Untuk menjelaskan satu gambar saja, seringkali dibutuhkan berlembar-lembar catatan. Apalagi bila yang hendak dijelaskan adalah agama, sebagai sebuah sistem keyakinan yang dipenuhi lapisan sejarah, dogma, tafsir, dan pengalaman personal manusia.
Tulisan ini bukan hendak menyimpulkan, melainkan sekadar pengantar: sebuah upaya menertibkan apa yang berjejal di kepala agar tidak tercerai-berai menjadi prasangka atau kemarahan.
Sebab, bila tidak segera ditata, badai dogma mudah menerjang. Ia bisa menyeret seseorang ke pusaran ideologi, baik ideologi turunan agama maupun sains, yang sama-sama memiliki kuku tajam reduksionisme. Keduanya kerap mengklaim diri sebagai pemegang kebenaran terakhir, sambil menyingkirkan kompleksitas pengalaman manusia.
Saya sendiri masih menyusun peta konsep untuk diri saya sendiri. Peta itu mungkin tak cocok bagi orang lain. Dan itu tak masalah. Karena setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Seperti pepatah: banyak jalan menuju Jakarta, bisa lewat Cipanas, Sukabumi, atau Purwakarta. Jalanmu adalah jalanmu, jalanku adalah jalanku.
Dalam tradisi sufistik dikenal ungkapan man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya. Ada “nabi” dalam diri: kesadaran batin yang menuntun manusia membaca dirinya sendiri.
Manusia berdaulat menentukan arah hidupnya, menyusun peta dari jejak acak memori, warisan moyang di DNA, hingga jejak semesta di atom-atom yang membentuk keberadaannya. Tentu saja, semua itu hadir dalam gradasi dan batas-batas tertentu.
Sejarah mencatat, setiap klaim yang melampaui batas kerap berujung tragedi. Mereka yang mengaku nabi, seperti Musailamah atau Mirza Ghulam Ahmad, atau yang dituduh mengaku Tuhan seperti Al-Hallaj, mengalami persekusi mengerikan. Dari situlah lahir pembakuan dan pembatasan yang semakin kaku, melahirkan kebenaran monolitik. Pesannya sederhana dan menakutkan: jika tidak seperti ini, neraka menunggumu.
Keguncangan iman saya bermula ketika mencoba mengomparasikan “riwayat manusia” dan “riwayat alam semesta”. Termasuk di dalamnya riwayat agama. Membandingkan atau mengkomparasikan antara narasi agama arus utama dan narasi sains, seperti ada jurang yang tak selalu mudah dijembatani.
Dulu saya meyakini bahwa segalanya adalah agama—agama dalam terminologi mainstream yang cenderung dogmatis. Agama yang diyakini telah ditetapkan sejak Adam sebagai nabi pertama, dengan rentang sejarah yang jelas hingga Muhammad.
Namun riset genetika menunjukkan bahwa riwayat manusia membentang jauh lebih lama dari narasi tersebut. Sains bahkan menyebut agama sebagai produk sosial yang menguat pada era Revolusi Pertanian, sementara banyak doktrin yang kini diperdebatkan antar sekte, mazhab, dan manhaj, merupakan hasil kodifikasi abad pertengahan.
Masalahnya, kita hari ini hidup di era yang sama sekali berbeda: revolusi infoteknologi dan bioteknologi. Dalam upaya bertahan hidup, sebagai individu, keluarga, suku, bangsa, bahkan komunitas iman, manusia pasti beradaptasi. Perubahan adalah keniscayaan. Manusia akan terus berimprovisasi demi menemukan solusi.
Memang, agama juga mengajarkan penggunaan akal. Namun di titik tertentu, akal tidak lagi menjadi penentu benar dan salah, melainkan sekadar alat pembenar dogma. Bahkan lagi agama lalu direduksi menjadi identitas, bendera sosial dan politik, dan bukan lagi sebagai rahmat, petunjuk jalan cinta, atau ruang dialog batin.
Di sinilah keganjilan itu terasa. Agama didewakan, bahkan “dituhankan”. Ia tampil imperial dan ekspansif atas nama misi dan dakwah, sambil sibuk menghukum yang berbeda sebagai bidat atau sesat. Ironisnya, semua dilakukan dengan keyakinan bahwa agama adalah solusi atas seluruh persoalan manusia.
Padahal, dalam praktiknya, klaim itu sering tak lebih dari jargon. Ia terdengar seperti janji kampanye politik: lantang, penuh keyakinan, namun miskin refleksi. Agama, yang semestinya membebaskan dan memanusiakan, justru terancam menjadi alat legitimasi kekuasaan dan penghakiman.
Di titik inilah agama berada di ujung tanduk: antara tetap menjadi jalan sunyi pencarian makna, atau berubah menjadi simbol yang diperebutkan, diteriakkan, dan dipaksakan. Pilihannya mungkin seperti jalan menuju Jakarta—selalu kembali pada masing-masing kita. (Sal)