Hari ini, manusia telah sampai pada satu capaian yang, jika dilihat dari jarak sejarah, nyaris mustahil dibayangkan oleh nenek moyang: kita mampu menyusun riwayat alam semesta secara kronologis. Bukan sebagai dongeng mitologis, melainkan sebagai narasi ilmiah yang dibangun dari kerja panjang lintas disiplin: fisika, kimia, biologi, geologi, astronomi, hingga kosmologi.
Melalui pengamatan radiasi latar gelombang mikro kosmik (cosmic microwave background), pergeseran merah galaksi, hukum relativitas umum Einstein, serta model kosmologi ACDM, sains menyimpulkan bahwa alam semesta bermula sekitar 13,8 miliar tahun lalu dari sebuah keadaan sangat rapat dan panas yang kita sebut Big Bang.
Unsur-unsur ringan seperti hidrogen dan helium terbentuk dalam menit-menit pertama, bintang dan galaksi lahir ratusan juta tahun kemudian, dan unsur-unsur berat seperti besi, karbon, oksigen baru tercipta lewat kematian bintang-bintang purba. Dari abu kosmik itulah planet, termasuk Bumi sekitar 4,54 miliar tahun lalu, akhirnya terbentuk.
Semua ini bukan klaim iman, melainkan hasil demonstrasi empiris yang terus diuji, direvisi, dan disempurnakan. Tidak ada paksaan untuk mempercayainya. Namun bahkan jika kita berhenti hanya pada empirisme, kisah ini sudah cukup untuk menumbuhkan satu sikap yang kian langka: kerendahan hati kosmik.
Sebagai orang awam, saya justru merasakan kedahsyatan itu sejak kecil. Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang mungkin terdengar naif, terus mengendap sampai kemudian harus membaca beberapa bahkan berpuluh buku tentang riwayat dunia dan alam semesta, untuk menemukan jawab: Dulu aku tidak ada, sekarang ada, kelak tiada. Bumi pun akan bernasib sama. Matahari akan padam, galaksi akan berpisah, lalu apa sesudahnya? Apakah sebelum Bumi tercipta, kehidupan benar-benar tidak ada?
Pertanyaan tentang masa lalu, memang rupanya dan katanya, adalah naluri paling purba manusia. Empat buku sains kosmologi yang pernah saya baca, dari Hawking hingga Sagan, tidak memberi jawaban final, tetapi cukup memberi sketsa buram agar imajinasi bisa menyeberangi waktu: menengok ke belakang, sekaligus mengintip kemungkinan masa depan alam semesta, yang entah berupa heat death, big crunch, atau skenario lain yang masih diperdebatkan.
Lalu, di manakah Tuhan?
Saya mulai curiga bahwa pertanyaan itu sendiri sudah keliru. Pertanyaan tentang “di mana” adalah produk 5W+1H—alat kognitif manusia yang hanya relevan untuk entitas yang berada dalam ruang dan waktu.
Dalam tradisi tertentu, jawaban literal seperti “Allah berada di langit, bersemayam di Arasy” diterima tanpa problem. Namun bagi saya, itu justru menutup pintu perenungan.
Ryu Hasan pernah menyatakan dengan nada provokatif, “Tuhan ada, ya syukur. Tidak ada, juga tidak apa-apa,” dalam konteks pengujian sains. Sementara Sabrang Noe Letto mengingatkan bahwa ada jenis kebenaran yang memang tidak didesain untuk dibuktikan. Apakah eksistensi Tuhan harus tunduk pada skema verifikasi sains? Ataukah sains memang tidak dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan metafisis?
Sebagian kalangan mencoba mendamaikan keduanya dengan mencari “jejak Tuhan” atau mencari manifestasi kekuasaan-Nya dalam hukum alam. Mungkin sebagai konstanta kosmologis, keteraturan matematika, atau kehalusan parameter fisika yang memungkinkan kehidupan (fine-tuning).
Namun upaya ini pun rawan terjerumus pada antropomorfisme: memproyeksikan cara berpikir manusia ke dalam Yang Transenden. Sejarah menunjukkan, antropomorfisme inilah yang kerap menjadi bahan bakar konflik dan kekerasan atas nama Tuhan.
Ironisnya, konsep-konsep mistik seperti Manunggaling Kawula Gusti, yang mencoba melampaui dikotomi manusia-Tuhan, justru sering dicap sesat. Di sisi lain, pandangan teologis ekstrem yang memisahkan Tuhan sepenuhnya dari alam melahirkan occasionalism atau bahkan deisme: alam semesta seperti mesin jam yang dibiarkan bekerja sendiri. Konsekuensinya serius: mukjizat dipertanyakan, wahyu dipersempit, bahkan penciptaan itu sendiri diragukan.
