Dunia seringkali terasa seperti panggung besar yang bising, di mana setiap dentum ledakan dan pergantian kekuasaan dianggap sebagai guncangan semesta. Namun, di balik narasi-narasi besar tentang peta geopolitik dan desing rudal presisi, ada sebuah garis tipis yang menghubungkan setiap manusia akan kerapuhan hidupnya sendiri. Kita bergerak di antara detik yang bernapas dan detik yang berhenti, dengan tanpa menyadari bahwa eksistensi kita hanyalah pengulangan dari peristiwa peluruhan dan kelahiran yang konstan.
Saya dua kali hampir mati ketika masih "bocil merah". Dua peristiwa itu terjadi begitu sunyi, begitu biasa, nyaris tanpa saksi sejarah—kecuali keluarga dan barangkali semesta yang sedang berbaik hati. Kini usia saya sudah melampaui angka 40+. Dan setiap kali mengingat fragmen masa kecil itu, saya semakin percaya pada sebuah paradoks bahwa mungkin benar, kematian tak perlu terlalu ditakuti karena ia adalah bagian dari irama yang kita terima setiap hari.
“Kematian bukanlah tragedi,” begitu kata Emha Ainun Nadjib yang kini biasa disapa Mbah Nun, dalam satu rekaman sajaknya. Kalimat itu terdengar getir di telinga yang memuja keabadian ragawi, tapi juga menenangkan bagi jiwa yang mencari nuansa makna. Ada nada kepasrahan di sana, sekaligus pemahaman mendalam bahwa hidup dan mati bukan dua kutub yang sepenuhnya terpisah, melainkan sebuah siklus yang saling menghidupi.
Bukankah setiap hari kita sebenarnya sedang mengalami "kematian-kematian kecil"?
Tubuh kita, menurut berbagai riset biologi modern, terus-menerus melakukan regenerasi seluler. Diperkirakan sekitar 50 hingga 70 miliar sel dalam tubuh manusia mati setiap hari melalui proses yang disebut apoptosis (kematian sel terprogram). Sel kulit berganti dalam hitungan minggu, sementara sel darah merah selesai bertugas dalam hitungan bulan. Wajah kita hari ini adalah wajah baru dibanding sepuluh tahun lalu—namun secara ajaib, kita tetap merasa menjadi “kita” yang sama. Ada satu organisme besar bernama “diri” yang menopang peluruhan dan kelahiran itu secara bersamaan, sampai suatu hari terjadi apa yang bisa disebut sebagai “kiamat semesta diri”—saat jantung berhenti memompa dan kesadaran pamit undur diri.
Namun, ketika kematian itu menjemput sosok-sosok yang memegang kendali atas jutaan nyawa lain, maknanya bergeser dari biologis menjadi politis. Beberapa hari terakhir dunia diguncang kabar mengenai wafatnya pemimpin tertinggi Iran. Sosok yang selama puluhan tahun menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi Barat itu diberitakan wafat dalam sebuah serangan gabungan Israel-AS yang presisi. Peristiwa ini segera mengundang spekulasi geopolitik yang liar, ketegangan kawasan, dan perdebatan panjang tentang etika kekuatan militer modern.
Dalam dua dekade terakhir, teknologi persenjataan memang telah berevolusi menjadi instrumen pencabut nyawa yang sangat efisien. Laporan dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mencatat tren global di mana perang modern kini semakin mengandalkan serangan presisi lewat drone bersenjata, rudal berpemandu, dan integrasi kecerdasan buatan dalam target acquisition. Teknologi ini menyisakan satu kesadaran pahit yang secara teknis, siapa pun bisa dibunuh jika tombol itu benar-benar ditekan oleh mereka yang memiliki kuasa atas satelit.
Dalam catur kekuasaan global, pertanyaan pentingnya bukan sekadar “bisa atau tidak bisa” yang bisa dihilangkan nyawanya dengan amat presisi, melainkan “untuk apa” dan “apa dampaknya”. Iran adalah penjaga gerbang Selat Hormuz, jalur nadi utama energi dunia. Merujuk pada data U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 hingga 30 persen dari total cairan minyak bumi yang diperdagangkan di laut melewati selat ini setiap hari. Maka, setiap guncangan di Teheran adalah guncangan bagi stabilitas ekonomi global di New York hingga Tokyo.
