Kita kerap memusatkan pandangan ke satu titik yang bernama Jakarta, seolah dari sanalah seluruh denyut negeri ini bermula dan berakhir. Setiap perdebatan, setiap harapan, bahkan setiap kemarahan, sering berangkat dari kota itu.
Jakarta menjadi metafora kekuasaan, pusat keputusan, sekaligus panggung utama bagi hiruk-pikuk politik dan ekonomi. Namun, bila semua mata tertuju ke sana, lalu siapa yang sungguh-sungguh menjaga daerah? Siapa yang mendengarkan suara kampung yang pelan, yang tak selalu punya pengeras suara?
Ada keyakinan yang berulang-ulang diucapkan, kadang tanpa sungguh dipikirkan: bila Jakarta baik-baik saja, maka daerah akan ikut sejahtera dan sentosa. Seolah kesejahteraan adalah air yang mengalir lurus dari pusat ke pinggiran. Padahal sejarah dan kenyataan kerap berkata lain. Air sering kali berhenti di tengah jalan, terserap oleh tanah yang sama, berputar di kolam yang itu-itu saja.
Barangkali kita perlu menengok kembali cara para pendahulu memandang Indonesia. Hatta dan Tan Malaka, misalnya, pernah hidup jauh dari tanah air, di negeri orang, di tengah dingin Eropa dan hiruk-pikuk pemikiran Barat. Namun jarak tak membuat Indonesia mengecil di benak mereka. Justru dari kejauhan itu, Indonesia hadir sebagai ide yang besar.
Memandang dan mengimpikan Indonesia bukan hanya sebagai pusat kekuasaan, melainkan sebagai keseluruhan: dengan pulau-pulaunya yang berjauhan, kampung-kampungnya yang sederhana, manusia-manusianya yang bekerja dan meronta dalam diam.
Hatta memikirkan koperasi dan ekonomi rakyat, Tan Malaka merumuskan kemerdekaan dalam bahasa revolusi. Keduanya berbeda jalan, berbeda nada, tetapi satu hal sama: hati dan pikiran mereka terpaut pada “Indonesia Jaya” yang tak berhenti di satu kota. Indonesia bagi mereka bukan alamat administratif, melainkan ruang pengabdian yang luas dan majemuk.
Kini, banyak dari kita hidup di perantauan. Ada yang merantau ke Jakarta, ada yang melampaui batas negara. Kita bekerja, belajar, dan beradaptasi di tempat yang jauh dari tanah kelahiran. Tubuh kita mungkin berpindah, tetapi pertanyaannya: ke mana hati kita berlabuh? Apakah kampung halaman hanya menjadi kenangan yang disimpan rapi, atau masih menjadi panggilan yang pelan namun setia?
Kampung muasal sesungguhnya bukan sekadar titik awal, melainkan sumber yang tak habis-habis. Ia seperti sumur tua di halaman rumah: mungkin tak selalu tampak megah, tetapi airnya terus ada. Dari sanalah kita belajar tentang kesederhanaan, tentang keterbatasan, juga tentang makna pulang. Kampung memberi kita bahasa pertama, rasa pertama, dan mungkin luka pertama: semuanya membentuk cara kita memandang dunia.
Dari sumur itulah seharusnya inspirasi ditimba. Bukan nostalgia yang beku, melainkan kesadaran bahwa pengabdian tak harus selalu dilakukan dari pusat kekuasaan. Ada banyak cara mencintai Indonesia: dengan membangun sekolah kecil, dengan menulis tentang pinggiran, dengan menjaga ingatan agar daerah tak sekadar menjadi catatan kaki dalam narasi besar bernama pembangunan.
Indonesia, pada akhirnya, adalah himpunan dari banyak suara yang tak selalu lantang. Ia hidup di jalan-jalan kecil, di ladang, di pelabuhan, di pulau-pulau yang jarang disebut. Jakarta memang penting, tetapi ia bukan segalanya.
Bila kita terus mengingat itu dalam pikiran, dalam kebijakan, dan dalam laku sehari-hari, barangkali Indonesia akan terasa lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih dekat dengan cita-cita yang dulu diperjuangkan dari kejauhan oleh para pejuang untuk tanah tumpah darahnya.