Jika Sapiens mengajak kita mencurigai gagasan kemajuan, maka pembacaan Yuval Noah Harari tentang agama dapat mengusik wilayah yang lebih sensitif: iman.
Bagi banyak orang, agama adalah wilayah sakral yang tak boleh disentuh oleh pisau analisis sejarah. Namun Harari justru masuk ke ruang itu dengan langkah perlahan, nyaris sopan, tetapi tajam.
Ia tidak memulai dengan pertanyaan apakah Tuhan ada atau tidak. Harari tahu, pertanyaan semacam itu sering berujung buntu. Ia memilih jalur lain: bagaimana agama bekerja dalam sejarah manusia, apa fungsinya, dan mengapa ia bertahan begitu lama, bahkan ketika banyak sistem sosial runtuh.
Dalam pandangan Harari, agama adalah sistem makna yang memungkinkan manusia hidup dalam ketidakpastian. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak terjangkau sains: tentang penderitaan, kematian, dan tujuan hidup. Di saat manusia purba menatap langit dan menyadari betapa rapuhnya diri, agama hadir sebagai pengikat harapan.
Namun di titik yang sama, agama juga menjadi narasi besar, sebuah mitos kolektif, yang memungkinkan kerja sama dalam skala luas. Ia menyatukan manusia yang tak saling mengenal, memberi legitimasi pada hukum, kekuasaan, dan moralitas. Tanpa agama, atau sistem makna sejenis, peradaban mungkin tak pernah tumbuh sebesar hari ini.
Masalah muncul ketika fungsi makna bergeser menjadi fungsi identitas. Ketika agama tak lagi ditanyakan, tetapi dibela mati-matian. Ketika iman berhenti menjadi ruang pencarian, lalu berubah menjadi tembok pemisah. Harari membaca sejarah agama dengan kacamata evolusi sosial.
Harari menunjukkan bahwa banyak konflik besar dalam sejarah manusia tidak terjadi karena perbedaan biologis, melainkan karena perbedaan cerita. Manusia rela membunuh bukan karena wajah atau bahasa yang berbeda, tetapi karena keyakinan bahwa “cerita kita” lebih benar, lebih suci, dan lebih berhak hidup.
Dalam konteks jurnalistik atau pewartaan yang apa-adanya, ini bukan sekadar refleksi teoretis. Kita menyaksikan sendiri bagaimana agama hadir di ruang publik sebagai alat mobilisasi massa, pembenaran kekerasan, atau legitimasi kekuasaan. Berita tentang konflik berlatar agama sering kali lebih cepat menyebar, lebih emosional, dan lebih sulit diluruskan oleh fakta.
Agama, ketika kehilangan dimensi kesadaran, berubah menjadi slogan.
Harari tidak menolak spiritualitas. Justru ia berkali-kali menekankan perbedaan antara agama sebagai institusi dan pengalaman spiritual sebagai kesadaran batin. Para nabi dan tokoh spiritual besar, dalam pembacaannya, bukanlah pendiri organisasi. Mereka adalah manusia-manusia yang mengalami lonjakan kesadaran, yang melihat dunia dengan kejernihan yang belum dimiliki zamannya.
Namun sejarah bekerja dengan cara lain. Setelah para nabi wafat, pengalaman batin yang hidup itu dibakukan menjadi hukum, ritual, dan doktrin. Pada titik itulah, agama mulai memerlukan penjaga—dan penjaga seringkali membutuhkan kekuasaan. Di sinilah kesadaran perlahan retak.
Kita bisa melihat gejalanya hari ini. Banyak orang rajin menjalankan ritual, tetapi kehilangan empati. Hafal ayat, tetapi mudah membenci. Tekun beribadah, tetapi abai pada ketidakadilan. Agama atau beragama tak lebih menjadi keterampilan mengingat, bukan latihan menyadari.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam satu tradisi. Ia bersifat lintas agama, lintas budaya. Harari menyebutnya sebagai kegagalan membedakan antara kecerdasan dan kesadaran. Kecerdasan mampu menghafal teks suci; kesadaran menuntut pemahaman, keheningan, dan refleksi.
Dalam dunia yang kian dikuasai algoritma, kecenderungan ini justru diperparah. Media sosial memberi panggung bagi kemarahan kolektif, bukan kebijaksanaan. Kutipan suci dipotong, dipelintir, dan dijadikan amunisi debat. Lalu yang viral atau kita viralkan/dakwahkan bukan kedalaman, melainkan keberpihakan.
Harari melihat ini sebagai bahaya laten. Bukan karena agama salah, melainkan karena manusia enggan berpikir ulang tentang cara beragama. Dalam 21 Lessons, ia mengingatkan bahwa masa depan umat manusia tidak ditentukan oleh siapa yang paling benar secara teologis, melainkan oleh siapa yang paling mampu bekerja sama menghadapi ancaman global.
Perubahan iklim, pandemi, krisis ekonomi, semua itu tidak mengenal batas agama atau negara. Namun respons kita sering kali terpecah oleh identitas sempit. Kita sibuk berdebat tentang surga, sementara bumi tempat kita berpijak semakin rusak.
Dalam konteks inilah, Harari seolah mengajukan pertanyaan sederhana namun tajam: untuk apa agama, jika ia gagal menjaga kehidupan?
Pertanyaan ini tentu terasa mengganggu. Namun justru di situlah letak nilainya. Ia memaksa kita membedakan antara iman sebagai pengalaman hidup dan agama sebagai sistem sosial. Iman yang hidup melahirkan welas asih; agama yang membeku melahirkan ketakutan.
Harari tidak menawarkan agama baru. Ia juga tidak mengajak manusia meninggalkan iman. Namun yang ia dorong adalah kesadaran: kemampuan melihat diri sendiri, tradisi sendiri, dan keyakinan sendiri dengan jujur. Dan kesadaran semacam ini menuntut kerendahan hati. Mengakui bahwa kebenaran yang kita pegang mungkin belum utuh. Bahwa Tuhan, jika memang ada, tidak pernah bisa dikurung dalam tafsir tunggal. Bahwa penderitaan manusia lain tidak pernah bisa dibenarkan atas nama doktrin.
Di titik ini, melalui tulisan ini saya mengajak mengambil jarak sejenak, terhadap apa pun, termasuk terhadap agama sebagai institusi sosial. Sebab pertanyaan tentang agama bukan soal menang atau kalah argumen. Ia soal keberanian bercermin.
Mungkin, sebagaimana diisyaratkan Harari, krisis terbesar agama hari ini bukan serangan dari luar, melainkan kegagalan dari dalam: kegagalan merawat kesadaran di tengah dunia yang berubah cepat.
Dan bila agama lahir untuk membangunkan manusia dari ketidaksadaran, maka tugas kita hari ini bukan sekadar mempertahankannya, melainkan menghidupkannya kembali—sebagai jalan pencarian, bukan benteng pertahanan.
Tulisan ini tidak untuk menutup perdebatan, bahkan sangat terbuka pada diskusi elegan, untuk dapat membuka satu kemungkinan: bahwa iman, jika ingin tetap relevan, harus berani berdialog dengan kenyataan. Dengan sejarah. Dengan sains. Dan, yang paling sulit, dengan dirinya sendiri. (Sal)