Bagi orang sufi, ada ungkapan yang terdengar sederhana namun mengguncang: "Ada nabi dalam diri." Dalam khazanah falsafah Jawa, gagasan serupa dikenal sebagai Manunggaling Kawula Gusti, penyatuan kesadaran manusia dengan sumber keberadaan.
Ungkapan-ungkapan ini kerap dipahami sebagai pengalaman spiritual semata. Namun, jika ditelisik lebih jauh, ia ternyata dapat dijelaskan pula melalui Biologi Evolusi dan Fisika Modern, terutama bila kita memahami Hukum Kekekalan Energi, Hukum Termodinamika pertama dan kedua, serta apa yang oleh fisikawan Paul Davies disebut sebagai Hukum Kompleksitas.
Di titik inilah spiritualitas dan sains tidak saling meniadakan, melainkan saling menerangi. Bahwa apa yang oleh tradisi disebut sebagai “potensi ilahiah” atau “kesadaran terdalam” ternyata memiliki jejak material, biologis, bahkan kosmik.
Dalam berbagai tradisi kebijaksanaan, termasuk yang oleh sebagian disebut sebagai Filsafat Angin Muson, bahwa manusia digambarkan sebagai makhluk yang menyimpan potensi besar, laksana singa yang sedang tertidur. Kita memiliki daya, tetapi belum sepenuhnya terbangun.
Karena itu, neurolog Taufik Pasiak memberi judul bukunya Membangunkan Raksasa Tidur: sebuah metafora tentang energi kesadaran yang belum tuntas kita aktivasi. Energi itu, dalam berbagai kebudayaan, diberi nama yang berbeda-beda: cakra, kundalini, chi—yang terakhir ini mengingatkan saya pada film Mulan, yang mengupas energi batin digambarkan sebagai sumber keberanian dan daya hidup.
Seluruh kebijaksanaan tentang seluruh wujud diri kita, sesungguhnya, mengandung catatan sejarah yang panjang. Dalam syaraf-syaraf otak tercatat riwayat pengalaman hidup kita: ingatan, trauma, kebiasaan, dan pembelajaran. Dalam DNA tercatat riwayat moyang biologis kita, jejak evolusi yang membentang jutaan tahun. Bahkan lebih jauh lagi, dalam atom dan sub-atom penyusun tubuh kita telah tercatat riwayat alam semesta itu sendiri.
Moyang kita bukan hanya bangsa pelaut atau manusia purba, melainkan juga peristiwa kosmik. Moyang kita adalah supernova—ledakan bintang raksasa. Muasal kita adalah bintang katai putih, seperti masa depan Matahari yang selama ini memberi kita energi. Tubuh kita tersusun dari abu pembakaran nuklir bintang-bintang yang telah lama mati. Kita berasal dari zarah purba yang tersisa sejak dentuman besar, yang jumlah materinya, menurut kosmologi modern, mencapai sekitar 10 pangkat 50 ton zat yang menyusun tubuh kita, galaksi, dan seluruh alam semesta raya.
Muasal kita adalah hidrogen, unsur paling sederhana yang lahir pertama kali di alam semesta. Melalui reaksi fusi inti, hidrogen membentuk proton tunggal yang kemudian melahirkan helium. Dan dari proses panjang di dapur bintang-bintang, lahirlah unsur-unsur lain: litium, karbon, nitrogen, oksigen, yang merupakan unsur-unsur yang kelak menyusun sel, jaringan, dan tubuh manusia.
Proses ini berjalan seiring dengan meningkatnya kompleksitas, sebagaimana dijelaskan dalam teori evolusi kosmik dan apa yang oleh Paul Davies disebut sebagai hukum kompleksitas: dari yang sederhana menuju yang semakin terorganisir, hingga muncul kehidupan multisel sebagai diri dan tubuh kita hari ini.
Kita yang berasal dari reaksi fusi hidrogen, sebagaimana Matahari yang bagai “bunda memberi kasih” berupa energi sepanjang masa, pada hidup dalam waktu yang panjang, tetapi bukan tanpa batas. Sebab, pada dasarnya, apa-apa yang bisa muncul, juga bisa lenyap. Matahari akan padam, bintang akan runtuh, dan tubuh manusia pun tunduk pada hukum yang sama.
Di sinilah kita berhadapan dengan kesementaraan. Dalam bahasa filsafat Islam, kita adalah mumkin al-wujud, yang mungkin ada, dan mungkin tiada. Kesementaraan itulah, dalam fisika, adalah rambatan bernama energi. Para ahli fisika membaginya ke dalam dua bentuk aliran: energi yang terstruktur, disebut energi bebas, dan energi tak terstruktur, yang kita kenal sebagai energi panas atau entropi.
Macam mana energi bebas itu bekerja? Ambil contoh tentang air yang mengalir. Selama ia mengalir dari hulu ke hilir, ia membawa energi bebas. Air terjun yang jatuh ke pusaran bawahnya akan terus mengalir hingga ke muara pada teluk dan samudera. Namun, ketika kita memasang kincir dan menyambungkannya ke turbin, aliran itu berubah menjadi listrik sebagai energi yang menerangi rumah, kota, dan jagat gelap kita. Energi yang tadinya sekadar mengalir bebas, kini menjadi bermakna.
Demikian pula tubuh kita. Tubuh kita adalah energi bebas. Tubuh kita adalah potensi. Pertanyaannya bukan apakah kita memiliki energi itu, melainkan apakah kita membiarkannya termampatkan oleh kemalasan, ketidaksadaran, dan rutinitas yang mematikan makna, atau kita mengaktifkan “ada nabi dalam diri” itu melalui kesadaran, pembelajaran, refleksi, dan tindakan?
Maka, barangkali, seluruh perjalanan hidup manusia adalah soal memilih: membiarkan diri larut menjadi energi panas yang hilang dalam entropi, atau mengolah diri menjadi energi bebas yang memberi terang. Dan di sanalah spiritualitas, sains, dan tanggung jawab manusia bertemu—bukan sebagai dogma, melainkan sebagai kesadaran akan asal-usul dan tujuan kita sendiri.
Soal cara mengaktivasi itu? Ya, mungkin salah satunya dengan terus stay-in pada rubrik kolom ini, atau membaca, berpikir, dan bertanya apa pun saja. Dan nanti pada urusannya semesta bekerja dengan hukum-hukumnya. (Sal)