Sebagai orang awam, saya membawa pertanyaan yang barangkali paling sederhana, dan justru karena itu mungkin paling purba. Sejak kecil, saya kerap bergumam dalam hati: “Dulu aku tidak ada. Sekarang aku ada. Lalu nanti aku tidak ada lagi.” Kalimat itu datang tanpa teori, tanpa rujukan, hanya sebagai rasa heran yang lahir dari kesadaran kanak-kanak akan keberadaan.
Ketika saya mulai mengenal geografi, lalu perlahan masuk ke wilayah sains yang lebih luas, pertanyaan masa kecil itu tidak menghilang. Ia hanya berpindah alamat. Saya menunjukkannya pada Bumi yang dipijak, pada langit malam yang sunyi, bahkan pada doa-doa yang saya lafalkan dengan suara pelan. Saya bertanya: apakah sebelum Bumi ada makna? Dan setelah semuanya berakhir, masih adakah arti yang tertinggal?
Di titik inilah sains dan refleksi pribadi saling menatap. Sains menawarkan kisah tentang bagaimana segala sesuatu bermula, sementara kesadaran manusia terus bertanya: untuk apa semua itu ada? Keduanya tidak selalu saling menjawab, tetapi sering kali saling mendekat.
Sebuah jawaban memang tidak selalu hadir dalam bentuk kepastian. Mungkin makna justru lahir dari keberanian untuk bertanya, dari kesediaan untuk hidup di antara tahu dan tidak tahu. Dan barangkali, di tengah semesta yang luas dan dingin ini, kesadaran kita yang hanya sekejap datang adalah itulah cara alam semesta mengenali dirinya sendiri.
Kisah itu, kata banyak orang, bisa dimulai dari sesuatu yang tampak kosong. Bukan kehampaan mutlak, melainkan sebuah halaman putih yang terlalu putih, yang begitu sunyi hingga batas antara awal dan akhir menjadi kabur. Dalam kesunyian semacam itu, waktu belum benar-benar bernama, dan keberadaan belum memiliki rujukan selain kemungkinan.
Lalu, seperti gema dari suara yang belum pernah didengar telinga mana pun, muncullah satu titik. Entah dari mana asalnya, entah apa sebabnya. Titik itu bukan sekadar tanda geometris, melainkan benih dari segala sesuatu. Ia mengembang, bergetar, seolah ragu pada dirinya sendiri, hingga dalam sebuah peristiwa yang tak sepenuhnya dapat kita bayangkan ia meledak. Bahasa paling sederhana yang kita miliki, menyebutnya: “Boom.”
Namun ledakan ini bukan seperti bom atau petir yang menghancurkan. Ia justru melahirkan. Dari sanalah, waktu mulai berdetak, ruang mulai meregang, dan hukum-hukum alam perlahan bekerja. Para ilmuwan menyebut peristiwa ini sebagai Big Bang, adalah sebuah istilah teknis yang terdengar nyaris kekanak-kanakan, seakan hanya menirukan bunyi ketukan pertama di pintu dunia yang baru saja ada.
Teori Big Bang tidak lahir dari imajinasi kosong. Ia disusun dari pengamatan panjang: pergeseran merah cahaya galaksi, radiasi latar kosmik, dan perhitungan matematis tentang alam semesta yang terus mengembang.
Dari sana, sains menyimpulkan bahwa alam semesta memiliki usia sekitar 13,8 miliar tahun, dan bahwa segala yang kita kenal, mulai dari bintang, planet, hingga tubuh kita sendiri, adalah hasil dari proses kosmik yang amat panjang dan rumit.
Saya telah membaca beberapa buku sains tentang asal-usul ini. Rasanya seperti menelusuri lorong demi lorong sebuah perpustakaan raksasa yang baru dibuka setelah “kiamat pertama”. Buku-buku itu bukan kitab suci yang menuntut kepatuhan, melainkan peta yang mengajak berdialog. Di dalamnya ada koreksi, ada catatan kaki, ada keraguan yang ditulis dengan jujur.
Seperti sering dikatakan dan dikampanyekan bahwa sains, pada titik terbaiknya, tidak berpura-pura mengetahui segalanya. Para ilmuwan sendiri mengakui bahwa alam semesta mungkin lahir dari ketidakseimbangan kecil, dari fluktuasi energi pada skala paling dasar. Dari sanalah fisika, kimia, biologi, dan geologi seolah bersekutu membentuk sebuah narasi besar tentang keberadaan.
