Bagaimana konsep Tuhan berubah sepanjang sejarah manusia, siapa yang membentuknya, kapan pergeseran besar itu terjadi, di mana akar-akar perubahan tersebut bermula, mengapa ia terus berevolusi, dan bagaimana hal itu memengaruhi kehidupan modern, adalah pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicari dan menjadi inti pembacaan terhadap gagasan ketuhanan melalui karya Karen Armstrong dalam buku A History of God. Armstrong menelusuri lebih dari 4.000 tahun perjalanan spiritual manusia dari politeisme kuno hingga religiositas kontemporer, memperlihatkan bahwa gagasan tentang Yang Ilahi tidak pernah statis, melainkan sebuah pencarian yang terus berdenyut mengikuti detak jantung peradaban.
Perjalanan ini bermula dari tanah Kanaan yang berdebu, di mana langit dipenuhi oleh banyak wajah dewa. Sejumlah temuan arkeologi dan kajian sejarah agama menunjukkan bahwa masyarakat Israel kuno tidak langsung menganut monoteisme. Dalam lanskap kepercayaan Kanaan, Yahweh pernah dipahami sebagai salah satu dari sekian banyak dewa yang disembah, berdampingan dengan figur seperti Baal, sang penguasa badai, dan Asherah, dewi kesuburan. Di beberapa prasasti, seperti yang ditemukan di Kuntillet Ajrud, bahkan menyebut kemungkinan ada relasi simbolik antara Yahweh dan Asherah, meskipun hal ini masih diperdebatkan di kalangan akademisi hingga hari ini. Temuan ini memberikan gambaran bahwa pada mulanya, Yahweh adalah dewa perang suku yang bersaing di tengah panteon dewa-dewi regional.
Armstrong mencatat bahwa monoteisme yang ketat baru menguat setelah peristiwa Pembuangan Babilonia pada abad ke-6 SM, ketika krisis identitas memaksa bangsa Israel merumuskan ulang keyakinannya. Di tengah keputusasaan pengasingan, konsep Tuhan yang lokal dan terbatas berubah menjadi Tuhan yang universal dan melampaui batas geografis. Dalam salah satu wawancaranya, Armstrong menyatakan, “Religious ideas do not drop from the sky, they develop over time in response to historical circumstances” (Gagasan-gagasan keagamaan tidak jatuh begitu saja dari langit, mereka berkembang dari waktu ke waktu sebagai respons terhadap keadaan sejarah).
Gagasan ini menegaskan bahwa wahyu, dalam pemahaman kesejarahan, seringkali berkelindan erat dengan konteks sosiopolitis serta pergulatan eksistensial yang dialami oleh manusia pada zamannya. Namun, pandangan ini tentu saja tidak diterima semua pihak. Sejumlah teolog konservatif berpendapat bahwa monoteisme sudah menjadi inti ajaran sejak awal, hanya saja praktiknya menyimpang karena pengaruh budaya sekitar. Mereka merujuk pada teks-teks kitab suci sebagai bukti konsistensi wahyu ilahi, memandang bahwa evolusi yang terjadi bukanlah pada esensi Tuhan, melainkan pada pemurnian iman umat-Nya dari polusi sinkretisme.
Memasuki era Milenium pertama, perdebatan tentang sifat ketuhanan juga tampak dalam sejarah Kekristenan awal. Sosok Yesus Kristus pada awalnya lebih banyak dipahami sebagai guru spiritual (Rabbi) atau nabi dalam tradisi Yahudi yang menekankan etika dan keadilan sosial. Namun, pemaknaan terhadap dirinya berkembang pesat setelah kematiannya, terutama melalui tulisan-tulisan Paulus dari Tarsus yang mulai merumuskan signifikansi kosmik Kristus bagi bangsa-bangsa non-Yahudi.
Transformasi pemaknaan ini mencapai puncaknya pada abad ke-4. Penetapan resmi bahwa Yesus adalah Tuhan yang setara dengan Bapa (homoousios) terjadi dalam Konsili Nicea tahun 325 M. Keputusan ini tidak lepas dari dinamika politik Kekaisaran Romawi di bawah Konstantinus Agung, yang membutuhkan kesatuan doktrin untuk menjaga stabilitas imperiumnya yang mulai retak. Sebagian sejarawan melihat konsili ini sebagai hasil kompromi teologis dan politik antara faksi Arianisme dan Athanasianisme.
