Sejarah manusia hampir selalu ditandai oleh konflik. Dari perebutan wilayah hingga pertarungan ideologi, dari perang suku hingga perang dunia, kekerasan menjadi bayangan setia peradaban. Yuval Noah Harari mengingatkan bahwa meskipun bentuknya berubah, akar konflik manusia sering kali tetap sama: ketakutan, kepentingan, dan kepercayaan yang tak mau diuji.
Perang Dunia I dan II memperlihatkan bagaimana teknologi modern memperbesar daya rusak kebencian lama. Senjata kimia, bom atom, dan mesin propaganda menjadikan perang bukan lagi sekadar pertempuran antar tentara, melainkan tragedi massal yang melibatkan seluruh masyarakat.
Pasca perang dunia, manusia bersumpah “tidak lagi”. Namun sejarah tidak berhenti dari sejarah peperangan oleh sebab konflik yang berganti wajah. Selain tentu saja masih terjadi perang lama dalam skala lebih kecil: tentang perebutan perbatasan antar negara dan sebab lainnya seperti perang di kawasan Teluk, perang Rusia-Ukraina, perang Hamas-Israel, dan perang Thailand-Kamboja.
Namun hari ini, perang jarang atau semakin jarang diumumkan secara resmi. Tetapi berlangsung terus-menerus dalam bentuk yang lebih kecil, lebih halus dan kompleks. Harari melihat perubahan ini sebagai pergeseran medan tempur. Jika perang lama bertumpu pada kekuatan fisik dan senjata konvensional, perang baru bergerak melalui data, algoritma, dan rekayasa biologis. Musuh tidak selalu terlihat dan serangan tidak selalu berbunyi ledakan.
Perang informasi adalah contohnya. Berita palsu, manipulasi emosi, dan polarisasi sosial menjadi senjata ampuh. Media sosial memungkinkan satu narasi menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Dalam kondisi ini, kebenaran tidak dikalahkan oleh kebohongan, melainkan oleh keraguan dan kelelahan publik.
Sebagai kerja jurnalistik, ini adalah tantangan eksistensial. Jurnalisme tidak lagi hanya melaporkan fakta, tetapi juga harus berjuang mempertahankan kepercayaan. Ketika publik kehilangan kemampuan membedakan informasi dan propaganda, demokrasi ikut goyah.
Harari juga menyoroti potensi senjata biologis dan teknologi pengeditan gen. Jika dahulu wabah adalah bencana alam, hari ini ia bisa menjadi alat politik. Pandemi global menunjukkan betapa rapuhnya sistem kesehatan, ekonomi, dan kepercayaan antarnegara.
Dalam dunia yang saling terhubung, satu kesalahan laboratorium atau satu keputusan politik dapat berdampak lintas benua. Senjata baru ini tidak mengenal garis depan. Semua orang berpotensi menjadi korban, termasuk mereka yang menciptakannya.
Namun yang paling mengkhawatirkan bagi Harari adalah senjata psikologis. Algoritma yang memahami emosi manusia dapat dimanfaatkan untuk mengarahkan perilaku massal. Ketika ketakutan dan kemarahan diproduksi secara sistematis, masyarakat mudah digerakkan menuju konflik.
Agama dan identitas sering kali menjadi bahan bakar yang siap disulut. Narasi lama tentang “kami” dan “mereka” menemukan medium baru. Fanatisme tidak lagi membutuhkan mimbar atau medan perang; cukup layar gawai.
Dalam konteks ini, perang masa depan mungkin tidak menghancurkan kota, tetapi menghancurkan kemampuan manusia untuk berpikir jernih. Ketika kesadaran kolektif terkikis, kekerasan menjadi pilihan yang terasa wajar.
Harari tidak menafikan penurunan jumlah perang besar antarnegara. Namun ia mengingatkan bahwa kedamaian semu dapat menipu. Stabilitas yang bergantung pada teknologi rapuh terhadap kesalahan sistem, sabotase, atau penyalahgunaan kekuasaan.
Di sinilah kembali muncul pertanyaan etis. Jika manusia kini memiliki kemampuan menghancurkan bukan hanya musuh, tetapi seluruh peradaban, apakah kita juga memiliki kedewasaan untuk menahan diri?
Sejarah menunjukkan bahwa kemampuan teknis sering kali mendahului kematangan moral. Senjata ditemukan sebelum etika penggunaannya dirumuskan. Dan setiap kali itu terjadi, korban selalu mendahului refleksi.
Harari melihat kebutuhan mendesak akan kerja sama global. Namun kerja sama menuntut kepercayaan, sementara teknologi baru justru sering digunakan untuk memecah belah. Paradoks ini menjadi salah satu dilema terbesar abad ke-21.
Saya tidak menawarkan strategi militer atau solusi geopolitik. Tapi saya menawarkan satu peringatan: bahwa perang tidak selalu dimulai dengan niat jahat, tetapi sering dengan keyakinan bahwa tujuan membenarkan cara.
Jika manusia tidak belajar dari perang lama, senjata baru hanya akan mempercepat kehancuran. Dan dalam dunia yang semakin terhubung, tidak ada lagi konflik yang benar-benar jauh dari medan kehidupan kita. Semua sudah tampak di depan mata.
Dan perang masa depan, barangkali, bukan soal siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan apakah masih ada yang tersisa untuk diselamatkan? (Sal)