Sejak Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Syah Mohammad Reza Pahlavi, Iran memilih berjarak dari dekapan Barat. Di bawah kepemimpinan Ayatullah Ruhollah Khomeini, lahir sebuah sistem unik bernama Wilayat al-Faqih (Perwalian Ahli Fikih) dan sejak saat itu, hubungan Iran-AS terjebak dalam ketegangan permanen. Mulai sanksi ekonomi yang mencekik, embargo berkepanjangan, dan konflik proksi di berbagai lini. Amerika memandang kawasan Teluk sebagai kepentingan strategis nasionalnya, sementara Iran memandang kehadiran asing sebagai ancaman eksistensial bagi identitas Islam mereka.
Lalu, apakah kematian seorang pemimpin akan meruntuhkan tatanan tersebut? Sejarah cenderung menjawab: tidak semudah itu.
Dalam sistem politik yang sudah terlembagakan secara kuat, kematian satu orang bukan berarti akhir dari sebuah ideologi. Iran memiliki struktur suksesi yang rapi melalui Majlis-e Khobregan atau Majelis Para Ahli, sebuah lembaga yang bertugas memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi. Hal ini membuktikan bahwa sebuah bangsa yang besar tidak menggantungkan hidupnya pada satu napas individu, melainkan pada ketahanan institusi.
Khamenei sendiri dalam banyak kesempatan menekankan bahwa tubuh bisa dihancurkan oleh rudal, tetapi gagasan adalah entitas yang tak kasat mata yang tak mudah musnah. Identitas kebangsaan Iran yang berakar dari peradaban Persia kuno sejak era Kekaisaran Akhemeniyah hingga Republik Islam selalu menemukan cara untuk bertransformasi. Syiah, dalam hal ini, bukan sekadar mazhab teologis, melainkan jangkar politik dan kultural yang menyatukan mereka. Menyederhanakan Iran sebagai sekadar "entitas luar" dalam Islam jelas merupakan sebuah kekeliruan sejarah, mengingat Syiah telah menjadi bagian integral dari mozaik peradaban Islam selama lebih dari 1.300 tahun.
Setiap bangsa memang memiliki “amunisi kulturalnya” sendiri untuk bertahan hidup. Tiongkok berdiri kokoh dengan fondasi Konfusianisme yang diterjemahkan ke dalam tata kelola modern. Jepang tetap berpijak pada etos tradisi Shinto dan samurai meski mereka menguasai teknologi robotika. Sistem yang hidup akan selalu mengganti sel-sel individu yang gugur untuk memastikan organisme bangsa tetap bernapas.
Melihat gambaran besar dunia yang penuh intrik itu, saya kemudian kembali menatap diri sendiri di cermin. Refleksi tentang suksesi kekuasaan di Iran membawa ingatan saya kembali ke masa kecil yang penuh kerentanan, pada kejadian pertama terjadi di empang saat dulu di kampung.
Saat itu ibu saya baru saja memandikan saya. Entah karena kelelahan atau perhatiannya teralih sejenak untuk mencuci peralatan makan, tubuh kecil saya bergerak secara impulsif, sebagaimana bayi yang baru mengenal dunia, dan terpental ke kolam yang cukup dalam. Beruntung, Paman saya melihat saya sudah "ngap-ngapan" di antara riak air. Jika tidak ada tangan yang menarik saya hari itu, barangkali tulisan ini tak pernah ada.
Kejadian kedua terjadi di pesawahan Cipadung. Saat itu Ibu menaruh saya di hamparan galengan sawah saat beliau menyiangi benih padi. Di dekat sana, ada jurang kecil menuju selokan yang arusnya cukup dalam. Karena sejak "bocil" saya dikenal tak bisa diam, saya menggelinding jauh hingga akhirnya tercebur. Ibu menemukan saya sudah terkapar di selokan.
