Anak, pada mulanya, adalah sebuah “rencana” yang lahir dari niat tulus dua insan sebagai calon ibu dan ayahnya. Rencana ini bukanlah sebuah titik statis, melainkan sebuah getaran harapan yang frekuensinya kian membesar karena dukungan energi dari orang-orang sekitar. Getaran itu pertama-tama dikuatkan oleh empat orang kakek dan neneknya, lalu beresonansi lebih dalam lagi melalui restu para buyut hingga leluhur sebelumnya (bao).
Tak berhenti di situ, vibrasi harapan ini terus meluas, menangkap energi positif dari para sahabat yang memahami niat mulia tersebut, serta dukungan moril dari saudara dan sanak famili. Seluruh keluarga besar, baik dari pihak laki-laki maupun perempuan, seolah-olah berpadu membentuk satu simfoni harapan yang kian menghebat. Dalam skala yang paling mikro—bahkan hingga ke tingkat alam quark atau partikel terkecil pembentuk realitas—getaran itu kian memuncak seiring langkah kaki yang mendekati gerbang pernikahan.
Dengan demikian, seorang anak yang hadir sebagai peristiwa biologis dari pertemuan fisik ayah dan ibunya, sebenarnya adalah hasil dari rangkaian panjang getaran doa yang telah disemai jauh sebelumnya. Getaran itu mula-mula terasa halus, tenang, dan nyaris tak terdengar, tetapi perlahan ia mengristal dan menguat. Ia dibesarkan oleh rintihan doa di sepertiga malam, dipertebal oleh bayangan masa depan yang cerah, serta dirajut dari keinginan-keinginan luhur yang disusun secara diam-diam dalam relung hati, sebagai persembahan dari madah cinta yang suci.
Seorang anak, sebelum ia benar-benar menghirup udara dunia, telah lebih dulu "dihidupkan" dalam percakapan-percakapan hangat di meja kumpul keluarga, dalam ruang-ruang tunggu doa para sesepuh, dan fenomena ini menunjukkan bahwa identitas seorang manusia yang lahir tidaklah tumbuh dalam ruang isolasi, melainkan rajutan dari memori kolektif yang ingin diteruskan. Kakek dan nenek tidak hanya menanti cucu sebagai teman bermain, melainkan sebagai simbol keberlanjutan sejarah keluarga, sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu yang hampir pudar dengan masa depan yang belum terjamah.
Karena itu, anak adalah getaran yang tidak berhenti pada dua insan saja. Sebab getaran yang meluas, beresonansi dalam lingkaran yang lebih besar: oleh kakek dan nenek yang menanti kelanjutan nasab, oleh sahabat yang menyimak rencana itu, hingga saudara yang bersiap menyambutnya dengan tangan terbuka.
Lebih jauh lagi, dalam perspektif sosial bahwa kelahiran seorang anak memang bukan urusan privat semata, melainkan sebuah "peristiwa kolektif" yang melibatkan struktur harapan masyarakat. Dalam skala kemasyarakatan yang lebih luas itu, anak menjadi simbol dari regenerasi peradaban. Ia adalah jawaban atas ketakutan manusia akan kepunahan. Masyarakat menaruh harapan pada setiap kelahiran sebagai tenaga baru, pemikir baru, dan penjaga nilai-nilai yang mereka yakini. Hal ini sejalan dengan konsep sosiologis tentang "kontrak antar-generasi", di mana kehadiran anak berfungsi menjaga keseimbangan ekonomi dan sosial suatu bangsa agar tidak runtuh dimakan waktu.
Lalu di balik kegembiraan kolektif itu, terselip sebuah tanggung jawab yang besar bagi kedua orang tuanya. Getaran harapan dari lingkaran luar tersebut, mulai dari teman hingga sanak famili, antara menjadi semacam energi, sekaligus beban yang harus dikelola dengan bijaksana. Harapan-harapan itu seringkali menjadi "suara-suara" yang ikut menentukan arah pertumbuhan sang anak kelak.
Mulai di sinilah transisi yang krusial terjadi. Dari sebuah rencana kolektif yang hingar-bingar, kembali menuju keheningan batin orang tuanya. Meskipun seluruh dunia ikut merayakan kehadirannya, pada akhirnya anak tetaplah merupakan "perjalanan tunggal" yang akan menemukan jalannya sendiri. Ia adalah tamu agung yang melewati pintu rumah orang tuanya, yang membawa rahasia kehidupannya sendiri, yang mungkin saja melampaui segala ekspektasi dan rencana-rencana yang pernah orang tua dan karibnya susun bersama di meja kumpul keluarga tadi.
