Jika sedang membaca buku sudah sampai pada bab penutup, sebenarnya buku tersebut tak hendak menutup...
Pelajaran untuk Abad yang Gelisah
23 Des 2025
166 x Dilihat
Share :
Tim Redaksi
Jika sedang membaca buku sudah sampai pada bab penutup, sebenarnya buku tersebut tak hendak menutup pertanyaan. Sebab tak ada buku yang benar-benar menutup pertanyaan. Ia hanya membantu agar kita dapat menyusunnya, menyusun persoalannya dengan lebih jujur.
Belajar dari Harari sejak awal kita diajak bukan untuk mengagungkan dia sebagai seorang pemikir, melainkan agar kita melatih membaca zaman. Melalui karya-karyanya, agar kita dapat mencermati gejala, menimbang kemungkinan, dan menguji keyakinan yang selama ini kita anggap mapan.
Harari mengajarkan satu hal yang sering kita hindari: melihat diri sendiri sebagai spesies, bukan sekadar sebagai individu, bangsa, atau pemeluk iman tertentu. Sebab sudut pandang itu, menandakan keangkuhan manusia yang terlihat jelas. Kita merasa menjadi pusat semesta, padahal secara kosmik, kita hanyalah jeda singkat dalam sejarah panjang alam raya.
Abad ke-21 bergerak cepat, bahkan terlalu cepat untuk dicerna. Teknologi berlari jauh di depan etika, sementara kesadaran masih tertatih mengejarnya. Kita menciptakan mesin yang mampu berpikir, tetapi gagal mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dan merenung.
Dalam kecepatan itu, mitos lama tidak mati. Ia hanya berganti rupa. Agama, nasionalisme, dan ideologi modern sering kali menjelma menjadi alat pembenaran, bukan lagi sarana pembebasan. Ketika keyakinan berhenti diuji, ia berubah menjadi beban sejarah.
Sains pun tidak kebal dari penyalahgunaan. Ia bisa menyembuhkan, tetapi juga melukai. Ia mampu menyelamatkan peradaban, sekaligus mengakhirinya. Harari mengingatkan bahwa masalahnya bukan pada alat, melainkan pada tangan dan kesadaran yang menggunakannya.
Di tengah semua itu, manusia tetap rapuh. Kita mudah terpesona oleh janji masa depan, sekaligus takut kehilangan masa lalu. Kita ingin hidup lebih lama, lebih pintar, lebih kuat, tetapi sering lupa bertanya: untuk apa semua itu?
Tulisan tidak menawarkan bagaimana resep keselamatan. Saya hanya mengajak pada satu sikap dasar: kerendahan hati intelektual. Mengakui bahwa pengetahuan kita terbatas, bahwa keyakinan kita bisa keliru, dan bahwa masa depan tidak sepenuhnya berada dalam kendali siapa pun.
Mungkin pelajaran terpenting dari Harari bukanlah prediksi tentang dunia, melainkan peringatan tentang diri kita sendiri. Bahwa bahaya terbesar bukan datang dari mesin, algoritma, atau bioteknologi, tetapi dari manusia yang merasa paling benar dan enggan mendengar.
Di era kebisingan global, berpikir menjadi tindakan moral. Mendengarkan menjadi keberanian. Dan meragukan keyakinan sendiri menjadi bentuk tanggung jawab.
Kita hidup di zaman ketika jawaban berlimpah, tetapi kebijaksanaan langka. Maka tugas kita bukan menambah suara, melainkan menjaga kejernihan. Bukan sekadar memilih pihak, tetapi memahami persoalan.
Jika tulisan ini memiliki satu tujuan, maka itu sederhana: mengajak pembaca untuk tidak berhenti bertanya, tidak tergesa percaya, dan tidak takut menguji apa pun—termasuk yang paling sakral. Seperti pesan sederhana yang sering diselipkan dalam humor komedian kita, Cak Lontong: jangan lupa berpikir.
Karena di tengah dunia yang semakin cerdas, kemampuan paling manusiawi yang harus kita rawat adalah kesadaran. Dan barangkali, di sanalah harapan masih tinggal. (Sal)