Ada momen dalam sejarah intelektual ketika kabar tertentu terasa seperti plot twist yang terlalu ekstrem untuk dipercaya. Bagi banyak pengikut Noam Chomsky—seorang linguis legendaris, kritikus tajam imperialisme, dan figur yang selama puluhan tahun dianggap sebagai kompas moral dalam politik global—pengungkapan hubungan sosialnya dengan Jeffrey Epstein adalah salah satu momen tersebut. Kabar ini tidak datang sebagai sekadar trivia, melainkan sebagai hantaman yang mengguncang fondasi kepercayaan banyak orang.
Ini bukan sekadar kejutan yang lewat begitu saja, tetapi sebuah rasa kehilangan arah moral yang mendalam. Bagaimana mungkin seorang pemikir yang menghabiskan hidupnya membongkar kebusukan kekuasaan, justru berada dalam lingkaran sosial seorang predator seksual?
Reaksi emosional ini tercermin dengan sangat getir dalam pernyataan Vijay Prashad, jurnalis dan akademisi yang telah lama bekerja sama dengan Chomsky, bahkan menulis dua buku bersamanya. Prashad mengaku "patah hati" dan terguncang hebat ketika membaca deretan email serta dokumen yang menunjukkan kedekatan Chomsky dengan Epstein, seorang finansier yang dihukum karena kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur. Bagi Prashad, persoalan ini bukan sekadar kontroversi politik yang bisa diperdebatkan di ruang kuliah atau debat intelektual yang dingin. Ini menyentuh trauma personal dan prinsip moral yang tidak dapat dinegosiasikan.
Dalam sebuah pengakuan yang menyayat hati, Prashad mengungkap bahwa ia adalah penyintas kekerasan seksual pada masa kecil. Pengalaman traumatis tersebut membentuk posisi etisnya yang sangat tegas: tidak ada ruang toleransi, sekecil apa pun, terhadap siapa pun yang menyakiti anak-anak. Pengakuan ini menjadi krusial karena menjelaskan mengapa reaksinya terhadap hubungan Chomsky–Epstein bukan sekadar kritik akademik yang objektif, melainkan sebuah respons moral yang lahir dari luka lama yang mendalam.
Ia menulis bahwa membaca tentang kasus Epstein selalu terasa menyakitkan, namun keterlibatan seorang mentor yang sangat dihormatinya menjadikan rasa sakit itu berlipat ganda. Di sinilah konflik emosional yang menyiksa muncul: bagaimana kita harus menilai karya raksasa dari seorang intelektual besar ketika fakta baru menunjukkan pilihan relasi yang begitu sulit diterima secara moral?
Kontroversi ini mencuat kembali setelah gelombang dokumen baru terkait Epstein dirilis oleh otoritas Amerika Serikat. Berbagai korespondensi email menunjukkan bahwa Chomsky menjalin komunikasi rutin dengan Epstein selama bertahun-tahun, bahkan—dan ini yang paling mengejutkan—setelah Epstein menjalani hukuman penjara pada tahun 2008 atas kasus prostitusi anak.
Dalam salah satu pertukaran email pada tahun 2019, Chomsky dilaporkan memberi saran kepada Epstein agar mengabaikan sorotan media terkait tuduhan-tuduhan yang kembali mengarah kepadanya. Chomsky menilai reaksi publik saat itu sebagai bentuk "serangan" yang hanya akan membesar jika ditanggapi secara terbuka. Dokumen lain bahkan mengungkap bahwa Epstein memperkenalkan Chomsky kepada tokoh politik dunia seperti mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, memperlihatkan sebuah jaringan sosial yang jauh lebih luas dan intim daripada sekadar pertemuan akademik biasa.
Namun, penting untuk dicatat secara adil: kemunculan nama seseorang dalam dokumen Epstein tidak secara otomatis menunjukkan keterlibatan dalam tindakan kriminal. Banyak figur publik, dari ilmuwan hingga politisi, diketahui pernah berinteraksi dengannya dalam konteks sosial, finansial, atau akademik. Tetapi justru di celah etika inilah perdebatan moral yang sesungguhnya muncul.
