Sulit mengabaikan pandangan seorang penulis yang buku pertamanya, Sapiens, laris secara global karena berhasil merangkum riwayat panjang umat manusia, lalu disusul Homo Deus yang berani membayangkan masa depan dunia. Yuval Noah Harari hadir bukan sekadar sebagai sejarawan, tetapi sebagai penafsir zaman. Ia membaca masa lalu untuk menjelaskan hari ini, sekaligus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tak nyaman tentang masa depan.
Bersikap kritis terhadap gagasan Harari tidak sama dengan bersikap antipati. Kritik intelektual seharusnya tidak berhenti pada latar belakang identitas penulis—entah karena ia berasal dari Israel, atau karena ia secara terbuka mengaku sebagai bagian dari komunitas LGBT. Bagi saya, nasihat Imam Ali tetap relevan: “Perhatikan apa yang dikatakannya, bukan siapa yang mengatakannya.” Menolak argumen Harari semata karena identitasnya justru berisiko membuat kita menyangkal kenyataan-kenyataan sehari-hari yang sudah, atau sedang, terjadi di sekitar kita.
Tulisan-tulisan Harari lahir dari proses panjang pengujian akademik. Ia bukan sekadar “asal bunyi” dalam menyampaikan argumen. Seorang pemikir liberal seperti Harari justru dikenal telaten membaca pola, kecenderungan, dan gejala. Dalam peribahasa Jawa, proses itu disebut niteni: mengamati secara saksama, berulang-ulang, hingga menemukan keteraturan. Seperti orang yang sering melihat langit mendung—lambat laun ia tahu, mendung tertentu hampir selalu berujung hujan. Bila mendung bertahan lama tanpa hujan, orang-orang BMKG menyebutnya “berawan”.
Niteni dalam bahasa modern bisa diterjemahkan sebagai membaca tren: membaca gejala sosial, membaca watak alam, membaca kecenderungan perilaku manusia yang membentuk dunia kita. Namun Harari tidak sedang meramal. Kata “ramalan” kerap diberi stigma negatif, bahkan dituduh sebagai bentuk kemusyrikan. Padahal yang dilakukan Harari adalah membaca data, sejarah, dan kecenderungan, lalu menarik kesimpulan rasional tentang kemungkinan masa depan.
Dari pembacaan itulah Harari menyoroti situasi politik dan teknologi global. Ia melihat bagaimana revolusi bioteknologi dan infoteknologi saling bertaut, membentuk jenis kekuasaan baru atas tubuh, pikiran, dan perilaku manusia. Ironisnya, perkembangan ini lebih banyak mengasah kecerdasan, bukan kesadaran.
Situasi ini mengingatkan kita pada praktik pendidikan kita yang menekankan hafalan ketimbang pemahaman. Seperti membangun rumah-rumah tahfiz yang berfokus pada menghafal Al-Qur’an, tetapi kerap abai pada upaya menggali makna dan hikmahnya.
Menghafal, pada dasarnya, adalah kerja kecerdasan. Masalahnya, hari ini kecerdasan manusia telah ditandingi, bahkan dilampaui, oleh komputer supercerdas. Sementara itu, kesadaran, yang dalam berbagai tradisi melahirkan figur nabi, maharesi, atau avatar, justru merupakan kualitas yang belum bisa direplikasi mesin. Mereka disebut demikian karena dianggap telah mencapai kesadaran paripurna, melampaui sekadar kepandaian kognitif.
Di sinilah menariknya Harari. Meski negaranya terus berada dalam konflik dengan dunia Muslim, sebagai seorang filsuf ia tak berhenti mempertanyakan dan mengingatkan bahaya yang mengintai umat manusia. Ia membayangkan dunia yang sarat konflik agama dan kepentingan, kini dipersenjatai teknologi baru: bioteknologi dan infoteknologi. Apakah kegelisahan itu bisa begitu saja kita sebut sebagai problem neurotik karena ia hidup di Israel? Atau justru cermin dari kenyataan global yang enggan kita akui?
Sejarah mencatat, konflik antar manusia telah berulang kali melahirkan tragedi kemanusiaan. Perhubungan antarbudaya yang gagal dipahami pernah berujung genosida dalam Perang Dunia I dan II. Maka tidak berlebihan jika sebagian pemikir memprediksi kemungkinan Perang Dunia III. Dalam konteks inilah Bumi kini sering disebut memasuki fase Antroposen: zaman ketika kerusakan dan ancaman kepunahan massal justru disebabkan oleh ulah manusia sendiri.
Dalam kalender kosmik, Bumi telah melewati berbagai fase kepunahan, sejak Ordovisium, Devon, Perm, Trias, hingga Kapur. Pada fase Kapur, kepunahan besar terjadi akibat bencana kimia, geologi, dan astronomi, yang mengakhiri dominasi dinosaurus. Namun Antroposen berbeda. Ini adalah kepunahan yang digerakkan oleh makhluk yang, menurut sejarah evolusi, berawal dari mikroba sekitar tiga miliar tahun lalu, lalu berevolusi—kun fayakun—menjadi manusia, makhluk yang merasa paling beradab, tetapi justru paling gegabah.
Karena itu, jika kepunahan Antroposen ingin ditunda atau bahkan dihindari, manusia membutuhkan panduan dan kesepahaman bersama. Harari menyebutnya sebagai pelajaran penting bagi abad ke-21. Kita tidak boleh menutup mata terhadap potensi penyalahgunaan sains yang dapat mengancam peradaban. Di saat yang sama, kita juga harus jujur mengakui bahwa sains memiliki kapasitas untuk menyelamatkan manusia.
Memang, sebuah ambivalensi yang terus diingatkan Harari. Harari bahkan pernah melontarkan kemungkinan bahwa sains dapat berfungsi layaknya agama baru: sebuah metodologi pencarian makna yang disiplin, jujur, dan terbuka. Seperti cinta, sains bisa menjadi jalan menuju transendensi—tujuan yang pada mulanya juga diemban agama.
Namun sejarah mengajarkan, baik agama maupun sains sama-sama rentan jatuh ke tangan penyalahgunaan, ketika keduanya dikuasai oleh kebodohan, fanatisme, dan keengganan untuk mendengar para filsuf—mereka yang pekerjaannya memang berpikir tentang hal-hal paling mendasar bagi kelangsungan hidup manusia.
Pada akhirnya memang persoalannya bukan memilih sains atau agama. Hal yang lebih mendesak adalah keberanian menerima kenyataan tentang bahaya yang mengintai umat manusia. Kita semua setara sebagai manusia biasa. Para nabi, maharesi, atau avatar telah lama tiada; yang tersisa hanyalah catatan dan ajaran mereka, beserta para pengikut yang tak jarang terjebak dalam fanatisme buta.
Karena itu, segala mitos dan dogma layak dipertanyakan. Setiap gagasan perlu diuji melalui pengamatan, percobaan, dan dialog terbuka. Gagasan yang lulus uji patut dikembangkan; yang gagal, sebaiknya ditinggalkan. Namun pertanyaan berikutnya adalah: gagasan mana yang layak diuji lebih dahulu?
Menurut Harari, kejelasan adalah kekuatan. Kita membutuhkan peta berpikir di tengah dunia yang semakin kabur. Melalui 21 Lessons for the 21st Century, Harari menawarkan ruang percakapan, setelah sebelumnya mengulas masa lalu lewat Sapiens dan menatap masa depan melalui Homo Deus. Dan barangkali, di titik inilah pesan Cak Lontong kembali relevan, sekaligus ironis: “Jangan lupa: mikir.” (Sal)