"Sebuah persembahan untuk para pahlawan." Kalimat itu kerap terdengar khidmat, tetapi segera menjadi datar ketika diulang tanpa pertanyaan. Sejarah, seperti kata-kata besar lainnya, tidak pernah betah dan kadang membawa jengah jika diperlakukan semata slogan.
Begitulah yang terjadi sebagai penghormatan kepada para pahlawan. Pada mereka yang tidak lahir dari keseragaman. Pada ia yang dikenal dan tak dikenal. Pada ia yang menang, lalu dibuang. Pada ia yang dielu-elukan, kemudian dilupakan. Namun di situlah, dan begitulah sejarah bekerja: memilih siapa yang disimpan, dan siapa yang dibiarkan mengendap di pinggir ingatan.
Kita terbiasa mengenang pahlawan lewat potret dan gelar. Nama-nama dipahat, wajah-wajah dibingkai. Namun ingatan semacam itu sering kali rapi. Bahkan terlalu rapi untuk sebuah perjuangan. Padahal kemerdekaan tidak tumbuh dari kepastian, melainkan dari keraguan yang dipertaruhkan.
Sering orang mengucap, “Merdeka,” sebagai kaya yang pernah menjadi jeritan, bukan hiasan pidato kenegaraan. Seperti bebas menuntut pada keberaniannya, untuk berpikir dan menanggung akibatnya.
Lalu ketika kata itu kehilangan ketegangannya, barangkali yang pudar bukan sejarah, melainkan cara kita membacanya. Pun saya berkata, kenali pahlawan dalam dirimu. Kalimat itu memang mudah diucapkan. Namun sejarah selalu meminta lebih dari sekadar ucapan.
Bahkan pula, kita hidup di negeri yang rajin memberi gelar, tetapi kerap lupa mendengar. Sejarah diajarkan sebagai deretan potret dan tanggal, bukan sebagai pergulatan pikiran. Padahal kemerdekaan lahir bukan hanya dari bedil dan barikade, melainkan dari kalimat-kalimat yang berisiko, dari pikiran-pikiran yang menolak tunduk.
Merdeka! Kata itu pernah menjadi teriakan yang menggetarkan. Namun perlahan pengucapannya menjelma ritual. Ia diulang, diperingati, bahkan dirayakan, dan berangsur kehilangan ketegangannya. Kita menyimpannya sebagai simbol, bukan sebagai pertanyaan.
Kita mesti tahu siapa Kusno, Kartosuwiryo, Tan Malaka, Soedirman, dan Tjokroaminoto, dan bahkan Muso dan Aidit. Tapi bukan untuk menambah hafalan, melainkan untuk memahami bahwa republik ini dibangun oleh perbedaan jalan dan perbedaan keyakinan.
Kusno, yang kemudian disebut Soekarno, bukan sekadar wajah yang akrab di dinding kelas. Ia adalah simpul dari berbagai arus: nasionalisme, marxisme, Islam, dan retorika modern. Ia belajar bahwa kemerdekaan bukan kemurnian, melainkan perundingan terus-menerus dengan kenyataan.
Soedirman, yang kita kenang sebagai jenderal yang sakit namun tetap bergerilya, sering dipersempit menjadi legenda keteguhan. Padahal di balik itu ada pilihan moral: tetap bergerak ketika negara bahkan belum sepenuhnya hadir. Ia menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu bersumber dari negara. Kadang ia lahir dari kesetiaan pada sesuatu yang belum selesai.
Dan sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang menang. Ada nama-nama yang dibiarkan berada di pinggir—atau sengaja didorong ke sana. Datuk Tan Malaka misalnya, adalah salah satunya. Ia berpindah dari satu pengasingan ke pengasingan lain, dari satu kecurigaan ke kecurigaan berikutnya.
Pikirannya terlalu keras, terlalu lurus, terlalu berbahaya bagi kompromi. Gagasannya seperti lahar: panas, mengalir, dan sulit dibekukan. Sebab ia percaya kemerdekaan harus disertai kesadaran, dan kesadaran tidak bisa diwariskan lewat upacara.
Dan HOS Tjokroaminoto, guru banyak tokoh yang kelak saling berseberangan, menunjukkan hal lain: bahwa satu pikiran bisa melahirkan banyak jalan. Dari rumahnya tumbuh perdebatan: tentang Islam, keadilan, sosialisme, dan kebangsaan. Ia tidak memaksakan keseragaman. Ia membiarkan murid-muridnya berbeda, bahkan bertentangan. Seteru satu guru antara Muso, Kartosuwiryo, dan Soekarno.
Saudara tidak hanya tahu wajah Soekarno dan Jenderal Soedirman yang dipampang di buku pelajaran, tapi juga tahu kedalaman pikiran Datuk Tan Malaka dan HOS Tjokroaminoto yang bagaikan lahar memantik api kebebasan. Di sanalah sejarah berhenti menjadi monumen, dan mulai menjadi kegelisahan.
Mungkin masalah kita hari ini bukan kekurangan pahlawan, melainkan keengganan untuk membaca mereka secara utuh. Kita menyukai cerita yang rapi: ada baik, ada jahat, ada menang, ada kalah. Padahal sejarah selalu lebih kusut. Ia dipenuhi orang-orang yang ragu, yang salah, yang bertengkar, tapi tetap berjalan.
Maka mengenali pahlawan bukan soal mengagungkan masa lalu. Ia adalah upaya bertanya pada diri sendiri: di mana kita berdiri ketika kekuasaan meminta kepatuhan? Apa yang kita pertahankan ketika ingatan ingin disederhanakan?
Barangkali pahlawan, pada akhirnya, bukan mereka yang selalu dikenang, melainkan mereka yang berani berpikir dan bertindak, meski tahu risikonya: dilupakan.
Mungkin di situlah tugas kita hari ini—menjaga agar ingatan tidak tenang, menjaga agar ingatan tetap gelisah, supaya kemerdekaan tak berubah menjadi kata yang jinak dan patuh. (Sal)