Bekas kecelakaan itu masih tersimpan rapi dalam anatomi saya: retaknya susunan tulang iga kiri yang hingga hari ini sesekali masih terasa nyeri, sebuah monumen kecil tentang betapa tipisnya jarak antara hidup dan tiada.
Saya membayangkan tubuh yang masih rapuh itu, tubuh saya merangkak menuju anasir-anasirnya, terjungkal, membentur batu-batu, lalu entah bagaimana, ia memilih untuk bertahan. Nyawa itu tetap tinggal.
Karena itu, ketika mendengar kabar kematian seorang pemimpin dunia atau gejolak di Timur Tengah, saya tak hanya melihatnya melalui lensa geopolitik yang dingin. Saya juga melihatnya sebagai pengingat betapa ajaibnya sebuah hidup bisa bertahan di tengah kepungan bahaya. Jika suatu hari organisme diri ini benar-benar berhenti, ya begitulah adanya. Kita semua datang dari "ketiadaan", dan akan kembali pada "ketiadaan" yang lain. Di antara dua titik kosong itu, saya bersyukur sempat merasakan cinta, sempat melihat senyum yang menenangkan, dan sempat menyadari bahwa hidup ini layak untuk diperjuangkan.
Bagi sebagian orang, pergi tanpa meninggalkan warisan atau keturunan mungkin dianggap sebagai tragedi. Namun bagi yang lain, itu hanyalah sebuah variasi nasib dalam skenario besar alam semesta. Tragedi hanyalah sebuah sudut pandang yang akan luruh ditelan waktu.
Seperti dua kejadian masa kecil saya yang kini hanya jadi cerita, atau seperti wafatnya seorang pemimpin besar yang posisinya akan segera terisi. Demikian sebuah sejarah yang terus berjalan tanpa pernah benar-benar menunggu siapa pun.
Maka, bagi saya yang masih diberi kesempatan bernapas di usia kepala empat atau lebih, setelah berkali-kali nyaris dijemput maut, baik karena kecelakaan kecil di masa lalu maupun ancaman besar di masa depan, bersyukurlah. Dunia mungkin belum selesai dengan kita, atau barangkali, kitalah yang belum tuntas memberikan makna bagi dunia.
Kematian bukanlah akhir yang mengerikan, kematian bukanlah tragedi. Hanya bagian dari ritme besar yang sejak awal sudah kita jalani sebagai sebuah tarian peluruhan dan kelahiran, tentang yang hilang dan yang akhirnya terbilang. Kematian bukanlah palu hakim yang menjatuhkan ngeri, bukan pula sebuah noktah duka. Tapi sebuah detak dalam ritme semesta, tarian abadi tempat luruh dan tumbuh berpagutan mesra.
Di sana, yang hilang tak benar-benar lenyap, melainkan mengekalkan diri dalam hitungan yang purna. Tiada ngeri dalam mati, tiada tragedi dalam henti. Tapi sebuah rima dalam puisi penciptaan, tarian jemari antara yang gugur dan yang luhur, sebuah perjalanan pulang untuk yang sempat hilang, agar kembali utuh dan terbilang.
Kematian bukanlah ujung yang mencekam, pun bukan sebuah tragedi yang memilukan. Hanyalah jeda dalam simfoni agung yang kita terima sejak mula, sebuah koreografi antara peluruhan yang sunyi dan kelahiran yang bersemi. Tentang segala yang raib dari pandangan, namun akhirnya genap terbilang dalam keabadian.
Bagi setiap jiwa yang telah lebih dahulu menyentuh cakrawala itu. Bagi mereka yang langkahnya telah mendahului kita menuju pulang. Kepada mereka, pengelana yang telah melintasi batas sunyi. Kepada setiap napas yang telah lebih dulu melarung diri ke muara terjauh. Kepada setiap jiwa yang telah lebih dahulu menyeberangi garis itu. Demikianlah untuk setiap yang telah lebih dahulu pergi, untuk setiap nyawa yang telah menyeberangi garis tak kasat mata, dan untuk mereka yang telah lebih dulu berangkat, semua kami kenang setiap jejaknya di palung ingatan. (Sal)