praktik budaya yang menjaga keberadaan sebuah karya tetap hidup. Penggemar bukan hanya mengonsumsi karya. Mereka juga menyimpan cerita, membuat dokumentasi, berbagi pengalaman, dan meneruskan ingatan kepada generasi berikutnya.
Bagi sebagian orang, pembicaraan semacamnya mungkin akan terdengar seperti dunia antah-barantah. Berbicara sebuah dunia yang dipenuhi nama-nama yang tidak semuanya mereka kenal, apalagi mereka dengarkan. Karena tidak semua orang tahu atau tumbuh bersama dengan ketenaran seorang Elvis Presley, John Lennon, Michael Jackson, Marilyn Monroe, Madonna, Celine Dion, atau Umm Kulthum. Karena ada yang cuma akrab dengan nama-nama dari tanah sendiri seperti God Bless, Slank, Iwan Fals, Titiek Puspa, Rhoma Irama, sampai Nasida Ria. Nama-nama itu bukan sekadar deretan artis atau penyanyi yang pernah populer. Mereka adalah suara-suara yang pada suatu masa hadir di tengah kehidupan masyarakat, menemani perjalanan sebuah generasi, dan tanpa disadari ikut membentuk cara orang mengenali dirinya sendiri.
Begitu pula dalam tradisi musik dan lantunan keagamaan. Ada orang yang karena keyakinan atau pandangan tertentu menganggap musik sebagai sesuatu yang harus dihindari, sehingga ruang dengarnya dibentuk oleh suara-suara lain. Mereka mungkin lebih mengenalnya pada sosok As-Sudais, Al-Ghamidi, Asy-Syuraim, atau dalam konteks Indonesia Nanang Qosim, Muammar ZA, Maria Ulfah, dan nama-nama lainnya. Bagi mereka, suara bukan semata-mata hiburan, melainkan dapat menjadi bagian dari penghayatan, pendidikan, keteladanan, atau cara mendekatkan diri kepada sesuatu yang mereka yakini lebih tinggi daripada sekadar kesenangan duniawi.
Karena itu, daftar nama-nama tadi sesungguhnya tidak penting sebagai daftar tentang siapa yang paling layak dikagumi, siapa yang paling hebat, atau siapa yang seleranya paling benar. Kita tidak sedang menyusun tangga peringkat kebudayaan untuk menentukan musik mana yang paling tinggi dan musik mana yang paling rendah. Setiap orang datang dari lingkungan pengalaman yang berbeda, dan setiap generasi memiliki pintu masuknya sendiri menuju dunia bunyi. Bahkan yang jauh lebih penting adalah memahami bahwa setiap generasi memiliki suara yang membentuknya, suara yang menjadi latar belakang bagi pengalaman hidupnya, bahkan sering menjadi bagian dari ingatan yang tidak ia sadari telah disimpannya begitu lama.
Sebab kita semua sebenarnya tumbuh bersama musik, meskipun tidak selalu menyebutnya demikian. Ada generasi yang mengenal lagu melalui kaset pita yang harus diputar dengan hati-hati agar tidak kusut. Ada yang tumbuh dengan radio dan hafal jam tayang program musik tertentu. Ada yang menunggu acara musik di televisi, menanti penyanyi kesayangan muncul di layar, kemudian merekamnya dengan perangkat seadanya. Ada yang mengumpulkan poster, sampul kaset, majalah musik, atau potongan foto artis yang ditempel di dinding kamar. Ada pula yang duduk berjam-jam di depan radio, menunggu lagu favorit diputar, lalu menekan tombol record agar suara itu dapat disimpan dan didengarkan kembali.
