Kita terbiasa percaya bahwa sejarah manusia adalah kisah kemajuan. Dari gua ke gedung pencakar langit, dari batu ke silikon, dari mitos ke sains. Kita menyebut diri Homo sapiens, manusia bijak, seolah kebijaksanaan adalah konsekuensi alami dari perjalanan panjang itu. Namun Yuval Noah Harari, melalui Sapiens, justru mengajak kita mencurigai keyakinan tersebut.
Alih-alih menuturkan sejarah sebagai garis lurus menuju pencerahan, Harari memaparkannya sebagai rangkaian kebetulan, konflik, dan kesepakatan bersama yang rapuh. Ia menulis sejarah bukan untuk menenangkan, melainkan untuk mengganggu jalan pikiran kita selama ini. Membaca Sapiens serupa bercermin di kaca yang jujur: kita melihat wajah manusia apa adanya, yang katanya cerdas, tetapi juga mudah tertipu oleh ceritanya sendiri.
Dalam kacamata jurnalistik, ini adalah pembongkaran penting. Sebab publik sering diajak percaya bahwa kemajuan teknologi, ekonomi, dan politik otomatis membawa kemajuan moral. Padahal sejarah menunjukkan hal sebaliknya: kemajuan alat seringkali berlari lebih cepat daripada kedewasaan batin.
Harari mengawali kisahnya dengan satu tesis kunci: manusia unggul bukan karena fisik atau kecerdasan individual, melainkan karena kemampuan menciptakan dan mempercayai cerita bersama: bangsa, negara, uang, hukum, dan agama, yang mana semuanya adalah konstruksi imajiner yang disepakati secara kolektif. Tanpa kesepakatan itu, dunia modern tak akan berfungsi.
Uang, misalnya, tidak memiliki nilai intrinsik. Ia hanya bekerja karena kita semua sepakat mempercayainya. Negara berdiri bukan semata karena wilayah geografis, melainkan karena warganya percaya pada simbol, konstitusi, dan narasi kebangsaan. Demikian agama bertahan bukan hanya karena ajarannya, tetapi karena ia menyediakan makna yang melampaui kehidupan individual.
Namun kekuatan cerita inilah yang juga menjadi sumber bencana. Narasi yang menyatukan bisa berubah menjadi alat penindasan. Sejarah penuh dengan contoh bagaimana mitos superioritas ras, bangsa, atau agama melahirkan kekerasan sistematis. Perang, genosida, dan kolonialisme sering kali dibungkus oleh cerita-cerita luhur tentang misi suci atau kemajuan peradaban.
Di titik ini, Harari mengganggu kenyamanan kita. Ia tidak sedang menyerang agama atau ideologi tertentu, melainkan menunjukkan pola berulang: ketika manusia terlalu percaya pada ceritanya sendiri, ia berhenti mendengar sudut pandang cerita lain, hingga jatuh pandangan keliru atas realitas yang sebenarnya.
Sebagai jurnalis atau pembaca berita, kita akrab dengan pola ini. Setiap konflik selalu disertai narasi pembenaran. Setiap kekerasan memiliki cerita heroiknya. Fakta kerap diseleksi agar sesuai dengan keyakinan, bukan sebaliknya. Dalam konteks ini, Sapiens terasa seperti pengingat keras bahwa objektivitas bukan keadaan alami, melainkan hasil perjuangan intelektual.
Harari juga mengajak kita meninjau ulang apa yang disebut sebagai “kemajuan”. Revolusi Pertanian, misalnya, sering dipuji sebagai lompatan besar peradaban. Namun Harari bertanya dengan sinis: apakah kehidupan manusia benar-benar lebih baik setelahnya? Petani mungkin menghasilkan lebih banyak makanan, tetapi hidup mereka lebih melelahkan, lebih rentan penyakit, dan lebih terikat pada hierarki sosial.
Kemajuan, dalam pengertian ini, tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Ia seringkali hanya berarti populasi yang lebih besar dan sistem yang lebih kompleks. Pertanyaan tentang makna hidup justru menjadi semakin kabur. Pertanyaan semacam ini jarang muncul dalam wacana publik yang sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan inovasi teknologi. Kita merayakan angka, grafik, dan statistik, tetapi jarang berhenti bertanya: untuk siapa semua ini? Dan dengan harga apa kita berjuang dan mengorbankannya?
Harari tidak memberi jawaban normatif. Ia hanya menelanjangi asumsi kita. Dan mungkin di situlah kekuatan tulisannya. Ia tidak mengkhotbahi, tetapi memaksa pembaca agar berpikir ulang. Dalam konteks agama, Sapiens menawarkan pembacaan yang juga menggelisahkan. Agama dipahami sebagai sistem makna yang memungkinkan kerja sama skala besar.
Agama, mungkin, telah memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang tak mampu dijawab sains. Namun ketika agama membeku menjadi dogma, ia berisiko kehilangan ruh kesadarannya.
Sejarah mencatat bahwa para nabi dan tokoh spiritual besar tidak lahir sebagai penjaga institusi, melainkan sebagai pengganggu kemapanan.
Sebagaimana jalan hidup Buddha, Musa, Yesus, dan Muhammad. Mereka datang membawa kesadaran baru, bukan sekadar aturan. Namun setelah mereka tiada, ajaran itu sering kali dikodifikasi, dibakukan, dan dipertahankan dengan kekuasaan.
Harari tidak menertawakan iman, tetapi mengingatkan bahwa iman tanpa refleksi mudah berubah menjadi alat kekerasan. Pernyataan ini terasa relevan di dunia hari ini, ketika agama kerap hadir di ruang publik sebagai identitas politik, bukan sebagai sumber kebijaksanaan.
Di sinilah Sapiens menjadi cermin bagi masyarakat modern, termasuk kita. Kita hidup di zaman banjir informasi, tetapi miskin perenungan. Kita membaca berita tanpa sempat mencerna maknanya. Kita bereaksi cepat, tetapi jarang berpikir dalam. Harari seolah berkata: manusia modern tahu banyak hal, tetapi belum tentu memahami dirinya sendiri.
Lebih jauh, Sapiens menantang gagasan bahwa manusia adalah pusat semesta, yang dalam perspektif kosmik, keberadaan kita amat singkat dan rapuh. Spesies lain punah tanpa pernah menulis sejarahnya sendiri. Namun tidak ada jaminan bahwa manusia akan melalui jalan berbeda.
Kesadaran ini seharusnya melahirkan kerendahan hati. Tapi yang sering terjadi justru sebaliknya: kita bertindak seolah Bumi adalah properti pribadi, dan masa depan adalah hak eksklusif kita.
Maka Sapiens bukan sekadar buku sejarah. Ia adalah peringatan awal. Bahwa sebelum membicarakan masa depan, tentang Homo Deus, tentang manusia yang merasa setara dewa, kita perlu jujur membaca masa lalu dan kondisi kita hari ini.
Apakah kita sungguh lebih bijak daripada leluhur kita? Ataukah kita hanya memiliki alat yang lebih canggih untuk melakukan kesalahan yang sama? Di titik inilah saya mau berhenti sejenak. Bukan untuk memberi kesimpulan, melainkan untuk mengajukan jeda. Sebab berpikir, sebagaimana diingatkan Harari secara implisit, membutuhkan keberanian untuk tidak segera merasa benar.
Dan mungkin, pelajaran pertama dari Sapiens adalah bahwa menjadi manusia bukan soal merasa paling maju, melainkan berani mempertanyakan cerita yang selama ini kita yakini. (Sal)