Hidup, pada dasarnya, adalah pergerakan. Ia adalah materi, dan materi tak pernah benar-benar diam. Pada tingkat paling dasar, ia hadir sebagai getaran atau vibrasi energi yang bekerja di alam quark, wilayah yang nyaris mustahil disentuh oleh pancaindra.
Fisika modern bahkan menyebut bahwa sebagian besar semesta justru tersusun dari sesuatu yang tak kasatmata: materi gelap dan energi gelap. Apa yang tampak oleh mata, yang bisa disentuh, dihitung, dan dikelola manusia, hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan realitas kosmik. Dari kesadaran inilah, pemahaman tentang hidup sebagai rangkaian energi bermula.
Kesadaran itu kemudian menjelma dalam pengalaman paling sehari-hari: siang dan malam. Kita menyebut suatu keadaan sebagai siang, seolah ia adalah sesuatu yang mutlak. Padahal siang hanyalah peristiwa optik, adalah pantulan cahaya matahari yang tiba di Bumi setelah menempuh perjalanan sekitar 8,3 menit dari jarak 150 juta kilometer. Cahaya itu berasal dari sebuah bola plasma raksasa yang kandungannya didominasi hidrogen dan helium, yang terus bereaksi dalam tungku nuklir alami. Namun justru dari peristiwa kosmik itulah ritme hidup manusia ditentukan.
Karena siang hadir, pada yang disebut siang manusia pun bergerak. Kita keluar rumah, bekerja, berdagang, memproduksi, dan memburu sesuap nasi. Kita mengejar apa yang disebut penghidupan, bahkan menimbun bongkahan nilai artifisial yang dinamai kekayaan.
Dengan kata lain, siang bukan hanya fenomena astronomi, melainkan penggerak ekonomi dan peradaban. Dari sinilah hubungan antara energi kosmik dan struktur sosial manusia mulai terjalin.
Namun ketika matahari tenggelam, kehidupan tidak serta-merta berhenti. Malam hari tetap terang oleh listrik, dengan lampu jalan, rumah, pelabuhan, dan gedung-gedung kota. Terang malam ini sering kita anggap sebagai hasil teknologi semata, padahal ujung-ujungnya tetap bersumber dari matahari. Energi listrik berasal dari air, batu bara, minyak, gas, atau panel surya, semuanya merupakan turunan langsung atau tidak langsung dari energi matahari.
Dengan demikian, baik siang maupun malam, keduanya masih berada dalam satu lingkar sebab yang sama. Kesadaran akan peran matahari inilah yang sejak lama membentuk imajinasi spiritual manusia. Bumi sering disebut sebagai “anak matahari”, dan karena itu tak mengherankan bila dalam sejarah peradaban, matahari pernah disembah sebagai Tuhan Bapak atau Dewa Ra.
Bukan semata karena mitos, melainkan karena matahari benar-benar memberi hidup. Dalam logika yang sama, bagi orang kelaparan, Tuhan paling nyata bukanlah konsep metafisik, melainkan sepotong roti dan sesuap nasi. Karena di sanalah energi kehidupan bertambah secara konkret.
Roti dan nasi itu sendiri pun tak pernah lepas dari matahari. Makanan manusia berasal dari tanaman, dari padi-padian, sayur, buah yang daunnya melakukan fotosintesis. Proses ini sepenuhnya bergantung pada cahaya matahari dan kondisi cuaca. Dari kecukupan pangan itulah tubuh manusia bertahan, dan dari kecukupan gizi itulah otak berkembang.
Energi biologis kemudian menjelma menjadi energi kognitif: kemampuan berpikir, berimajinasi, dan mencipta. Dari otak yang kreatif itulah lahir teknologi, yang mana manusia mulai membaca alam, lalu menirunya. Air terjun, misalnya, pada mulanya hanyalah energi yang jatuh berhamburan berupa panas, bising, dan tak terstruktur. Namun manusia kemudian menciptakan turbin. Dengan kincir dan poros, molekul-molekul air yang semula liar dipaksa bergerak koheren, terarah, dan berguna. Energi kinetik air diubah menjadi energi listrik.