Bagi generasi tertentu, memiliki sebuah album bukan perkara sederhana. Ada uang yang harus dikumpulkan untuk membeli kaset. Ada toko yang harus didatangi. Ada sampul yang dibaca berkali-kali. Ada lirik yang mungkin ditulis ulang dengan tangan karena belum tersedia dalam bentuk digital. Sebuah kaset bahkan dapat menjadi benda yang sangat personal, yang dipinjamkan kepada teman, dibawa dalam perjalanan, diputar di ruang tamu, atau disimpan bertahun-tahun meskipun pemutarnya sendiri sudah tidak berfungsi.
Kemudian datanglah era VCD, DVD, MP3, dan komputer yang perlahan mengubah cara manusia menyimpan dan mendengarkan musik. Lagu tidak lagi harus hadir sebagai benda fisik. Tapi mulai berubah menjadi berkas yang dapat dipindahkan dari satu perangkat ke perangkat lain. Koleksi musik yang dahulu memenuhi rak dapat berpindah ke sebuah perangkat kecil yang dapat dibawa ke mana-mana. Dengan perlahan, musik melepaskan dirinya dari benda.
Dan kemudian datang internet. YouTube mengubah cara orang menemukan kembali lagu-lagu lama. Spotify dan berbagai layanan streaming membuat jutaan rekaman dapat diakses tanpa harus memiliki bentuk fisiknya. Media sosial kemudian membawa musik lebih jauh lagi. Sebuah lagu dapat muncul kembali melalui potongan video, menjadi latar sebuah cerita, kemudian viral di TikTok, dan dalam waktu singkat ditemukan oleh generasi yang bahkan belum lahir ketika lagu tersebut pertama kali direkam.
Di sinilah perubahan teknologi menjadi menarik. Teknologi memang mengubah cara kita mendengarkan musik, tetapi sekaligus mengubah cara masa lalu menemukan jalan untuk kembali kepada kita. Lagu yang dahulu hanya dikenal oleh satu generasi kini dapat menyeberang kepada generasi berikutnya. Sebuah rekaman yang pernah hampir hilang dari peredaran dapat muncul kembali melalui algoritma. Penyanyi yang telah puluhan tahun meninggal dapat kembali didengar oleh anak-anak muda yang tidak pernah menyaksikan pertunjukannya secara langsung.
Maka ada sesuatu yang tetap, meskipun medium terus berubah, manusia selalu membutuhkan suara untuk menemani perjalanan hidupnya. Sebab yang berubah hanyalah cara suara itu datang kepada kita. Jika dahulu kita menunggu radio, kemudian kita membeli kaset, dan setelah itu kita mencari VCD atau CD, dan setelahnya menyimpan lagu dalam jenis MP3. Bahkan sekarang kita cukup membuka YouTube, Spotify, TikTok, atau platform digital lainnya untuk dapat mendengarkan musik. Jika dahulu kita harus mencari lagu, kini dengan algoritma yang menemukannya untuk kita. Jika dahulu selera musik dibentuk oleh radio, televisi, toko kaset, majalah, dan lingkungan pertemanan, sekarang pembentuk selera itu semakin kompleks antara gesekan-gesekan antar platform digital, algoritma rekomendasi, playlist, influencer, komunitas daring, hingga percakapan yang berlangsung tanpa batas geografis.
Lalu di tengah perubahan itu, sesungguhnya ada satu hal yang barangkali tidak banyak berubah. Sebuah lagu tetap memiliki kemampuan untuk menempel pada pengalaman manusia. Kita mungkin lupa judul sebuah lagu, tetapi tiba-tiba mengenali melodinya ketika terdengar dari kejauhan. Kita mungkin tidak lagi ingat kapan pertama kali mendengarnya, tetapi beberapa nada pembuka dapat membawa kita pulang kepada sebuah rumah yang mungkin sudah tidak ada, kepada seseorang yang sudah lama pergi, atau kepada masa ketika hidup terasa jauh lebih sederhana. Musik, dengan demikian, bukan hanya perkara bunyi yang kita dengarkan, melainkan juga merupakan salah satu cara manusia menyimpan waktu.
