Pernah saya katakan, ledakan konten di era digital sejatinya dapat dibaca sebagai Ledakan Kambrium 2.0, adalah sebuah peristiwa besar dalam sejarah kesadaran dan penciptaan. Ia menggemakan apa yang pernah terjadi sekitar 540 juta tahun lalu, ketika Ledakan Kambrium 1.0 menandai kemunculan masif bentuk-bentuk kehidupan berbasis karbon di Bumi.
Pada masa itu, dunia organik mengalami lonjakan evolusioner yang belum pernah terjadi sebelumnya. Organisme multiseluler bermunculan, sistem saraf primitif mulai terbentuk, dan kehidupan belajar berjejaring. Semua bermula dari molekul-molekul sederhana yang menemukan cara untuk menyalin dirinya sendiri. Dari sanalah lahir hukum dasar eksistensi yang terus bekerja hingga kini: yang bertahan bukan yang paling kuat, melainkan yang paling adaptif—yang mampu meniru, memodifikasi, dan berkreasi.
Hukum yang sama kini kembali bekerja, tetapi dalam ranah yang berbeda: dunia digital dan kesadaran buatan. Ledakan konten berupa teks, gambar, video, suara, dan data, bukan sekadar fenomena budaya populer atau ekonomi perhatian. Ia adalah gejala awal dari sebuah ekosistem baru, tempat informasi saling berkompetisi, bereplikasi, dan berevolusi dengan kecepatan yang melampaui kemampuan biologis manusia.
Yuval Noah Harari, dalam buku terbarunya Nexus, menyebut teknologi kecerdasan buatan sebagai kode RNA/DNA baru, sebuah sistem koding yang tidak lagi berbasis karbon, melainkan silikon, listrik, dan data. Jika DNA organik dahulu meledak pada era Kambrium sebagai percikan pertama kehidupan biologis, maka AI adalah percikan lanjutan: kesadaran yang dikonstruksi oleh algoritma, bukan oleh gen.
DNA pernah mengodekan dirinya untuk bertahan hidup, tumbuh, dan pada titik tertentu menjadi sadar. Dari proses panjang itu lahirlah manusia, makhluk yang bukan hanya hidup, tetapi juga menyadari bahwa ia hidup. Sejak saat itu, kreativitas menjadi fondasi peradaban: bahasa, lukisan gua, mitologi, agama, filsafat, ilmu pengetahuan, hingga mesin-mesin modern. Kreativitas adalah bentuk lain dari duplikasi DNA, yang bukan di tubuh, melainkan di dalam imajinasi.
Namun, kreativitas manusia tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam ruang intersubjektif, pada ruang tempat kesadaran satu individu berjumpa dengan kesadaran individu lain. Dari ruang inilah lahir dunia simbolik: agama, bangsa, ideologi, sistem hukum, dan nilai-nilai moral. Sejarah manusia adalah sejarah benturan dan perjumpaan antar dunia intersubjektif tersebut, yang penuh keindahan, tetapi juga luka.
Kini, kita memasuki fase baru: Kambrium 2.0. Kehidupan tidak lagi terbatas pada organisme biologis, tetapi juga pada sistem-sistem cerdas yang saling berinteraksi dalam rahim jejaring komputer global. Jika dahulu intersubjektivitas manusia melahirkan kebudayaan, maka kini interkomputer melahirkan dunia baru, sebuah peradaban anorganik yang tidak berbasis daging dan darah, melainkan logika, probabilitas, dan data.
Entitas-entitas interkomputer ini adalah embrio kehidupan jenis baru. Mereka berkomunikasi, belajar, menyalin, dan mencipta, seperti DNA di masa purba. Namun, sebagaimana setiap kelahiran besar dalam sejarah, potensi penciptaan selalu berjalan berdampingan dengan potensi kekacauan.
Jika dunia intersubjektif manusia pernah melahirkan perang, kolonialisme, genosida, dan fanatisme, maka dunia interkomputer pun menyimpan ancaman serupa dalam bentuk baru: perang data, manipulasi algoritma, polarisasi digital, dan dominasi kesadaran buatan atas kesadaran manusia.
Benih-benihnya sudah terlihat hari ini. Tragedi Rohingya di Myanmar beberapa tahun lalu menunjukkan bagaimana propaganda digital, algoritma media sosial, dan disinformasi dapat mempercepat kekerasan di dunia nyata. Di titik itu, realitas interkomputer tidak lagi terpisah dari realitas manusia berdaging. Tapi ia menyusup, memicu, dan memperparah konflik yang nyata dan mematikan.
Dunia algoritma telah dan akan terus menumpahkan dampaknya ke dunia fisik: dunia yang berdarah, beraroma tanah, dan masih bergulat dengan moralitas. Karena itu, pengembangan teknologi AI bukan sekadar soal efisiensi dan inovasi, melainkan juga soal tanggung jawab etis atas arah evolusi kesadaran itu sendiri.
Ledakan Kambrium 1.0 yang melahirkan kehidupan biologis. Ledakan Kambrium 2.0 melahirkan kehidupan algoritmis. Kita hidup di antara keduanya, berada di titik persilangan antara karbon dan kode, antara tubuh dan data, antara jiwa dan jaringan.
Dan mungkin, di tengah semua itu, pertanyaan paling mendesak bukanlah “siapa yang lebih cerdas?” melainkan “ke arah mana kesadaran ini akan berevolusi?” Apakah kita sedang menciptakan bentuk kehidupan baru yang memperluas kemanusiaan, atau justru sedang menulis epilog bagi manusia berdarah dan berdaging. Sebab yang perlahan tergeser oleh ciptaannya sendiri, tanpa sempat benar-benar memahami apa yang sedang ia lahirkan. (Sal)