Atom-atom sederhana menjadi unsur. Unsur membentuk bintang. Bintang meledak dan melahirkan unsur-unsur berat. Debu kosmik itu kemudian berkumpul menjadi planet, laut, sel, dan pada akhirnya—kesadaran.
Namun narasi ini, betapapun megahnya, bukanlah cerita yang benar-benar selesai. Ia lebih menyerupai kumpulan potongan teka-teki yang disusun oleh makhluk bernama manusia, makhluk yang sadar akan kefanaannya, yang tahu bahwa hidupnya terlalu singkat untuk menyaksikan keseluruhan kisah. Dan mungkin justru di situlah kejujuran sains: ia terus berjalan, sambil mengakui keterbatasannya sendiri.
Namun justru pada ketidakselesaian itulah, manusia menemukan tempatnya. Kita bukan penonton yang berdiri di luar cerita, melainkan bagian kecil dari alur yang sedang berlangsung. Tubuh kita tersusun dari unsur-unsur yang pernah ditempa di jantung bintang, pikiran kita bergetar oleh hukum-hukum yang sama yang menggerakkan galaksi. Dalam arti tertentu, setiap tarikan napas kita adalah kelanjutan dari peristiwa purba yang dimulai miliaran tahun lalu.
Kesadaran, yang sering kita anggap sebagai sesuatu yang sepenuhnya personal, ternyata memiliki akar kosmik. Ia bukan hanya milik “aku”, melainkan hasil dari perjalanan panjang materi yang belajar mengenali dirinya sendiri. Ketika kita bertanya tentang asal-usul, sesungguhnya alam semesta sedang bertanya melalui kita. Dan ketika kita merenung tentang makna, mungkin itulah saat semesta berhenti sejenak untuk mendengarkan dirinya sendiri.
Di titik ini, pertanyaan masa kecil itu kembali mengetuk: dulu aku tidak ada, sekarang aku ada, dan nanti aku tidak ada lagi. Sains tidak menampik kenyataan itu. Ia bahkan menegaskannya, bahwa segala yang ada bergerak menuju perubahan, menuju akhir dalam satu bentuk, dan kelahiran kembali dalam bentuk lain. Kefanaan bukanlah kesalahan, melainkan syarat agar sesuatu bisa sungguh-sungguh terjadi.
Maka barangkali makna hidup tidak terletak pada upaya menjadi abadi, melainkan pada cara kita hadir sementara di tengah arus yang jauh lebih besar dari diri kita. Dalam waktu yang singkat ini, kita diberi kemampuan untuk bertanya, untuk merasakan kagum, untuk mencintai, dan untuk merawat sesama makhluk yang sama-sama tersusun dari debu bintang.
Sains, dengan segala keterbatasannya, mengajarkan kerendahan hati: bahwa kita tidak berada di pusat semesta, tetapi juga bukan tanpa arti. Kita hanyalah satu titik kecil dalam bentangan kosmik yang luas, namun titik ini mampu berpikir tentang keseluruhan. Dan mungkin di situlah letak keajaiban sesungguhnya bersemayam.
Jika suatu hari nanti semua ini berakhir. Jika bintang padam, galaksi menjauh, dan waktu kehilangan maknanya, setidaknya pernah ada momen ketika alam semesta sadar akan keberadaannya sendiri. Momen itu bernama manusia. Bernama pertanyaan. Bernama keberanian untuk menatap langit malam dan berkata pelan: aku ada, meski sebentar, dan aku ingin mengerti.
Barangkali itulah makna yang tidak menunggu kita di ujung jawaban, melainkan berdiam dalam keberanian untuk terus bertanya. Bahwa kita lahir dari peristiwa purba yang tak sepenuhnya kita pahami, bahwa kita hidup dalam jeda yang singkat, lalu kembali menjadi bagian dari semesta yang lebih luas.
Namun dalam jeda itulah kita diberi kesadaran, yaitu kemampuan untuk merasa kagum, untuk merawat, dan untuk menyebut keberadaan sebagai sesuatu yang layak direnungkan. Jika alam semesta pernah sunyi, maka melalui diri kitalah ia sempat berbicara; dan jika suatu hari segalanya kembali senyap, setidaknya pernah ada satu momen ketika semesta menyadari dirinya sendiri, melalui manusia yang bertanya dengan lirih: mengapa aku ada? (Sal)