Dan bahkan Gereja arus utama menegaskan bahwa keputusan tersebut dipandu oleh Roh Kudus, bukan sekadar hasil voting manusia. Seorang teolog Kristen, misalnya, pernah menegaskan, “The Council did not invent Christ’s divinity.. it clarified what believers already experienced” (Konsili tersebut tidak menciptakan keilahian Kristus.. ia hanya memperjelas apa yang sesungguhnya telah dialami oleh para beriman).
Bagi mereka, doktrin ini bukanlah sebuah penemuan baru, melainkan sebuah artikulasi formal, sebuah upaya untuk merumuskan secara sistematis pengalaman spiritual mendalam dari komunitas yang telah menyembah Kristus sejak masa para rasul.
Beberapa abad kemudian, di padang pasir Arabia, konsep ketunggalan Tuhan mencapai bentuknya yang paling murni. Dalam tradisi Islam, konsep Tuhan hadir dalam bentuk yang sangat transenden dan non-antropomorfis melalui ajaran Nabi Muhammad. Tuhan (Allah) dipahami sebagai entitas mutlak, Laisa kamislihi syai’un, tidak menyerupai apa pun dan tidak terjangkau oleh imajinasi material manusia.
Seperti dicatat Armstrong bahwa pemahaman ini juga berkembang dalam sejarah, seiring dengan persentuhan Islam dengan filsafat Yunani dan tradisi Persia. Tradisi rasional seperti yang dikembangkan Ibnu Sina mencoba menjelaskan Tuhan melalui filsafat "Wajib al-Wujud" (Wujud yang Niscaya), sementara para sufi seperti Ibnu Arabi menekankan pengalaman batin melalui konsep Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud), di mana Tuhan tidak hanya jauh di singgasana-Nya, tetapi juga “lebih dekat dari urat leher.”
Relasi antara Tuhan dan manusia ini pun kemudian mewujud dalam gerakan massa. Peristiwa modern seperti Revolusi Iran 1979 menunjukkan bagaimana konsep Tuhan juga dapat berfungsi sebagai kekuatan sosial-politik yang dahsyat. Di satu sisi, agama menjadi sumber inspirasi etika, martabat manusia, dan ilmu pengetahuan. Lalu di sisi lain juga bisa menjadi alat mobilisasi kekuasaan dan justifikasi ideologis yang bahkan kaku.
Ketegangan antara otak/logos dan hati/mitos ini terus berlanjut. Sepanjang abad pertengahan, muncul dua arus besar dalam memahami Tuhan. Para filsuf skolastik seperti Thomas Aquinas dengan Quinque Viae-nya (Lima Jalan) dan Maimonides dalam tradisi Yahudi berusaha menjelaskan Tuhan melalui logika aristotelian dan argumentasi rasional. Bagi mereka, keberadaan Tuhan dapat dibuktikan melalui nalar yang jernih.
Sementara itu, para mistikus dari berbagai tradisi, dari Meister Eckhart hingga Jalaluddin Rumi menolak pendekatan rasional semata. Bagi kaum mistikus, mendefinisikan Tuhan dengan logika ibarat mencoba menangkap samudera dalam sebuah cangkir. Armstrong sendiri cenderung melihat nilai penting dalam pendekatan mistik ini sebagai penawar bagi dogmatisme. Ia menulis, “If we think that God is simply an objective fact, we are likely to create a God in our own image” (Jika kita menganggap bahwa Tuhan hanyalah sebuah fakta objektif, kita cenderung menciptakan sosok Tuhan berdasarkan citra diri kita sendiri).
Dalam pandangan mistik, Tuhan bukanlah sebuah objek yang bisa didefinisikan secara rasional, melainkan sebuah "Ketiadaan" yang justru memenuhi segala sesuatu, sebuah entitas absolut yang hanya bisa didekati melalui gerbang keheningan.