Dalam proses regenerasi ini membawa kita pada satu kesadaran bahwa setiap anak yang lahir adalah pengingat bahwa kehidupan tidak pernah berhenti berputar, dan harapan adalah bahan bakar yang menjaga nyala api kemanusiaan tetap abadi. Sehubungan dengan itu, berdasarkan data dari United Nations Population Fund (UNFPA) dalam laporan State of World Population menegaskan bahwa kehadiran anak selalu berkelindan dengan ketahanan struktur sosial dan ekonomi. Di balik tangis pertama bayi, ada keberlanjutan generasi yang dipertaruhkan. Secara demografis, setiap kelahiran adalah investasi bagi masa depan peradaban, sebuah titik tumpu bagi stabilitas populasi yang memastikan dunia tetap berputar.
Pada getaran harapan itu di kala mencapai puncaknya ketika dua insan sudah duduk berdampingan sebagai pengantin, di kala satu hari yang sering disebut sebagai fase paling istimewa oleh yang berdua menjadi pusat gravitasi, menjadi seolah raja dan ratu dalam panggung kecil bernama resepsi. Lalu setelah ijab kabul diucapkan dengan getar suara yang sarat tanggung jawab, setelah tangan-tangan dijabat sebagai simbol restu, dan setelah senyum dibagikan sepanjang hari, malam pun tiba. Dari sanalah, di balik tirai privasi, kehidupan baru berpotensi bermula.
Kemudian siang berganti malam, malam berganti siang. Dari proses yang tampak sederhana dan alamiah itu, kemudian lahirlah sesuatu yang kita sebut sebagai “buah hati” yang sebening permata, sehalus harapan, sekaligus sekuat takdir. Ia yang kehadirannya adalah perwujudan konkret dari rencana yang dahulu, hanya semula berupa pelbagai kemungkinan di dalam doa-doa. Dari sesuatu yang belum ada menjadi ada, atau setidaknya, tampak ada di hadapan indra kita.
Tepat di titik inilah muncul sebuah pertanyaan filosofis yang mengguncang. Seperti yang pernah diungkapkan oleh sufi besar Mansur Al-Hallaj, “Dosa terbesar di alam semesta adalah ketika engkau merasa dirimu ada.” Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah guncangan bagi kesadaran kita bahwa benarkah kita benar-benar “ada”, ataukah keberadaan kita hanyalah ilusi yang dibangun oleh persepsi, memori, dan keterbatasan pikiran yang seringkali terjebak pada kulit luar realitas?
Sebagai anak, sebagai orang tua, atau sebagai bagian dari entitas besar bernama negara, kita sering merasa memiliki identitas yang kokoh dan permanen. Namun, jika kita menelusuri lapisan-lapisan eksistensi ini lebih dalam, identitas tersebut mungkin hanyalah susunan makna yang dirajut oleh relasi dan pengalaman masa lalu. Saya, sebagai anak manusia, mungkin tidak benar-benar “ada” dalam arti yang mutlak. Saya tak lebih sebatas perpanjangan dari pikiran dan perasaan orang tua saya, sebatas gagasan abstrak yang kemudian “mewujud nyata” dalam susunan daging dan tulang yang dalam sebuah persepsi disebut tubuh.
Dalam diskursus modern, gagasan ini menemukan resonansinya dalam pemikiran Steve Jobs, yang secara intuitif pernah berujar bahwa anak adalah “hati yang berjalan di luar tubuh orang tuanya.” Pernyataan ini menyiratkan sebuah keterikatan emosional yang melampaui batas fisik. Namun tentu saja gema yang lebih puitik dan mencerahkan datang dari seorang Kahlil Gibran, “Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.. Mereka datang melalui engkau, tetapi bukan darimu.”
Di sini, konsep kepemilikan luruh. Anak bukanlah properti, tetapi ia adalah titipan, atau sebuah perlintasan dari arus kehidupan yang jauh lebih besar dan lebih purba daripada kehendak manusia itu sendiri. Jika ditarik lebih dalam ke dalam cakrawala sains, kita semua hanyalah “pikiran” dalam frekuensi yang berbeda. Kita adalah getaran energi yang muncul dari pertemuan berbagai gaya semesta.
Ilmu fisika modern, melalui Albert Einstein dan persamaannya yang legendaris, E = mc^2, membuktikan bahwa massa dan energi adalah dua sisi dari koin yang sama. Manusia, dalam konteks ini, dapat dipahami sebagai “energi yang dibatasi”—energi semesta yang sementara waktu diberi bentuk, ruang, dan durasi.
Tubuh kita memiliki massa, pikiran kita memiliki arah, dan kesadaran kita bergerak dalam batas-batas linier. Dengan itu jika kita ingin melampaui batas itu, ibarat seperti seseorang yang bersikeras menggambar lingkaran yang lebih luas daripada papan tulis yang tersedia. Karena itu kita selalu terbentur pada keterbatasan fisik, waktu, dan kapasitas intelektual yang ada. Dalam tradisi spiritual Islam, keterbatasan inilah yang sering dikaitkan dengan upaya manusia untuk kembali kepada sumber cahaya. Sumber cahaya, yang mana tafsir tasawuf menyebutnya sebagai Nur Muhammad, simbol dari cahaya pertama yang menjadi asal-mula seluruh penciptaan (arketipe ciptaan).