Karena itulah setiap generasi memiliki "suara zamannya" sendiri. Suara itu tidak selalu harus berupa musik yang paling bermutu menurut ukuran estetika tertentu. Ia bisa saja lagu yang sederhana, lagu yang dianggap norak oleh generasi sesudahnya, atau lagu yang bahkan tidak lagi dianggap penting oleh industri musik. Tetapi bagi orang-orang yang tumbuh bersamanya, lagu tersebut memiliki nilai yang tidak dapat sepenuhnya diukur dengan kritik musik. Sebab nilai sebuah lagu kadang-kadang tidak terletak pada seberapa sempurna ia dimainkan, melainkan pada seberapa dalam ia pernah menjadi bagian dari kehidupan seseorang.
Dan mungkin, dari sinilah kita dapat memahami mengapa nama-nama seperti Abiem Ngesti, Nike Ardilla, dan Poppy Mercury, dan lainnya masih mungkin kembali dibicarakan. Meski ia berasal dari sebuah zaman yang medium utamanya berbeda dengan zaman kita sekarang. Tetapi ketika lagu-lagunya berpindah dari kaset ke arsip digital, dari televisi ke YouTube, dari ingatan orang tua kepada telinga anak-anak muda, sesungguhnya yang sedang berlangsung bukan sekadar perpindahan format, yang berpindah adalah ingatan.
Dan ketika ingatan berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, sebuah karya memperoleh kemungkinan untuk menjalani kehidupan keduanya, yaitu kehidupan yang bahkan mungkin tidak pernah sempat dibayangkan oleh penciptanya sendiri. Demikianlah teknologi yang berubah, maka cara manusia mengingat musik pun berubah. Namun sesungguhnya kebutuhan dasarnya manusia tetaplah sama bahwa manusia ingin memiliki sesuatu yang dapat menghubungkan dirinya dengan masa yang pernah dilaluinya.
Lalu mengapakah dan siapakah Abiem Ngesti? Dialah penyanyi legenda cilik Indonesia yang telah menghasilkan karya unik. Abiem memulai kariernya sejak sangat muda, Amir Asongan tercatat sebagai album awal pada 1990, sementara Pangeran Dangdut pada 1991 menjadi salah satu karya yang mengangkat namanya secara luas. Ia kemudian menghasilkan total 11 album hanya dalam sekitar lima tahun perjalanan profesionalnya.
Bahkan jauh sebelum Weird Genius membuat karya "Lathi", atau Ahmad Dhani mengaransemen "Sedang Ingin Bercinta", atau Bondan & Fade2Black membawakan "Keroncong Protol", mereka berhasil memadukan musik dan etnik. Jauh sebelum mereka, Abiem Ngesti di usia yang belum genap 17 tahun telah menelurkan karya serupa di album Pangais Bungsu, Gadis Baliku.
Menilai bagian ini, ada baiknya kita melihat karya Abiem bukan dengan ukuran zaman sekarang, melainkan dengan ukuran teknologi dan industri musik ketika ia hidup. Pada awal hingga pertengahan 1990-an, batas-batas genre musik populer di Indonesia mulai semakin cair. Dangdut bersentuhan dengan rock, pop, slow rock, rap, dan musik daerah. Abiem berada di dalam arus perubahan itu.
Lagu Gadis Baliku memperlihatkan keberanian untuk mempertemukan dangdut dengan rap dan unsur etnik. Catatan mengenai perjalanan kariernya, boleh dikatakan lagu tersebut sebagai salah satu eksperimen penting Abiem sebelum album terakhirnya. Dan itulah model kecerdasan yang harus kita jaga dan tiru, yang bukan semata-mata meniru lagu Abiem, dan bukan pula menjadikan Abiem sebagai manusia tanpa kekurangan.
