Di Balik Gemerlap Panggung Tahun Baru: Minimnya Ruang Ekspresi Dance Modern Pelajar Batam
Di tengah persiapan perayaan malam Tahun Baru di Harris Hotel Batam Centre, nama Skada Dance Club...
Di Balik Gemerlap Panggung Tahun Baru: Minimnya Ruang Ekspresi Dance Modern Pelajar Batam
16 Des 2025
133 x Dilihat
Share :
Tim Redaksi
Di tengah persiapan perayaan malam Tahun Baru di Harris Hotel Batam Centre, nama Skada Dance Club atau Skeycer, kelompok tari modern asal SMKN 2 Batam, muncul sebagai salah satu pengisi acara.
Namun, di balik kesempatan tampil di hotel berbintang tersebut, tersimpan persoalan yang lebih mendasar: terbatasnya ruang ekspresi dan dukungan institusional bagi seni tari modern di lingkungan pendidikan formal.
Skeycer, yang beranggotakan siswa dan siswi SMKN 2 Batam, saat ini harus berlatih secara mandiri di ruang publik. Pelataran Kantor Pemerintah Kota Batam di Dataran Engku Putri dipilih bukan semata karena kenyamanan, melainkan karena ketiadaan alternatif lain yang memadai.
"Kami latihan di sini karena mudah dijangkau. Hampir setiap ada persiapan tampil, kami berkumpul di tempat ini," ujar Fairuz, ketua Skada Dance Club, saat ditemui di lokasi latihan.
Pilihan berlatih di ruang terbuka publik ini mengindikasikan adanya keterbatasan akses terhadap fasilitas sekolah. Fairuz mengungkapkan bahwa latihan tidak dilakukan di lingkungan SMKN 2 Batam karena minimnya dukungan terhadap tari modern, khususnya yang beririsan dengan budaya populer seperti K-Pop.
Di sekolah kurang mendapat respons. Dance modern seperti ini dianggap tidak sesuai,” katanya.
Padahal, berdasarkan pengakuan Fairuz, aktivitas seni di sekolah secara resmi berada di bawah ekstrakurikuler Sanggar Rentak Selasih. Namun, sanggar tersebut lebih memfokuskan kegiatan pada tarian tradisional, sehingga seni tari modern berada di wilayah abu-abu: diakui sebagai seni, tetapi tidak sepenuhnya difasilitasi.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan lebih jauh mengenai kebijakan sekolah dalam menyediakan ruang ekspresi yang berimbang bagi peserta didik. Di satu sisi, pelestarian budaya tradisional memang penting. Namun, di sisi lain, seni modern yang digemari generasi muda juga merupakan bagian dari perkembangan budaya kontemporer.
Minimnya dukungan fasilitas tidak menghentikan langkah Skeycer. Kelompok ini justru aktif menerima undangan tampil di berbagai acara, termasuk perayaan Tahun Baru. Selain sebagai ajang aktualisasi diri, kegiatan tersebut juga memiliki nilai ekonomi bagi para anggotanya.
Kalau ada undangan tampil, itu juga jadi cara kami mendapatkan uang tambahan,” ungkap Fairuz.
Fakta bahwa pelajar harus mengandalkan undangan komersial dan ruang publik terbuka untuk mengembangkan bakatnya menunjukkan adanya celah dalam sistem pembinaan seni di sekolah.
Peristiwa ini membuka ruang evaluasi bagi pemangku kebijakan pendidikan di Batam: sejauh mana institusi pendidikan mampu merespons dinamika minat dan bakat siswa di era budaya populer global.
Penampilan Skeycer di Harris Hotel Batam Centre pada malam Tahun Baru nanti mungkin akan berlangsung meriah. Namun, di balik sorotan lampu panggung, tersisa pekerjaan rumah yang lebih besar, yakni memastikan bahwa sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang aman dan adil bagi seluruh bentuk ekspresi seni generasi muda.(Sal)