Dalam kerangka ini, manusia berdiri tegak di antara dua kutub yang kontradiktif, antara sebagai makhluk yang terbatas secara ragawi, namun memiliki ruh yang senantiasa merindukan ketidakterbatasan. Dan inilah yang membedakan kita dari makhluk lainnya, konon katanya, bahwa manusia memiliki akal yang dapat mengangkat derajatnya di atas binatang, namun juga bisa membawa kelemahan yang membedakannya dari kemutlakan malaikat. Kita berada di tengah-tengah, sebagai jembatan antara naluri purba dan kesadaran ilahi, antara keterikatan pada bumi dan kerinduan pada langit.
Relasi manusia dengan Sang Pencipta pun sering dianalogikan seperti hubungan antara matahari dan sinarnya. Sinar bukanlah matahari, namun tanpa sinar, keberadaan matahari takkan pernah bisa dirasakan manfaatnya. Dalam bahasa filsafat, inilah emanasi atau pancaran dari sumber yang lebih tinggi. Manusia adalah pantulan dari keagungan-Nya, sebuah cermin yang menangkap cahaya, tapi bukan sumber cahaya itu sendiri.
Ketika saya menyambut kelahiran seorang keponakan di Batam, misalnya, adalah memang peristiwa sederhana di sudut kota tapal batas negeri, yang membuka kembali kesadaran saya bahwa kehidupan akan terus berulang dalam pola yang purba dan sakral akan sebuah rencana, lalu kelahiran, pertumbuhan, dan regenerasi. Di sana, di tengah hiruk pikuk kota, sebuah nyawa baru hadir senantiasa membawa harapan yang segar. Secara personal, saya pun mulai membayangkan atau merencanakan nama-nama bagi anak yang mungkin suatu hari akan hadir dalam hidup saya. Nama-nama itu bukan sekadar rangkaian fonetik, melainkan doa yang dipadatkan, harapan yang dibentuk, dan identitas yang ingin saya titipkan pada arus masa depan: Muhammad Yusuf Sulaiman Saladin, Muhammad Yaasin Dzulkarnaen Saladin, Zulaikha Nur Khurulaini Saladin, hingga Aisya Nur Fatimah Az-Zahra Saladin. Nama-nama yang membawa beban sejarah sekaligus impian akan kemuliaan.
Namun, di balik keindahan rencana itu, muncul kegelisahan yang menyelinap pelan. Apakah saya hanya akan menjadi pengulang siklus? Apakah saya hanya akan menjadi butiran air dalam arus besar bernama regenerasi tanpa benar-benar meresapi hakikat dari keberadaan itu sendiri? Ataukah sebatas manusia yang memiliki ruang untuk keluar dari pola otomatisasi alamiah ini dan memberikan makna yang berbeda?
Dalam banyak dialog film modern yang merekam kegelisahan generasi millennial dan Gen-Z, seringkali muncul nada skeptis terhadap institusi pernikahan. Ada yang menyebutnya sebagai keputusan yang keliru, sebuah belenggu, atau bahkan tindakan "bodoh" di tengah dunia yang kian rapuh. Namun, pertanyaan yang lebih esensial bagi saya adalah: jika saya memilih untuk mencintai dan melahirkan kehidupan baru dianggap sebagai sebuah "kebodohan", apakah saya bersedia menjadi "bodoh" demi sesuatu yang bermakna?
Mungkin, di sanalah letak keberanian yang sesungguhnya. Keberanian untuk tetap memilih, untuk tetap mencintai, dan untuk tetap menanam benih harapan di tengah tanah ketidakpastian. Menjadi orang tua bukan sekadar soal biologi, melainkan soal kesediaan untuk menjadi "jalan" bagi jiwa lain yang ingin mengenal dunia. Dan di ujung kesunyian malam-malam panjang yang hening, pertanyaan yang paling jujur pun terkadang muncul: siapa sih yang sebenarnya saya rindukan? Apakah ia seorang sosok yang nyata, ataukah ia hanyalah bayangan dari kerinduan terdalam saya akan kebersamaan dalam arti kepulangan?
Memikirkan ini mungkin tidak memberikan jawaban final yang memuaskan. Hanya boleh dikatakan dan dimaksudkan untuk membuka ruang dialog diri tentang sebuah ruang bagi saya untuk merenungkan kembali bahwa menjadi manusia bukan sekadar tentang fakta bahwa kita "ada", melainkan tentang proses terus-menerus dalam mempertanyakan tujuan dari keberadaan itu sendiri.
Barangkali, kita semua memang hanyalah getaran yang dipinjamkan sejenak oleh semesta untuk merasakan cinta, untuk belajar tentang kehilangan, dan pada waktunya nanti dengan penuh kesadaran, kita akan kembali pulang ke sumber segala getaran. (Sal)