Listrik itulah yang kini menerangi malam, termasuk di pulau Batam dan wilayah Indonesia lain yang tak sedang menerima pancaran langsung cahaya matahari. Turbin air dan panel surya menjadi simbol bagaimana manusia belajar mengolah aliran energi, baik yang tampak acak maupun yang terstruktur. Semua lagi-lagi kembali pada satu sumber: matahari.
Kita makan dari hasil fotosintesis, kita mengolah air yang jatuh karena gravitasi, dan kita menyalakan malam dari energi yang disimpan atau dialirkan.
Dalam kerangka ini, manusia bukanlah penguasa alam, melainkan bagian dari aliran itu sendiri. Alam semesta, termasuk tubuh manusia, adalah rangkaian rambatan energi. Hukum termodinamika menyatakan bahwa energi tidak pernah musnah; ia hanya berubah bentuk. Energi matahari berubah menjadi makanan, makanan menjadi tenaga, tenaga menjadi kreativitas, dan kreativitas melahirkan peradaban. Air berubah menjadi gerak, gerak menjadi listrik, dan listrik menjadi terang.
Namun di balik segala terang itu, semesta pada dasarnya adalah gelap. Laut tampak biru bukan karena airnya biru, melainkan karena cahaya gelombang biru matahari dipantulkan ke mata kita. Dari kejauhan, bumi pun tampak sebagai titik biru pucat. Ketika wahana Voyager memotretnya dari pinggiran tata surya, Carl Sagan menyebutnya Pale Blue Dot, sebuah titik kecil yang memuat seluruh sejarah manusia: perang, cinta, doa, dan harapan.
Kesadaran kosmik ini makin mengerdilkan posisi kita. Tata surya hanyalah satu dari sekitar 400 miliar bintang di galaksi Bimasakti. Bumi hanyalah satu dari sekitar 100 miliar planet di galaksi yang sama. Bimasakti sendiri hanyalah satu dari sekitar dua triliun galaksi yang teramati. Bahkan posisinya pun berada di tepian, di lengan spiral Orion—bukan di pusat galaksi yang megah, melainkan di pinggiran yang nyaris tak diperhitungkan.
Namun justru di posisi yang tampak “tak istimewa” itulah kehidupan mungkin menemukan keseimbangannya. Terlalu dekat ke matahari, bumi akan hangus; terlalu jauh, ia membeku. Terlalu dekat ke pusat galaksi, radiasi mematikan; terlalu jauh, unsur-unsur pembentuk kehidupan mungkin tak tercipta. Barangkali, hidup memang lahir dari kebetulan-kebetulan kosmik yang pas.
Sampai kini, manusia masih sendirian. Setidaknya menurut pengamatan sejak 1960, program SETI mendengarkan semesta, mencari tanda kecerdasan lain. Namun belum ada jawaban. Tak ada sinyal yang membalas sapaan kita, tak ada suara yang berkata, “Kami mendengar kalian,” atau sekadar mengomentari indahnya Gending Ketawang Puspawarna yang di dalam piringan yang ditaruh di Voyager, misi menjelajahi antariksa. Namun semesta masih sunyi, seolah membiarkan manusia berbicara pada dirinya sendiri.
Dan di tengah kesunyian kosmik itulah, ada “aku”: seorang manusia di Batam, sebuah pulau kecil, sebuah titik di peta Bumi—yang sendirian hanyalah titik di antara triliunan galaksi.
Mungkin di situlah makna hidup bekerja: bukan pada kebesaran, melainkan pada kesadaran akan keterhubungan. Bahwa menjadi materi, menjadi energi, dan menjadi getaran semesta bukan soal menguasai, melainkan menyadari bahwa kita ada, sejenak, di antara terang dan gelap yang tak bertepi. (Sal)