Namun kritik muncul dari kalangan rasionalis modern yang menilai pendekatan mistik terlalu subjektif, kabur, dan sulit diverifikasi secara empiris. Mereka berargumen bahwa klaim mistik seringkali menjadi pelarian dari tanggung jawab intelektual untuk menjelaskan fenomena dunia secara nyata.
Pergeseran kemudian, yang paling radikal terjadi ketika fajar Pencerahan menyingsing di Eropa. Memasuki era ini, tokoh-tokoh seperti Isaac Newton dan Rene Descartes menggeser peran Tuhan menjadi sekadar pencipta awal dalam kerangka deisme, bak seorang "Tukang Jam" yang merancang semesta yang mekanis, lalu membiarkannya berjalan sendiri tanpa intervensi.
Kemudian datanglah Friedrich Nietzsche mengguncang dunia pada abad ke-19 dengan pernyataannya yang provokatif bahwa “Tuhan telah mati,” yang ia maksudkan bukanlah selebrasi perayaan, tetapi sebagai ungkapan kegetiran atas runtuhnya otoritas moral tradisional dan hilangnya titik pusat absolut di Barat akibat sekularisme. Di saat yang hampir bersamaan, Karl Marx juga menyebut agama sebagai "candu", sementara Sigmund Freud melihat Tuhan sebagai proyeksi kebutuhan psikologis manusia akan sosok ayah yang melindungi (super-ego).
Pandangan-pandangan ini menuai dukungan dan pertentangan yang tajam. Sebagian menganggapnya sebagai pembebasan intelektual yang memutus rantai takhayul, sementara yang lain melihatnya sebagai awal dari krisis spiritual modern dan nihilisme yang menghantui manusia urban. Kehilangan "Langit yang Sakral" membuat manusia harus memikul beban makna di bahunya sendiri.
Lalu kemudian apa yang bisa disimpulkan dari perjalanan panjang selama empat milenium ini? Sejarah menunjukkan secara benderang bahwa konsep Tuhan tidak hadir dalam ruang hampa. Ia tumbuh, berubah, dan beradaptasi seiring perubahan sosial, politik, dan intelektual manusia. Tuhan selalu "berbicara" dalam bahasa zaman-Nya. Maka pada titik inilah kritik Armstrong menjadi sangat relevan ketika manusia membekukan satu konsep Tuhan, berarti mengubah-Nya menjadi dogma yang mati, dan menganggapnya final, di situlah potensi konflik dan kekerasan atas nama kebenaran muncul.
Sementara para penganut agama tetap meyakini bahwa di balik seluruh dinamika sejarah yang cair itu, bahwa ada kebenaran ilahi yang tidak berubah dan abadi. Hanya saja, pemahaman manusialah yang terbatas dan terus berkembang. Tuhan tetaplah Sang Absolut, namun persepsi kita tentang-Nya selalu relatif terhadap kapasitas kita sebagai makhluk sejarah.
Maka pertanyaannya bagi kita hari ini barangkali bukan sekadar apakah Tuhan berubah, melainkan sejauh mana manusia mampu memahami yang tak terbatas dengan bahasa dan pengalaman yang terbatas? Di abad ke-21, ketika teknologi kecerdasan buatan, ancaman krisis iklim, dan perubahan sosial yang disruptif menguji batas-batas kemanusiaan, barangkali tantangan terbesar kita bukan lagi menemukan definisi Tuhan yang baru secara teologis.
Tantangan sesungguhnya adalah menemukan cara baru untuk menghadirkan nilai-nilai ketuhanan, seperti kasih yang tanpa syarat, keadilan yang tidak memihak, dan empati yang melintasi sekat dalam kehidupan nyata yang kian retak. Mungkin yang berubah dalam lintasan sejarah ini bukan Tuhan itu sendiri, melainkan cara manusia melihat-Nya, atau yang lebih dalam lagi, bagaimana cara manusia memahami dirinya sendiri melalui cermin keilahian tersebut.
Sejarah Tuhan, pada akhirnya, adalah sejarah tentang upaya manusia untuk menjadi lebih manusiawi. (Red)