Jika Homo Deus memperlihatkan masa depan manusia yang dikepung algoritma, maka pertanyaan berikutnya menjadi tak terelakkan: manusia seperti apa yang sedang kita bentuk hari ini? Jawabannya sebagian besar ditentukan oleh dua institusi paling berpengaruh dalam hidup modern: pendidikan dan agama.
Keduanya, pada mulanya, lahir dari tujuan mulia. Pendidikan dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari ketidaktahuan. Agama hadir untuk memberi makna atas penderitaan dan keterbatasan. Namun dalam praktik sehari-hari, keduanya sering kali tergelincir menjadi sistem administrasi yang sibuk mengukur, menilai, dan mengontrol.
Sekolah modern sangat terobsesi pada hasil. Nilai, peringkat, sertifikat, dan akreditasi menjadi ukuran keberhasilan. Murid diajari cara menjawab soal, tetapi jarang diajak mempertanyakan mengapa pertanyaan itu penting. Pendidikan berubah menjadi pelatihan keterampilan, bukan latihan berpikir.
Dalam dunia kerja yang semakin dikuasai kecerdasan buatan, pola ini justru berbahaya. Keterampilan teknis cepat usang. Apa yang relevan hari ini bisa tidak berguna esok hari. Namun kesadaran diri, yaitu kemampuan memahami emosi, nilai, dan tanggung jawab akan tetap menjadi fondasi yang tak tergantikan.
Harari berulang kali menekankan bahwa pendidikan abad ke-21 seharusnya berfokus pada empat kemampuan utama: berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas (4C). Namun yang sering terlewat adalah satu kemampuan yang lebih mendasar: kemampuan menyadari diri sendiri. Tanpa kesadaran, berpikir kritis mudah berubah menjadi sinisme. Kreativitas bisa jatuh menjadi manipulasi. Kolaborasi berubah menjadi sekadar jaringan kepentingan.
Agama, di sisi lain, menghadapi krisis yang berbeda tetapi serupa. Ia sering diajarkan sebagai kumpulan aturan dan larangan, bukan sebagai perjalanan batin. Iman direduksi menjadi kepatuhan, bukan pemahaman. Akibatnya, agama gagal berdialog dengan perubahan zaman, dan justru defensif terhadap pertanyaan.
Kita melihat fenomena ini di ruang publik. Pertanyaan dianggap ancaman. Keraguan dicurigai sebagai pembangkangan. Padahal dalam sejarah spiritual, keraguan sering kali menjadi pintu menuju iman yang lebih dewasa.
Harari, sebagai seorang yang berada di luar tradisi keagamaan formal, justru mengingatkan hal yang sering dilupakan para penganut agama: bahwa iman tanpa refleksi mudah jatuh ke dalam fanatisme. Fanatisme, dalam bentuk apa pun, adalah musuh kesadaran.
Pendidikan dan agama, ketika sama-sama menekankan hafalan, melahirkan manusia yang patuh tetapi rapuh. Mereka tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika realitas tidak sesuai dengan buku teks atau kitab tafsir.
Fenomena ini menjadi semakin nyata di era digital. Informasi tersedia berlimpah, tetapi kebijaksanaan justru langka. Anak-anak dan remaja tumbuh dengan akses pengetahuan yang luas, tetapi tanpa peta makna. Mereka tahu banyak hal, tetapi tidak tahu mengapa harus peduli.
Di sinilah krisis makna itu muncul. Bukan karena manusia kehilangan iman atau pengetahuan, melainkan karena keduanya gagal menjawab kegelisahan eksistensial zaman ini: tentang identitas, tujuan hidup, dan tanggung jawab moral.
Harari melihat krisis ini sebagai salah satu ancaman terbesar abad ke-21. Manusia yang kehilangan makna mudah diarahkan, mudah dimanipulasi, dan mudah tergelincir pada ekstremisme—baik agama, ideologi, maupun teknologi.
Dalam konteks Indonesia, krisis ini memiliki wajah yang khas. Kita rajin membangun institusi pendidikan dan rumah ibadah, tetapi sering lupa membangun ruang dialog. Kurikulum padat, tetapi ruang refleksi sempit. Ceramah ramai, tetapi percakapan sepi.
Agama dan pendidikan berjalan sejajar, tetapi jarang saling menyapa.
Padahal, jika keduanya bertemu pada titik kesadaran, mereka bisa menjadi benteng terkuat peradaban. Pendidikan memberi alat berpikir, agama memberi arah etis. Tanpa alat, arah tak tercapai. Tanpa arah, alat menjadi berbahaya.
Harari tidak menawarkan kurikulum baru atau doktrin iman alternatif. Ia hanya mengajukan satu tuntutan sederhana, tetapi berat: manusia harus belajar memahami dirinya sendiri sebelum mencoba menguasai dunia.
Kesadaran diri, dalam pandangan ini, bukan soal meditasi semata, melainkan kemampuan mengamati pikiran, emosi, dan dorongan tanpa langsung dikendalikan olehnya. Inilah kualitas yang membedakan manusia dari mesin—dan seharusnya menjadi inti pendidikan dan spiritualitas.
Tulisan ini tidak akan berakhir dengan solusi praktis. Tapi ingin berakhir dengan pertanyaan. Sebab krisis makna tidak bisa diatasi dengan resep instan. Ia menuntut keberanian untuk berhenti sejenak, mendengarkan kegelisahan batin, dan mengakui bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan angka atau dalil.
Mungkin, sebagaimana disiratkan Harari, tugas terbesar pendidikan dan agama hari ini bukan mencetak manusia yang paling tahu, melainkan manusia yang paling sadar. Dan dalam dunia yang semakin bising, kesadaran itu justru menjadi bentuk kebijaksanaan yang paling langka. (Sal)