Ada alasan mengapa kita berada di sini—meski sering kali kita sendiri ragu untuk sepenuhnya mempercayainya. Dalam kebingungan itu, manusia kerap bertanya, menimbang, lalu mencoba menyimpulkan makna keberadaannya. Sebuah pengakuan Lewis Hamilton barangkali mewakili kegelisahan itu: “Saya datang bukan dari mana-mana. Saya pikir ada sebuah alasan mengapa saya berada di sini.”
Kalimat tersebut terpampang di sampul sebuah majalah, dengan wajah Lewis Hamilton sebagai latarnya. Ia bukan sekadar figur publik, melainkan pembalap Formula 1 papan atas—simbol kerja keras, disiplin, dan pencapaian global. Karena itu, ungkapan sederhana itu segera mengundang kekaguman banyak orang.
Di media sosial, respons publik pun singkat namun emosional: jleb. Seolah satu kalimat itu mampu merangkum perjalanan hidup yang panjang—penuh jatuh bangun, luka, dan ketidakadilan yang kerap tak terucap. Namun lebih dari sekadar refleksi personal, kalimat itu menjelma undangan sunyi: ajakan untuk menengok kembali diri kita sendiri, dan bertanya dengan jujur, mengapa kita ada di sini.
Daya tarik pernyataan tersebut tidak terletak pada siapa yang mengucapkannya, melainkan pada gagasan yang dikandungnya: keyakinan bahwa keberadaan manusia di suatu titik kehidupan bukanlah kebetulan semata. Bahwa ada alasan, entah rasional, spiritual, atau historis yang mengantar seseorang berada di posisinya hari ini.
Dalam konteks masyarakat beragama, terutama umat Islam, gagasan ini kerap berkelindan dengan konsep takdir. Segala sesuatu diyakini terjadi atas izin Tuhan. Hidup seakan telah ditulis: kertas telah habis, tinta telah mengering. Cara pandang ini memberi ketenangan batin, tetapi sekaligus memunculkan problem serius ketika diterjemahkan secara simplistis dalam kehidupan sosial.
Pertanyaannya: apakah keyakinan pada “alasan ilahiah” di balik setiap peristiwa justru melahirkan sikap fatalistik? Apakah penerimaan tanpa kritik terhadap keadaan, seperti kemiskinan, ketertinggalan, ketidakadilan, ikut menyuburkan stagnasi sosial dan intelektual?
Pertanyaan ini relevan, terutama ketika kita melihat kenyataan bahwa sebagian masyarakat masih memaknai takdir sebagai alasan untuk berhenti berikhtiar. Padahal, dalam tradisi Islam sendiri, takdir tidak pernah dimaksudkan untuk mematikan usaha, melainkan untuk memberi kerangka etis dan spiritual dalam menjalani usaha itu. Takdir seharusnya menjadi sumber tanggung jawab, bukan pembenaran atas kepasrahan pasif.
Di titik inilah dimensi kemanusiaan, yang sering kita sebut cinta, menjadi penting. Jalaluddin Rumi menyebut cinta sebagai ciptaan pertama Tuhan. Sementara tradisi lain menyebut pena sebagai awal penciptaan, simbol pengetahuan dan ketetapan. Keduanya kerap dipertentangkan, padahal sesungguhnya saling melengkapi: pena menulis hukum semesta, cinta menggerakkan manusia untuk menghidupinya.
Cinta, dalam pengertian ini, bukan sekadar relasi romantik, melainkan energi moral yang mendorong manusia untuk bertumbuh, bertanggung jawab, dan peduli. Ia hadir paling awal dalam relasi manusia dengan ibunya, adalah sebuah pengalaman universal yang melampaui batas budaya dan agama. Dari sanalah manusia belajar tentang pengorbanan, ketekunan, dan harapan.
Namun masyarakat modern sering menyederhanakan cinta menjadi tuntutan-tuntutan sosial yang pragmatis: kapan menikah, kapan mapan, kapan “menjadi”. Tekanan ini kerap mengabaikan kenyataan bahwa setiap individu memiliki sejarah batin dan sosial yang berbeda. Tidak semua perjalanan bisa diseragamkan, apalagi dihakimi dari luar.
Di sinilah esensi pernyataan Lewis Hamilton kembali menemukan relevansinya. Bahwa setiap orang berada di tempatnya masing-masing karena alasan yang tidak selalu kasat mata. Alasan itu bukan untuk membenarkan kemalasan atau ketidakadilan, tetapi untuk mengingatkan bahwa hidup adalah proses, bukan sekadar hasil.
Tulisan ini tak hendak menutup perdebatan tentang takdir, cinta, atau tanggung jawab manusia. Justru sebaliknya, ia mengajak pembaca untuk lebih berhati-hati dalam menilai hidup orang lain, dan lebih jujur dalam membaca hidup sendiri. Sebab, mungkin benar: kita tidak datang dari mana-mana. Tetapi kita berada di sini, dan itu menuntut kesadaran, usaha, serta keberanian untuk terus bergerak.
Pada akhirnya, meyakini bahwa ada alasan di balik setiap kehadiran manusia tidak boleh berhenti sebagai penghiburan spiritual semata. Keyakinan itu justru harus menjadi dasar kesadaran etis: bahwa setiap posisi hidup membawa tanggung jawab sosial dan moral. Takdir bukan alasan untuk berhenti bertanya, apalagi berhenti bergerak.
Kita boleh percaya bahwa hidup telah ditulis, tetapi manusia diberi akal dan nurani untuk membaca, menafsirkan, dan mengoreksi jalannya sejarah. Di sanalah cinta menemukan bentuk paling nyatanya. Bukan sebagai romantisme kosong, melainkan sebagai keberpihakan pada kehidupan yang lebih adil, lebih manusiawi.
Maka, ketika seseorang berkata, “Saya berada di sini karena suatu alasan,” kalimat itu seharusnya tidak hanya mengundang kekaguman, tetapi juga menggugah pertanyaan: alasan apa yang sedang kita perjuangkan, dan tanggung jawab apa yang menyertai keberadaan kita hari ini? (Sal)