Perdebatan ini seolah berputar tanpa ujung, memang.
Pada titik ini, pun saya sampai pada satu kesimpulan sementara: wahyu, bagaimanapun, hadir sebagai bahasa. Bahasa adalah metafor, dan metafor adalah cara manusia menjangkau yang tak terjangkau.
Kitab suci, seperti karya sastra agung, selalu lahir dalam konteks sosial, kultural, dan historis tertentu.
Fazlur Rahman menawarkan pandangan yang relatif jernih: Al-Qur’an sepenuhnya Kalam Allah sekaligus sepenuhnya terartikulasikan melalui Nabi Muhammad SAW. Ia ilahi, tetapi juga menyejarah.
Masalah muncul ketika teks yang sama dibaca lintas generasi tanpa kesadaran konteks. Teksnya terjaga, tetapi maknanya membeku atau malah bias. Dari bias itulah lahir pertikaian mazhab, klaim kebenaran tunggal, hingga legitimasi kekerasan.
Agama, sebagai sistem religiusitas, lahir pada masa Revolusi Pertanian. Ketika manusia mulai menetap dan mengelola alam. Namun dalam perjalanannya, agama justru kerap tercerabut dari akar alam itu sendiri. Padahal manusia bukan entitas di luar alam; ia adalah bagian dari jejaring kosmik yang sama.
Karena itu, mungkin kita perlu kembali ke alam. Bukan untuk menyembahnya, melainkan untuk memahaminya. Di sinilah sains menawarkan jalan yang relatif universal. Dengan menemukan hukum-hukum alam, yang berlaku tanpa memandang identitas, suku, atau iman. Sains menyediakan bahasa bersama umat manusia. Bukan sebagai pengganti spiritualitas, melainkan sebagai fondasi kerendahan hati.
Menariknya, dalam tradisi mistik Islam seperti konsep Martabat Tujuh, kita menemukan upaya serupa untuk menjelaskan relasi Tuhan-manusia-alam. Realitas Dzat dipahami memiliki dua aspek: yang batin yang tak termanifestasi, dan prinsip gerak ontologis yaitu Al-Hubb (Cinta) yang memunculkan potensi-potensi ke dalam dunia terbatas melalui tajalli.
Alam semesta, dalam pandangan ini, adalah wujud majazi: tampak ada, tetapi tidak mutlak ada; tidak sepenuhnya tiada, tetapi juga tidak absolut.
Secara ontologis, alam semesta berada dalam keadaan “ada-dan-tiada” yang berkesinambungan. Ia hadir sebagai momen transisi, yang oleh indera empiris kita ditangkap sebagai realitas.
Pandangan ini, secara mengejutkan, beresonansi dengan kosmologi modern yang memandang realitas sebagai proses, bukan benda statis.
Mungkin, baik sains maupun metafisika mistik bisa saja dianggap “dongeng” oleh sebagian orang. Keduanya memang tidak sepenuhnya terjangkau oleh intuisi sehari-hari. Namun keduanya memiliki satu kesamaan penting: mengajak manusia untuk tidak merasa pusat segalanya.
Saya terus belajar dari dialektika yang diperagakan Ryu Hasan dan Sabrang Noe Letto, sebagai jembatan antara keteguhan rasionalitas dan keberanian filosofis. Hidup di komunitas religius yang sering mengklaim Islam sebagai puncak kesadaran, tetapi ironisnya juga memelihara kebodohan sebagai identitas. Di tengah situasi itu, upaya untuk waras dan cerdas kerap berujung pada cemooh.
Maka ketika saya menulis tentang sains, saya tahu jangkauannya tak pernah benar-benar netral. Ia selalu bersinggungan dengan agama, dengan iman, dengan kegelisahan kolektif. Jembatan dialektika itu perlu, meski rapuh. Barangkali karena itulah tulisan ini berputar-putar, tak kunjung tiba pada kesimpulan tegas.
Mungkin tidak semua perjalanan harus berakhir pada jawaban. Ada yang cukup berhenti pada kesadaran: bahwa kita hanyalah debu kosmik yang sempat berpikir, sempat bertanya, dan sempat merasa takjub. Sebelum kembali larut ke dalam riwayat panjang alam semesta itu sendiri, yang sudah agak dipahami yang cuma sezarah, setitik ini. (Sal)