Chomsky sebelumnya pernah membela diri dengan menyatakan bahwa setelah Epstein menjalani hukuman, secara hukum ia dianggap "kembali bersih" sesuai dengan norma sosial di Amerika. Argumen legalistik ini justru menjadi titik api kontroversi yang baru. Secara hukum, seseorang memang dapat kembali ke masyarakat setelah menebus dosanya di penjara. Tetapi dalam diskursus moral, apakah batasannya sesederhana itu? Apakah seorang intelektual yang mengajarkan kita tentang "tanggung jawab intelektual" boleh menggunakan legalitas sebagai tameng untuk mengabaikan rekam jejak predator seksual?
Bagi Prashad, jawabannya jelas: tidak. Ia menilai tidak ada konteks yang cukup kuat untuk membenarkan kedekatan seorang intelektual besar dengan seorang pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Dalam tulisannya, Prashad melempar pertanyaan retoris yang menggugat: mengapa seorang pemikir yang dikenal sangat kritis terhadap elite kekuasaan justru merasa nyaman menjalin hubungan dengan figur yang mewakili puncak dari eksploitasi dan elite finansial ekstrem? Pertanyaan tersebut mengguncang banyak pengikut dan pemerhati Chomsky, terutama dari spektrum kiri politik yang selama ini melihatnya sebagai simbol konsistensi etika yang tak tergoyahkan.
Krisis Figur Moral di Era Digital
Reaksi publik yang masif terhadap bocornya email-email tersebut menunjukkan fenomena yang lebih besar: runtuhnya figur moral di era transparansi digital. Banyak pengamat melihat bahwa internet telah menghapus jarak antara reputasi publik yang dipoles dan realitas pribadi yang tersembunyi. Sosok yang sebelumnya dipandang hampir tanpa cela kini dihadapkan pada arsip digital yang kejam dan tak bisa dihapus.
Bagi sebagian orang, kontroversi ini menghidupkan kembali dilema klasik yang tak pernah tuntas: apakah karya intelektual bisa dipisahkan dari pilihan personal sang penulis? Dapatkah kita tetap membaca Manufacturing Consent dengan takzim sembari mengetahui penulisnya bersantap malam dengan Epstein?
Pertanyaan ini akhirnya bukan hanya tentang Chomsky. Ia telah menjadi simbol dari krisis yang lebih luas mengenai bagaimana kita memperlakukan tokoh publik ketika realitas moral mereka tampak jauh lebih kompleks, dan terkadang lebih gelap daripada citra ideal yang kita bangun sendiri di dalam kepala kita.
Barangkali kejutan terbesar dalam drama ini bukanlah fakta hubungan itu sendiri, melainkan ledakan emosional yang mengikutinya. Banyak orang merasa seolah-olah mereka kehilangan figur panutan atau kompas batin. Rasa kecewa ini muncul bukan karena Chomsky adalah manusia biasa yang bisa salah, karena kita semua tahu dia manusia, melainkan karena selama puluhan tahun, ia telah kita posisikan sebagai standar moral tertinggi yang kita miliki.
Menanggalkan Absolutisme
Mungkin di sinilah letak pelajaran terbesar yang bisa kita petik. Sejarah intelektual berkali-kali menunjukkan bahwa gagasan besar tidak selalu lahir dari rahim manusia yang sempurna. Kita sering kali terjebak dalam kecenderungan untuk menciptakan mitos tentang figur publik, mengidolakan mereka hingga ke taraf sakral, lalu merasa dikhianati secara personal ketika mitos itu runtuh oleh realitas kemanusiaan mereka yang cacat.
Kontroversi Chomsky-Epstein ini mengingatkan kita dengan keras bahwa kritik terhadap kekuasaan tidak otomatis menjadikan seseorang kebal dari kritik moral. Bahkan seorang pemikir yang paling jernih sekalipun dapat membuat keputusan yang sulit dipahami, kontradiktif, atau bahkan mustahil untuk dipertahankan secara etis.
Di tengah riuh rendah dokumen dan kekecewaan ini, pertanyaan yang paling jujur bukan lagi "Siapa lagi yang bisa kita percayai?", melainkan “Apakah kita sudah cukup dewasa untuk menerima bahwa kepercayaan pada tokoh publik seharusnya tidak pernah bersifat absolut?”
Mungkin tugas kita bukan untuk menemukan seorang tokoh yang tak pernah salah, melainkan untuk tetap memegang teguh nilai-nilai kebenaran itu sendiri, bahkan ketika mereka yang mengajarkannya kepada kita ternyata gagal melakukannya dalam kehidupan nyata. (Sal)