Gelombang budaya populer Asia terus berevolusi. Jika beberapa dekade lalu drama Taiwan menjadi tontonan utama di Indonesia, dan belakangan drama Korea atau K-Drama menguasai layar ponsel dan televisi, kini muncul fenomena baru: short film China atau “Dracin”, sebuah gelombang micro-drama yang tengah menyihir jutaan penonton digital di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Budaya K-Pop sebelumnya, kerap disebut-sebut sebagai salah satu produk hiburan Korea paling sukses, namun dampaknya tak terlepas dari narasi visual yang dibangun lewat drama televisi. Serial seperti Boys Before Flowers sempat menjadi ikon pop modern yang digemari remaja Indonesia, karena mengangkat cerita romantis dengan karakter–karakter karismatik yang mudah melekat di benak penonton. Kisahnya pun sering dibandingkan dengan Meteor Garden, serial drama Taiwan awal 2000-an yang pada zamannya juga meraih popularitas luar biasa karena karakter empat pria tampan yang menjadi magnet emosional generasi muda Indonesia.
Kisah kedua drama itu mencerminkan pola naratif Asia yang kuat memadukan romansa, kelas sosial, dan konflik pribadi. Meski berasal dari konteks negara yang berbeda, Meteor Garden dan Boys Before Flowers telah membentuk dua generasi penonton berbeda: generasi awal yang tumbuh bersama drama Taiwan dan generasi yang lebih muda yang dibesarkan oleh narasi Korea. Itu adalah cerminan bagaimana industri hiburan beradaptasi dengan konteks produksi, saluran distribusi, serta media sosial yang berkembang pesat.
Dalam konteks ini, fenomena Dracin muncul sebagai fase berikutnya dalam evolusi konsumsi hiburan digital. Dracin adalah istilah populer yang merujuk pada micro-drama asal Tiongkok yang disajikan dalam format video berdurasi sangat pendek, umumnya sekitar 1 hingga 8 menit per episode, yang tersebar melalui platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan layanan streaming pendek lainnya.
Berbeda dengan serial televisi tradisional berdurasi puluhan menit, Dracin dirancang untuk konsumsi cepat: membangun konflik emosional, menyuguhkan plot twist dramatis, dan berakhir pada cliffhanger yang memancing penonton untuk terus menonton episode berikutnya. Format ini cocok dengan kebiasaan menonton melalui ponsel dan media sosial, di mana narasi yang padat dan intens lebih mudah diterima oleh pengguna yang terus bergerak di antara berbagai distraksi digital.
Popularitas fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Pasar short drama China telah berkembang menjadi industri besar dengan nilai miliaran dolar, dan diproyeksikan terus tumbuh dalam beberapa tahun mendatang. Format ini bahkan mendorong perubahan besar dalam pola konsumsi hiburan, terutama di kalangan generasi muda yang cenderung mencari kepuasan instan dan pengalaman emosional yang kuat dalam waktu singkat.
Di Indonesia sendiri, Dracin telah berkembang menjadi fenomena budaya yang luas. Serial-serial micro drama ini banyak dibicarakan di beranda media sosial, menarik perhatian di berbagai kalangan, dari remaja hingga orang dewasa, dan menjadi bagian dari rutinitas konsumsi digital harian. Beberapa judul Dracin bahkan mencatat jumlah penayangan sangat tinggi dan menjadi “dracin paling laris” sepanjang 2025, seperti Summer Rose yang menonjol karena kisah romansa dan pengembangan karakter yang emosional.
Fenomena ini juga merambah ke sisi industri lokal: produser dan penyedia layanan hiburan Indonesia mulai bereksperimen dengan format micro-drama, bahkan meluncurkan karya kolaboratif dengan aktor lokal untuk merespons permintaan pasar yang terus tumbuh. Contohnya, beberapa judul sinema vertikal Indonesia yang dibintangi aktor populer dirilis untuk menjangkau audiens yang sudah akrab dengan format Dracin.
Relevan dengan pola naratif melodrama Asia yang pernah saya saksikan dalam drama Taiwan dan Korea, Dracin pun sering mengangkat tema-tema emosional yang kuat: kisah cinta yang rumit, konflik keluarga, perbedaan kelas sosial, atau perjuangan individu menghadapi tekanan sosial. Meski disajikan dalam durasi singkat, narasi Dracin tetap memicu resonansi emosional yang mendalam dan membuat penonton terikat pada karakter dan alur cerita.
Ketertarikan besar penonton terhadap drama pendek ini menunjukkan pergeseran cara masyarakat menikmati cerita di era digital. Dari menonton serial panjang pada satu waktu tertentu, menuju konsumsi cerita yang terfragmentasi tetapi intens di sela-sela aktivitas sehari-hari. Dalam konteks ini, Dracin bukan hanya sebuah fenomena hiburan. Tapi ia mencerminkan perubahan budaya visual dan konsumsi media di era digital yang terus berkembang.
Sebagaimana dramatisasi hubungan ekonomi dan kelas sosial yang terus berulang dalam drama Taiwan dan Korea, Dracin memperlihatkan bagaimana narasi sederhana bisa mengikat emosional penonton hanya dalam hitungan detik. Alih-alih bergantung pada produksi megah atau durasi panjang, kekuatan Dracin terletak pada kemampuan menciptakan resonansi emosional yang cepat, relevan, dan terus menarik penonton kembali ke layar mereka.
Cerita-cerita yang penonton konsumsi, apakah itu melodrama Taiwan, drama Korea, atau Dracin dari Tiongkok, selalu merefleksikan kondisi sosial, selera generasi, dan teknologi yang melingkupinya. Mereka adalah cermin zaman yang terus bergerak, berubah, dan menemukan bentuk-bentuk baru untuk menceritakan apa yang sesungguhnya dirasakan manusia dalam kehidupan sehari-hari: cinta, harapan, konflik, serta kerinduan akan makna yang lebih dalam. (Sal)