Yang patut kita tiru adalah keberanian untuk belajar dari zaman tanpa kehilangan akar. Itulah model kecerdasan anak bangsa Nusantara yang berpegang harus seimbang antara budaya tanah dan budaya air, antara mencampur-campur dan menjaga kemurnian dalam menjawab tantangan zaman dan membawa perubahan yang relevan.
Dan barangkali di situlah Abiem Ngesti menjadi lebih menarik daripada sekadar seorang penyanyi yang meninggal muda. Ia adalah contoh kecil tentang bagaimana sebuah karya dapat melampaui umur penciptanya. Ia pergi pada usia 16 tahun. Tetapi karya-karyanya terus beredar. Lagu-lagunya masih tersedia dalam katalog digital. Dahsyat, misalnya, masih dapat ditemukan di platform streaming, sementara video musik resminya di kanal Akurama Records telah ditonton jutaan kali di YouTube.
Angka-angka digital itu memang tidak otomatis membuktikan kedalaman cinta penggemar. Tetapi ia menunjukkan sesuatu yang penting bahwa teknologi baru telah memberi umur kedua kepada karya-karya lama. Kaset yang dahulu mudah rusak kini dapat dipindahkan ke bentuk digital. Lagu yang dulu hanya terdengar dari radio kini dapat ditemukan kembali dengan beberapa ketukan jari. Video yang dahulu hanya mungkin ditonton ketika televisi menayangkannya kini dapat diputar kapan saja.
Maka zaman digital, dalam paradoksnya, bukan hanya membuat manusia melupakan masa lalu. Ia juga menyediakan mesin yang luar biasa kuat untuk menghidupkan kembali masa lalu. Dan di antara mesin itu ada manusia-manusia yang menjadi penjaganya dan di sinilah makna komunitas ANFC menjadi menarik.
Komunitas penggemar bukan sekadar kumpulan orang yang sama-sama menyukai seorang penyanyi. Ia dapat menjadi semacam museum tanpa gedung. Tidak ada etalase kaca, tidak ada penjaga museum, tidak ada tiket masuk. Tetapi di dalam percakapan para anggotanya tersimpan foto, kaset, cerita, kenangan, tanggal, lagu, pengalaman, dan berbagai fragmen kehidupan, yang dalam kajian fandom mutakhir, bahwa kegiatan semacam itu tidak lagi dipandang semata sebagai perilaku penggemar yang berlebihan.
Kajian sosial tentang fandom menunjukkan bahwa fandom dapat menjadi ruang identitas, keterikatan, kreativitas, solidaritas, bahkan produksi kebudayaan. Kajian yang terbit pada 2026 mengenai komunitas penggemar di Indonesia menunjukkan bahwa keterikatan kepada idola dapat berkembang menjadi solidaritas antarpenggemar dan membentuk jaringan sosial yang nyata.
Maka jika ada orang yang masih bertanya, "Orangnya sudah meninggal, kok masih dicari-cari?" sesungguhnya mungkin belum memahami cara kerja ingatan manusia. Bahwa para penggemarnya tidak mencari orang mati untuk benar-benar bertemu dengannya. Tetapi kita mencari suara yang pernah membuat kita merasa hidup. Kita mencari wajah yang pernah menemani masa kanak-kanak. Kita mencari lagu yang pernah diputar ketika seseorang yang kita cintai masih hidup. Kita mencari sebuah masa yang sekarang sudah tidak mungkin kita datangi lagi. Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sebenarnya sedang mencari diri sendiri.
Sebab ketika seseorang mendengarkan kembali lagu dari masa kecilnya, yang terdengar bukan hanya suara penyanyi. Di antara nada dan lirik itu sering ada suara dalam suasana rumah, suara orang tua, suara teman sekolah, suara jalan kampung, suara televisi, suara hujan, suara sepeda motor yang lewat, atau suara kehidupan yang dahulu terasa biasa saja yang baru benar-benar berharga kemudian hari.
