Sejarah sering kita bayangkan sebagai deretan peristiwa besar seperti perang, deklarasi, revolusi, dan pidato yang mengubah arah dunia. Namun sejarah berubah atau diubah justru melalui tentang langkah-langkah pelan, melalui kunjungan sunyi ke sebuah makam, melalui diam yang sarat makna, atau melalui gestur kecil yang luput dari sorotan kamera resmi dan buku pelajaran.
Salah satu momen semacam itu adalah ketika Ernesto “Che” Guevara, tokoh revolusi Kuba yang wajahnya menjelma ikon global, berdiri di kompleks makam Salahuddin al-Ayyubi di Damaskus pada 1959. Masa itu, tak ada pidato, tak ada manifesto, tak ada bendera yang dikibarkan. Hanya seorang revolusioner abad ke-20, berdiri di hadapan jasad seorang panglima abad ke-12.
Che datang ke Suriah dalam rangka tur diplomatik ke negara-negara dunia ketiga, tak lama setelah Revolusi Kuba menang. Perjalanan itu bertujuan praktis: menjajaki kerja sama dagang, membangun aliansi politik, dan menegaskan posisi Kuba di luar orbit Amerika Serikat.
Namun di sela kepentingan geopolitik itu, Che memilih berhenti di sebuah tempat yang tak menawarkan kontrak, tak menjanjikan keuntungan ekonomi, dan tak memberi efek politik langsung: mengunjungi makam Saladin. Di sinilah sejarah mulai berbicara dengan bahasa simbol.
Saladin bukan sekadar tokoh militer dalam ingatan dunia Islam. Ia adalah figur yang menandai sebuah momen langka dalam sejarah: ketika perlawanan terhadap penjajahan asing tidak dibangun di atas kebencian buta, melainkan disiplin, strategi, dan etika. Dalam berbagai catatan, Saladin dikenang bukan hanya karena merebut Yerusalem dari Tentara Salib, tetapi juga karena sikapnya terhadap lawan: menghindari pembantaian, menjaga kehormatan, dan memelihara batas kemanusiaan bahkan di tengah perang suci.
Che, di sisi lain, adalah simbol revolusi modern dan pemimpin perlawanan bersenjata terhadap imperialisme, eksploitasi ekonomi, dan ketimpangan global. Ia hidup dalam dunia yang berbeda, dengan musuh yang berbeda, dan ideologi yang berbeda. Namun keduanya dipersatukan oleh satu kata kunci: perlawanan.
Maka kunjungan Che ke makam Saladin dapat dibaca sebagai ziarah ideologis, bukan religius. Sebuah penghormatan lintas zaman terhadap figur yang dianggap berhasil melawan dominasi kekuatan asing di masanya.
Di titik ini, sejarah tak lagi berjalan lurus, tetapi melingkar. Seorang Marxis berdiri di depan makam seorang jenderal Muslim. Tidak ada kontradiksi yang perlu diselesaikan, karena yang sedang dipertemukan bukanlah doktrin, melainkan pengalaman manusia yang sama: pengalaman dijajah, dilawan, dan dibebaskan dengan harga mahal.
Yang menarik, momen ini nyaris tak pernah sejarah mencatatnya sebagai bagian utama dalam narasi besar tentang Che Guevara. Ia tidak masuk dalam mitologi populer kaos dan poster. Mungkin ia tak cocok dengan citra Che yang selalu mengangkat senapan, berteriak di hutan, atau mati sebagai martir revolusi. Padahal justru di sinilah Che tampil sebagai manusia sejarah yang utuh, seorang pembaca simbol, dan bukan sekadar pelaku perang.
Makam Saladin sendiri berdiri berdampingan dengan Masjid Umayyah, salah satu pusat spiritual dan sejarah Islam tertua. Tempat itu menyimpan lapisan waktu: Romawi, Bizantium, Islam, Ottoman, kolonialisme, hingga negara-bangsa modern. Che melangkah di atas tanah yang telah menyaksikan bangkit dan runtuhnya imperium, dan barangkali sebuah ironi bagi seorang revolusioner yang ingin menghancurkan imperium modern.
Mungkin di sana Che menyadari sesuatu yang jarang diucapkan oleh para pejuang: bahwa kemenangan politik sering bersifat sementara, sementara simbol dan ingatan justru bertahan jauh lebih lama.
Saladin tidak diingat karena lamanya berkuasa, tetapi karena cara ia berkuasa. Che sendiri, meski gagal di banyak medan revolusi setelah Kuba, tetap hidup dalam imajinasi dunia sebagai simbol perlawanan. Keduanya sama-sama membuktikan bahwa dalam sejarah, makna sering lebih abadi daripada hasil.
Ziarah Che ke makam Saladin mengajarkan kita bahwa perjuangan tidak selalu diwariskan melalui kesamaan ideologi. Ia sering diwariskan melalui resonansi moral: keberanian melawan ketidakadilan, kesediaan membayar harga, dan keyakinan bahwa dunia bisa diubah, meski tak pernah sempurna.
Di zaman sekarang, ketika simbol perlawanan sering direduksi menjadi slogan kosong atau komoditas visual, kisah ini mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih dalam: bahwa sejarah bukan hanya soal siapa menang dan siapa kalah, tetapi tentang bagaimana manusia memaknai perjuangan setelah senjata diletakkan.
Che pulang dari Damaskus tanpa membawa apa pun dari makam Saladinm Tak ada relik, tak ada klaim politik. Tapi barangkali ia membawa pulang sesuatu yang lebih sunyi: kesadaran bahwa setiap perlawanan, betapapun radikalnya, suatu hari akan menjadi kenangan. Dan yang akan diadili oleh waktu bukanlah seberapa keras kita berteriak, melainkan seberapa jujur kita berdiri di hadapan sejarah.
Di depan sebuah makam tua di Damaskus, revolusi modern sejenak menundukkan kepala. Dan di situlah, justru, ia menjadi manusia. (Sal)