Baru setelah semuanya berlalu, kita sadar bahwa yang biasa itu ternyata sangat berharga. Sebab itulah Abiem Ngesti belum benar-benar pergi bukan karena ia masih hidup secara biologis. Ia telah meninggal dunia lebih dari tiga dekade lalu. Tetapi ia masih hidup sebagai teks budaya, sebagai suara, sebagai arsip, sebagai kenangan, sebagai bahan percakapan, sebagai objek penelitian, sebagai video yang ditonton ulang, sebagai lagu yang dinyanyikan orang lain, dan sebagai bagian dari biografi orang-orang yang pernah tumbuh bersamanya.
Di situlah kematian seorang seniman menjadi sesuatu yang ganjil. Tubuhnya berhenti. Tetapi karyanya dapat terus bergerak. Ia dapat berpindah dari kaset ke CD, dari CD ke MP3, dari MP3 ke YouTube, dari YouTube ke Spotify, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan selama masih ada seseorang yang mendengarkannya, seseorang yang menceritakannya, seseorang yang menyimpan fotonya, seseorang yang mengingat kapan pertama kali mendengar lagunya, atau seseorang yang memperkenalkan lagunya kepada anaknya, sesungguhnya karya itu belum selesai menjalani hidupnya.
Karena itu, mengenang Abiem Ngesti bukan hanya mengenang seorang penyanyi yang pergi terlalu cepat. Ini adalah usaha memahami bagaimana manusia mempertahankan sesuatu yang telah hilang seperti kita menyimpan foto karena wajah dapat hilang dari ingatan. Seperti kita menyimpan surat karena suara seseorang tidak mungkin dipanggil kembali.
Kita menyimpan lagu karena masa lalu tidak memiliki pintu untuk kita masuki lagi. Dan kita membangun komunitas karena ingatan yang dipikul bersama terasa lebih kuat daripada ingatan yang dipikul sendirian. Maka ANFC, dalam pengertian yang paling sederhana, mungkin hanyalah komunitas penggemar Abiem Ngesti. Tetapi dalam pengertian yang lebih dalam, ia adalah salah satu bentuk kecil dari kerja manusia melawan lupa.
Sebab mungkin yang paling menakutkan bukanlah kematian. Yang lebih menakutkan adalah dilupakan. Demikian Abiem Ngesti yang telah meninggal pada 19 Agustus 1995. Tetapi 31 tahun kemudian, namanya masih disebut, lagunya masih diputar, dan videonya masih ditonton, dan ceritanya masih ditulis, dan orang-orang masih berkumpul untuk membicarakannya.
Demikianlah orang yang punya keunggulan dan patut sebagai teladan. Seorang penyanyi yang meninggal pada usia 16 tahun itu ternyata masih memiliki kehidupan yang panjang di luar usia biologisnya. Ia masih hidup di dalam ingatan orang lain dan mungkin begitulah cara sebuah karya menolak mati. Bukan dengan melawan waktu, melainkan dengan menemukan manusia baru yang bersedia mendengarkannya.
Barangkali kita semua sebenarnya sedang melakukan hal yang sama atau ingin sama. Kita ingin meninggalkan sesuatu yang kelak masih dapat dipanggil ketika tubuh kita sudah tidak ada. Sebuah tulisan, sebuah lagu, sebuah kebaikan, sebuah kenangan, sebuah percakapan, atau sekadar satu kalimat yang pernah membuat seseorang merasa tidak sendirian.
Di tengah zaman yang bergerak begitu cepat, kemampuan untuk mengingat menjadi bentuk perlawanan yang sederhana. Sebab manusia bukan hanya makhluk yang ingin hidup. Manusia juga makhluk yang ingin dikenang sebagaimana di antara suara-suara masa lalu itu, sebagaimana suara Abiem Ngesti yang masih terdengar bukan sebagai manusia yang menolak kematian, melainkan sebagai karya yang belum selesai menemukan pendengarnya. (Sal)